Ribuan Pekerja China Demo Perusahaan asal Negaranya Sendiri di Rusia

Ribuan Pekerja China Demo Perusahaan asal Negaranya Sendiri di Rusia

Global | sindonews | Selasa, 15 September 2026 - 08:55
share

Pada 9 Agustus 2026, lebih dari 1.000 pekerja konstruksi asal China melakukan tindakan yang hampir tak terbayangkan sebagai warga dari negara otoriter: mereka mengepung kendaraan polisi bersenjata Rusia dan memaksa petugas untuk membebaskan rekan mereka yang ditahan.

Pemicunya tampak sepele namun sangat menghancurkan. Seorang pekerja di Kompleks Kimia Gas Baltik di Wilayah Leningrad, Rusia, tidak dibayar selama berbulan-bulan. Dalam kondisi frustrasi dan mabuk, dia berdebat dengan manajernya, hingga akhirnya perusahaannya sendiri memanggil polisi untuk menyeretnya pergi.

Baca Juga: Agresivitas atau Insekuritas: Mengapa China Terus Memprovokasi di Laut China Selatan?

Apa yang terjadi selanjutnya bercerita banyak hal, tapi bukan tentang Rusia, melainkan tentang China. Ribuan buruh migran, yang berada ribuan mil dari rumah, memilih untuk bergandengan tangan melawan entitas yang seharusnya melindungi mereka. Pasalnya, perusahaan yang menelantarkan mereka bukanlah musuh asing, melainkan anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China.

Pola Berulang Eksploitasi BUMN China

Insiden Agustus ini bukanlah letupan tunggal. Ini adalah catatan terbaru dari pola yang berulang dengan suram di Timur Jauh Rusia dan pantai Baltik sepanjang tahun 2025 dan 2026.

Pada April 2026, ratusan pekerja Petro-Hehua, anak perusahaan Haihua Industry Group yang berbasis di Beijing, berbaris melintasi Komsomolsk-on-Amur membawa poster berbahasa Rusia bertuliskan "Tidak ada uang" dan "Putin, tolong kami".Mengutip dari Daily Mirror, Selasa (15/9/2026), aksi ini pecah setelah Rosneft memutuskan kontrak perusahaannya, meninggalkan sekitar 1.500 pekerja tanpa bayaran. Pihak manajemen China dilaporkan melarikan diri dari Rusia, meninggalkan para pekerjanya tanpa jalan keluar secara hukum. Insiden serupa kembali pecah di kota yang sama pada bulan Juli.

Perusahaan yang menjadi pusat insiden Agustus, CC7 (China National Chemical Engineering No. 7 Construction Co.), bukanlah perusahaan abal-abal. Ini adalah anak perusahaan penuh dari China National Chemical Engineering Group, BUMN raksasa yang dipercaya Beijing untuk menjalankan proyek bernilai lebih dari USD 20 miliar di Baltik.

Namun, BUMN megah inilah yang merekrut sekitar 20.000 pekerja ke dalam apa yang disebut oleh para pekerja sendiri sebagai "kamp kerja paksa yang terisolasi". Paspor mereka disita, gaji disalurkan melalui subkontraktor pihak ketiga yang tidak jelas, gaji tetap diubah diam-diam menjadi sistem borongan, hingga alasan konyol dari manajer yang menyalahkan tidak cairnya gaji seluruh pekerja hanya karena satu orang memiliki "jenis rekening bank yang salah".

Lebih parah lagi, laporan menunjukkan sekitar 10 pekerja China tewas di lokasi tersebut sepanjang tahun 2025 akibat perancah runtuh, kecelakaan mesin, hingga terkena pecahan peluru drone, dengan CC7 tidak memberikan pertanggungjawaban publik apa pun.

Mengekspor Pelanggaran Ketenagakerjaan

Narasi terdalam dari insiden ini adalah tentang wajah negara China sendiri. Perusahaan-perusahaan ini adalah instrumen sektor negara dari Partai Komunis China (PKC). Mereka merekrut penduduk pedesaan dan pengangguran dengan janji kebanggaan nasional dan upah layak, lalu menundukkan mereka pada kondisi perbudakan modern, seperti upah ditahan, dokumen disita, tidak ada perawatan medis, dan kerja paksa di tengah cuaca ekstrem. Ini mencerminkan pelanggaran yang diklaim PKC telah diberantas di dalam negeri.Pengguna media sosial China memberikan komentar dengan ironi gelap: tampaknya lebih mudah bagi pekerja Tiongkok untuk memperjuangkan hak-hak mereka di tanah asing daripada di dalam China sendiri, di mana serikat pekerja independen dilarang keras. Ironi ini menusuk jantung narasi inisiatif Belt and Road PKC.

Di balik klaim keuntungan bersama dan kehebatan infrastruktur, proyek ini nyatanya dibiayai secara diam-diam oleh tubuh warganya sendiri yang kurang dibayar, bekerja terlalu keras, dan terkadang terancam nyawanya.

Krisis Kembar Otoritarianisme

Hal yang menonjol dari pihak Rusia bukanlah perlakuan baik mereka terhadap pekerja, melainkan respons negara yang relatif menahan diri. Polisi dan Garda Nasional Rusia cenderung bernegosiasi daripada membubarkan demonstran secara brutal.

Ini bukan karena niat baik, melainkan kebutuhan: ekonomi masa perang Rusia sedang kekurangan tenaga kerja yang parah, dan negara itu sendiri tengah menghadapi krisis tunggakan upah yang meroket hingga 2,879 miliar Rubel pada April 2026.

Buruh migran China terjebak di dalam sistem yang rusak ini dengan lapisan yang memalukan: karena tidak mendapat pertolongan dari BUMN negaranya sendiri, mereka terpaksa memohon belas kasihan kepada presiden asing, dalam hal ini Presiden Rusia Vladimir Putin.

Gambaran yang muncul bukanlah dua sistem yang bermusuhan, melainkan dua negara otorite yang menemukan cara praktis untuk mengeksternalisasi biaya kegagalan kepada para buruh migran yang paling tidak berdaya. Proyek-proyek seperti Kompleks Kimia Gas Baltik telah menjadi studi kasus nyata bagaimana model kapitalisme negara PKC mengekspor kebiasaan domestik terburuknya, yang dikemas rapi sebagai kemenangan internasional.

Hingga China menuntut pertanggungjawaban BUMN-nya secara nyata dan tidak sekadar mengubur berita, para pekerja yang membangun monumen kebanggaan Belt and Road ini akan terus menyadari satu hal: satu-satunya daya tawar yang mereka miliki hanyalah berdiri bahu-membahu dengan sesama pekerja, melawan negara yang telah mengirim mereka ke luar negeri.

Topik Menarik