Kenapa Setelah Makan Sering Mules dan Ingin BAB? Ini Penyebabnya
JAKARTA, iNews.id - Sebagian orang mungkin pernah merasakan keinginan buang air besar (BAB) sesaat setelah selesai makan. Kondisi ini ternyata memiliki penjelasan medis dan dikenal sebagai gastrocolic reflex atau refleks gastrokolik.
Dokter Spesialis Gizi Klinik (Sp.GK) sekaligus Ahli Ilmu Faal Olahraga Klinis (AIFO-K), dr S Dian Rachmawati menjelaskan refleks gastrokolik merupakan respons alami tubuh ketika lambung terisi makanan. Kondisi tersebut merangsang usus besar untuk berkontraksi sehingga memunculkan dorongan untuk BAB.
“Ada penjelasan medisnya lho. Baru bangettt beres makan, ehhh langsung mules mau BAB??! Ini namanya gastrocolic reflex, respons alami saat lambung terisi makanan dan merangsang usus besar berkontraksi. Jadi, bukan makanan yang baru dimakan langsung keluar, ya!,” tulis dr Dian di akun Instagramnya.
Dia menerangkan, intensitas refleks gastrokolik berbeda pada setiap orang. Ada yang sering merasakan dorongan BAB setelah makan, tetapi ada pula yang jarang mengalaminya.
Perbedaan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari respons usus, pola makan, hormon, hingga tingkat sensitivitas sistem pencernaan masing-masing individu.
Orang dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus juga cenderung lebih sensitif terhadap refleks tersebut. Akibatnya, mereka lebih mudah mengalami mulas dan dorongan BAB setelah makan.
“Orang dengan IBS (Irritable Bowel Syndrome atau sindrom iritasi usus) juga bisa lebih mudah mules dan ingin BAB setelah makan,” ujar dia.
Lantas, apakah sering BAB setelah makan menandakan sistem pencernaan dalam kondisi sehat?
dr Dian menegaskan, keinginan BAB setelah makan tidak otomatis menjadi indikator kesehatan pencernaan. Frekuensi BAB normal pada orang dewasa umumnya berkisar antara tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu.
Sebab itu, kesehatan pencernaan tidak hanya dinilai dari seberapa sering seseorang buang air besar. Konsistensi feses, rasa nyaman saat BAB, serta ada atau tidaknya keluhan lain juga perlu diperhatikan.
Selama feses memiliki konsistensi normal, tidak disertai rasa nyeri, dan tidak ada keluhan lain, keinginan BAB setelah makan umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Namun, masyarakat tetap perlu mewaspadai perubahan pola BAB yang disertai gejala tertentu. Di antaranya diare berkepanjangan, darah pada feses, nyeri perut berat, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Jika mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. “Kesehatan pencernaan bukan cuma soal frekuensi BAB!,” ujar dr Dian.









