Negosiasi Selat Hormuz Ulet, Harga Minyak Dunia Kembali Mendidih Lebih 1

Negosiasi Selat Hormuz Ulet, Harga Minyak Dunia Kembali Mendidih Lebih 1

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:47
share

Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 1 pada akhir perdagangan Jumat (7/8), di tengah ketidakpastian negosiasi pengendalian dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Perkembangan tersebut membuat pasar kembali mengkhawatirkan keberlanjutan gangguan pasokan energi global akibat konflik Iran dan Amerika Serikat (AS).

"Pergerakan sentimen pasar seperti roller coaster terjadi karena sinyal mengenai potensi kesepakatan pada pekan ini. Namun, pasar masih belum mengetahui apa yang sebenarnya harus terjadi agar kesepakatan tersebut dapat tercapai," ujar Pendiri Penyedia Analisis Pasar Minyak Vanda Insights Vandana Hari dikutip dari Reuters, Sabtu (8/8/2026).

Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak Brent ditutup naik USD1,06 atau 1,3 menjadi USD83,55 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 89 sen atau 1,15 menjadi USD78,18 per barel.

Baca Juga:Gejolak Baru di Timur Tengah, Harga Minyak Meroket Nyaris 4

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga kedua minyak acuan itu melonjak lebih dari USD3 per barel pada perdagangan Kamis (7/8). Penguatan dipicu kabar bahwa Iran sedang mengkaji rancangan undang-undang yang melarang kapal berbendera AS dan Israel melintasi Selat Hormuz.Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut.

Harga minyak sempat melemah pada awal pekan ketika peluang penyelesaian konflik Iran-AS terlihat semakin besar. Namun, perubahan perkembangan negosiasi kembali meningkatkan volatilitas di pasar energi.

Meskipun menguat pada akhir perdagangan Jumat, Brent masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan lebih dari 8. Adapun WTI berpotensi membukukan penurunan lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini.

Iran dan Oman dilaporkan telah menyepakati rute yang akan digunakan kapal-kapal untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, belum jelas apakah AS akan menerima ketentuan tersebut, termasuk apakah kapal berbendera AS atau kapal yang menuju pelabuhan AS diperbolehkan melintas.

Pasar sedang mencoba menilai apakah kesepakatan Iran-Oman akan memungkinkan kapal berbendera AS untuk melintasi Selat Hormuz. "Apakah kapal milik AS dapat melintas? Apakah kapal yang menuju pelabuhan AS juga dapat melintas?" ujar Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Ketidakpastian juga muncul karena Iran disebut meminta biaya sebesar 5-7 dari nilai kargo kepada kapal-kapal yang menggunakan Selat Hormuz. Oman membahas biaya sekitar 3, sedangkan Washington menginginkan agar tidak ada biaya yang dikenakan.Baca Juga:Impor Minyak Mentah Arab Saudi oleh AS Turun hingga Nol, Pertama Kali sejak 1985

Empat sumber industri mengatakan kesepakatan yang diusulkan akan sulit diterapkan karena sanksi AS dan ketentuan asuransi yang dapat membatasi pembayaran. Bjarne Schieldrop dari SEB Research menilai struktur kesepakatan Iran-Oman saat ini memberikan terlalu banyak kewenangan kepada Iran sehingga sulit diterima secara politik oleh Presiden AS Donald Trump.

"Struktur kesepakatan Iran-Oman dalam bentuknya saat ini dan kewenangan yang diberikan kepada Iran bukanlah sesuatu yang dapat diterima Trump secara politik. Trump akan menghadapi kritik politik yang berat di dalam negeri jika menerimanya," ujar Schieldrop.

Mitra di Again Capital, John Kilduff mengatakan pembukaan penuh Selat Hormuz menjadi faktor penting bagi pasar energi global. "Kita membutuhkan selat tersebut untuk dibuka sepenuhnya," ujarnya. Dia menegaskan ketidakpastian mengenai hasil perang dan waktu berakhirnya konflik membuat pelaku pasar minyak tetap cemas.

Topik Menarik