Iran Ambil dan Kuasai Teknologi Bom 14 Ton AS yang Gagal Meledak
Iran telah mengambil bom Amerika Serikat (AS) seberat 14 ton yang gagal meledak selama agresi beberapa bulan lalu. Teheran sekarang memperoleh pengetahuan mengenai teknologi senjata tersebut.
Hal itu disampaikan penasihat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi saat latihan militer Fadaiyan-e Iran di Kota Sari, wilayah utara Iran, pada hari Minggu.
Baca Juga: Jenderal Iran Tak Gentar dengan 'Ibu Segala Bom' AS: Rudal Kami yang Paksa Amerika Bilang 'Ya, Tuan!'
Naqdi, sebagaimana dikutip dari Al Mayadeen, Senin (19/10/2026), mengatakan sejumlah bom Amerika Serikat yang dijatuhkan selama perang 12 hari gagal meledak. Kondisi tersebut memungkinkan pasukan Iran mengambil bom-bom itu dan menganalisis komponen teknologinya.
Menanggapi ancaman penggunaan bom-bom Amerika Serikat berkekuatan besar, Naqdi mengatakan angkatan bersenjata Iran telah menunjukkan kemampuan rudal dan daya tangkal yang cukup untuk memberikan respons menentukan terhadap setiap agresi.Dia memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut dapat membuat infrastruktur dan investasi energi milik negara-negara yang melakukan agresi di seluruh kawasan Teluk masuk dalam jangkauan sasaran operasional Iran.
Iran Bikin Pesawat Tempur Berat
Pengumuman tersebut muncul ketika Menteri Pertahanan Iran yang baru disetujui, Mehrdad Akhlaghi, memaparkan perkembangan militer lainnya, yakni pesawat tempur berat buatan Iran dijadwalkan melakukan penerbangan perdana tahun depan.Dalam wawancara dengan stasiun televisi Iran, Akhlaghi mengatakan pesawat tersebut dikembangkan oleh Organisasi Pertahanan Udara di bawah Kementerian Pertahanan.
Parlemen Iran menyetujui pengangkatan Akhlaghi sebagai Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata dalam sidang pada Minggu.
Saat menyampaikan pidato kepada para anggota parlemen ketika mulai menjabat, Akhlaghi memperingatkan Washington dan Israel agar tidak melancarkan serangan baru.
"Jika musuh Amerika-Zionis kembali melakukan kesalahan perhitungan, respons yang diberikan akan mengejutkan dan berskala luas. Pemerintah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya akan menanggung konsekuensi regional dan internasionalnya," katanya.Akhlaghi mengatakan Kementerian Pertahanan akan memproduksi senjata dan peralatan sensitif di fasilitas yang aman, sementara produksi pertahanan lainnya akan dilakukan melalui jaringan industri di seluruh Iran.
Israel melancarkan perang selama 12 hari terhadap Iran pada 13 Juni 2025. Amerika Serikat bergabung dalam serangan tersebut pada 22 Juni dengan membombardir fasilitas nuklir Iran.
Kedua negara melancarkan perang baru pada 28 Februari 2026. Perang tersebut memicu serangan balasan Iran terhadap Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai wilayah kawasan.









