Sindir Kerusuhan di Prancis, Iran: Aliansi Jahat Akan Tuai Akibat Perbuatannya Sendiri

Sindir Kerusuhan di Prancis, Iran: Aliansi Jahat Akan Tuai Akibat Perbuatannya Sendiri

Global | sindonews | Senin, 19 Oktober 2026 - 14:53
share

Iran memperingatkan Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa mereka yang berada di balik "aliansi jahat" pada akhirnya akan menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka sendiri, di tengah kerusuhan yang meluas di Prancis.

Dalam sebuah unggahan di platform X, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengkritik Macron karena menerapkan standar ganda terhadap aksi protes.

Ia membandingkan dukungan Macron pada bulan Januari lalu—yang menyerukan "perkumpulan damai tanpa rasa takut akan hukuman" di Iran—dengan respons Macron terhadap kerusuhan yang sedang berlangsung di Prancis saat ini.

"Pada bulan Januari lalu, Anda menganjurkan 'perkumpulan damai tanpa rasa takut akan hukuman' bagi mereka yang menyerang pusat penegak hukum dan institusi publik kami atas perintah pihak asing yang berniat jahat," tulis Baghaei, yang ditujukan kepada Macron, dilansir Press TV.

Namun, ia menambahkan, Macron dengan cepat menyatakan bahwa perusakan dan serangan terhadap institusi negara di Prancis tidak akan ditoleransi, dan mereka yang bertanggung jawab akan segera dijatuhi hukuman.

Juru bicara Iran tersebut juga menyinggung pesan Macron kepada presiden AS sebelum perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari, di mana pemimpin Prancis itu sempat mengatakan, "Kita bisa melakukan hal-hal besar terkait Iran."

"Segera menjadi jelas bahwa 'hal-hal besar' versi Anda ternyata berarti bersekutu dengan kampanye agresi dan kekejaman yang pada akhirnya melanda kawasan tersebut dan dunia," tegas Baghaei.

Pada akhir Desember, aksi protes pecah di Iran, dipicu oleh tekanan ekonomi yang meningkat dan lonjakan harga. Pada tanggal 8 dan 9 Januari, aksi protes berubah menjadi kekerasan, dipicu oleh campur tangan asing secara terang-terangan—terutama pernyataan dari Presiden AS Donald Trump, yang menyerukan kepada para perusuh untuk merebut institusi negara dan menggulingkan pemerintahan.

Menurut Pusat Media Kehakiman Iran, kerusakan luas terjadi di seluruh negeri, dan ribuan warga tak berdosa serta aparat keamanan gugur.Dalam unggahannya, Baghaei juga menyatakan bahwa siklus krisis kini telah sampai di depan pintu rumah Macron sendiri.

Ia menambahkan, di saat seruan “tidak ada raja” bergema di seluruh Amerika, ada baiknya presiden Prancis itu mengingat bahwa “sejarah tidak hanya duduk diam di dekat jendela yang dibuka oleh aliansi jahat, sambil menyaksikan dunia terbakar.”

Juru bicara Iran tersebut menekankan bahwa sejarah terkadang bisa menghancurkan jendela itu sendiri, dan membalikkan kobaran api “langsung kembali ke rumah pihak yang menciptakannya.”

Ia menutup pernyataannya dengan mengutip penulis fabel Prancis, Jean de La Fontaine: “Tipu muslihat yang dirancang terlalu lihai bisa berbalik menyerang perancangnya; dan pengkhianatan sering kali kembali kepada tuannya.”

Prancis tengah dilanda gerakan protes mahasiswa yang meluas dengan cepat, yang bermula dari perselisihan lokal mengenai kondisi sekolah yang memburuk.Aksi protes besar-besaran ini kemudian berkembang menjadi gerakan mahasiswa berskala nasional yang berfokus pada isu pendidikan, ketimpangan, dan respons brutal pemerintah terhadap tuntutan yang sah.

Gerakan ini bermula pada 17 September di SMA Antoine de Saint-Exupéry di Créteil, sebuah wilayah pinggiran di tenggara Paris.

Pada hari Sabtu, ribuan orang berkumpul di ibu kota Prancis dan kota-kota lainnya. Aksi tersebut melibatkan para pelajar, guru, serikat pekerja, serta anggota gerakan “Rompi Kuning” (Yellow Vest)—sebuah gerakan yang muncul pada tahun 2018 di tengah kemarahan luas masyarakat terkait biaya hidup.

Dalam aksi protes di Place de la République, Paris, polisi antihuru-hara terlibat bentrokan dengan para demonstran. Polisi menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan kelompok pengunjuk rasa yang mengenakan penutup kepala dan masker, yang melemparkan kembang api serta berbagai benda lainnya ke arah petugas.

Lebih dari 2.000 orang telah ditangkap di seluruh negeri.

Topik Menarik