5 Latar Belakang Kerusuhan Pecah di Prancis dan Menyebar ke Seluruh Eropa
Kaum muda di berbagai negaraEropa—termasuk Spanyol, Prancis, dan Portugal—turun ke jalan untuk memprotes kondisi sekolah yang memprihatinkan serta krisis biaya hidup yang kian meluas.
5 Latar Belakang Kerusuhan Pecah di Prancis dan Menyebar ke Seluruh Eropa
1. Jam Sekolah yang Terlalu Panjang dan Kekurangan Guru
Melansir The Guardian, di Prancis, para siswa sekolah menengah terlibat bentrok dengan polisi dalam aksi protes yang kerap diwarnai kekerasan. Mereka memprotes jam sekolah yang terlalu panjang, kekurangan guru, ruang kelas yang rusak, serta sistem penerimaan universitas yang tidak transparan. Para siswa sering kali kehilangan waktu belajar selama berbulan-bulan karena posisi guru yang kosong tidak segera diisi.Demonstran lain turut bergabung dalam aksi para pelajar untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap kenaikan biaya hidup, termasuk lonjakan harga bahan bakar yang dipicu oleh pengeboman oleh AS, yang menyebabkan Selat Hormuz praktis tertutup.
Konfederasi Umum Buruh (CGT), salah satu serikat pekerja terbesar di Prancis, mendukung aksi protes tersebut dan menuntut penurunan harga, peningkatan dana pensiun, serta kenaikan upah.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kini mendekati akhir masa jabatannya di Istana Élysée setelah menjabat selama dua periode.
2. Harga Rumah yang Meroket di Spanyol dan Portugal
Di Spanyol, tepatnya di seberang pegunungan Pyrenees, para aktivis turun ke jalan pada bulan September untuk memprotes harga perumahan.Aksi ini dipicu oleh pengusiran seorang wanita berusia 87 tahun dari rumahnya setelah sebuah dana investasi menaikkan harga sewanya hingga 230. Maricarmen Abascal meninggal dunia dua minggu kemudian setelah sempat dirawat di rumah sakit.Para pengunjuk rasa menuntut penurunan harga sewa, penghentian pengusiran paksa, serta pelarangan bagi dana investasi untuk membeli properti.
Tuntutan serupa juga disuarakan di Portugal—negara tetangga di Semenanjung Iberia—pada hari Sabtu, di mana ratusan orang berkumpul di pusat kota Lisbon.
Menurut data resmi, harga perumahan di Portugal melonjak 124 antara tahun 2015 dan 2024—hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata di Uni Eropa.
Anggaran rumah tangga yang kian tertekan juga menjadi isu utama dalam aksi unjuk rasa di Milan.Aksi yang berlangsung pada hari Sabtu itu awalnya berjalan damai, namun berakhir dengan kericuhan saat sejumlah perusuh bertopeng melemparkan batu, bongkahan batu trotoar, dan benda-benda lainnya ke arah polisi antihuru-hara, serta membakar barikade yang dibuat dari meja-meja bar. Sementara itu, aksi protes di Albania yang menentang Perdana Menteri Edi Rama telah memasuki hari keenam pada hari Minggu.
Para pengunjuk rasa menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap korupsi yang terjadi, kurangnya lapangan kerja, serta standar pendidikan yang buruk.
3. Biaya Hidup yang Terus Melonjak
Aksi protes terkait pendidikan di Prancis dimulai pada akhir September, satu minggu setelah tahun ajaran baru dimulai.Namun, demonstrasi tersebut kian intensif dan mencapai puncaknya pada hari Sabtu.
Hari Sabtu juga menjadi awal dari aksi protes terkait biaya hidup di Italia, Portugal, dan Belgia.
Di Albania, aksi protes telah berlangsung sejak musim panas, dipicu oleh proyek pembangunan kawasan pesisir mewah yang didukung oleh Jared Kushner, menantu Donald Trump.
4. Insiatif dan Kebijakan untuk Redam Demonstrasi
Di Prancis, pemerintah menyatakan akan mengerahkan 3.000 guru pengganti tambahan untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar, serta melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan di sekolah.Pemerintah juga membatalkan rencana kenaikan biaya pendaftaran di beberapa universitas, yang sebelumnya sempat diumumkan dalam anggaran tahun depan.Aksi protes terkait harga bahan bakar pada pertengahan September mendorong pihak Istana Élysée untuk mengumumkan bahwa pemerintah akan meningkatkan subsidi bensin bagi industri-industri tertentu.
Di Spanyol, Perdana Menteri dari kubu sosialis, Pedro Sánchez, berupaya mengesahkan undang-undang perumahan darurat yang bertujuan melindungi penyewa di pasar sewa properti.
Kegagalan undang-undang tersebut akibat penolakan dari partai-partai sayap kanan dan kanan jauh di Kongres, mendorong Sánchez untuk mempercepat pemilihan umum menjadi tanggal 29 November. Ia menyatakan kepada publik bahwa dirinya membutuhkan "mayoritas progresif yang lebih luas" untuk dapat meloloskan reformasi baru.
5. Krisis Akan Terus Berlanjut
Macron dijadwalkan untuk menyampaikan pidato melalui televisi pada Minggu malam, setelah mengadakan rapat krisis dengan sejumlah menteri utama.Menteri Dalam Negeri, Laurent Nuñez, mengisyaratkan bahwa pemerintah Prancis tidak bersedia memberikan konsesi lebih lanjut. Ia menyalahkan para pengunjuk rasa dari kelompok "sayap kiri jauh" serta "para kriminal yang melakukan penjarahan dan perusakan" terhadap berbagai bangunan di seluruh Prancis. Negara tersebut akan menyelenggarakan pemilihan umum pada April 2027.
Protes di Spanyol bisa berakhir sebelum pemilihan umum berlangsung, asalkan pemerintah mampu meloloskan setidaknya sebagian dari dekret perumahannya melalui dewan permanen kongres—sebuah badan khusus yang beroperasi saat parlemen sedang tidak bersidang. Baik partai sosialis pimpinan Sánchez maupun Partai Rakyat yang berhaluan konservatif telah berjanji untuk membangun lebih banyak hunian dan memprioritaskan sektor perumahan jika mereka memenangkan pemilihan umum bulan depan.








