3 Alasan Negara-negara Arab Mulai Ketakutan dengan Permainan Ganda Iran dengan Proksinya
Sultan Barakat, profesor kebijakan publik di Universitas Hamad Bin Khalifa, mengatakan negara-negara Teluk khawatir Iran mungkin sedang memainkan "permainan ganda" dengan menggunakan kelompok-kelompok proksinya di seluruh Timur Tengah untuk memicu kekacauan, sembari menyerukan penyelesaian konflik secara damai.
3 Alasan Negara-negara Arab Mulai Ketakutan dengan Permainan Ganda Iran dengan Proksinya
1. Houthi Memainkan dengan Skenario Iran
"Arab Saudi dan pihak lain tahu bahwa meskipun mereka tidak terlibat secara langsung, mereka memiliki sarana dan wewenang atas beberapa aktor tersebut—baik di Irak maupun Yaman—dan mereka sebenarnya bisa saja memilih untuk meredam tindakan mereka," ujarnya kepada Al Jazeera.Barakat menyoroti pertemuan antara negara-negara Teluk dan Iran yang sedianya dijadwalkan di Oman pada hari Senin, namun dibatalkan setelah serangan kelompok Houthi berlangsung selama beberapa hari di berbagai wilayah Yaman dan Arab Saudi.
"Namun, menurut saya, hal yang membuat pihak Saudi khawatir adalah waktu terjadinya semua ini. Tiba-tiba, kelompok Houthi melihat peluang ini; mereka bergerak ke pantai barat Yaman dan mengancam lalu lintas pelayaran di Laut Merah... dan hal itu pastinya memberi kesan bahwa Iran terus memainkan permainan ganda," katanya.
"Di satu sisi, mereka [pihak Iran] mengundang negara-negara tersebut—sebagai negara berdaulat yang independen—untuk duduk bersama dan berdialog secara langsung mengenai keamanan kolektif. Di sisi lain, mereka terus memberikan tekanan secara tidak langsung melalui sekutu-sekutu mereka."
2. Houthi Terus Menyerang Saudi
Kelompok Houthi Ansar Allah menyatakan bahwa serangan terhadap Arab Saudi akan terus berlanjut sampai Saudi menghentikan kampanye pengeboman udara terhadap posisi-posisi yang dikuasai oleh kelompok Yaman tersebut.Serangan-serangan ini dilakukan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik yang menyasar pangkalan udara Saudi di Khamis Mushait. Banyak pengamat kini mempertanyakan seberapa efektif serangan udara Saudi terhadap kelompok Houthi tersebut.Kelompok Houthi Ansar Allah bermula di provinsi utara Sadaa pada tahun 2004. Arab Saudi meluncurkan operasi militer untuk meredam pemberontakan tersebut. Sepuluh tahun kemudian, kelompok itu merebut ibu kota Yaman, dan Arab Saudi bersama pasukan koalisi meluncurkan kampanye udara selama tujuh tahun yang mencakup lebih dari 250.000 serangan udara—rata-rata 35.700 serangan udara per tahun.
Sejak awal kemunculannya, kelompok ini berhasil menguasai berbagai provinsi hingga ke wilayah Bab al-Mandeb; hal ini menunjukkan betapa tidak efektifnya serangan udara yang dilancarkan Saudi. Kelompok ini sangat piawai dalam menyembunyikan diri dari serangan udara Saudi. Mereka telah menguasai taktik perang yang mengandalkan kerahasiaan dan kemampuan menghindar, itulah sebabnya serangan udara Saudi tidak mampu menghentikan Houthi untuk terus memperluas wilayah kekuasaan mereka.
3. Menguasai Laut Merah
Sementara itu, pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran telah merebut lebih banyak pulau strategis di Laut Merah bagian selatan—demikian pernyataan pejabat pemerintah maupun Houthi—sehingga semakin memperkuat kendali mereka atas jalur pelayaran Bab al-Mandeb.Penguasaan atas Kepulauan Hanish Besar (Greater Hanish) dan Hanish Kecil (Lesser Hanish) ini terjadi di tengah upaya pasukan pemerintah yang didukung Saudi untuk menggalang kekuatan dan melakukan perlawanan balik, menyusul kemajuan pesat pasukan pemberontak di sepanjang pesisir barat Yaman.
Eskalasi konflik ini—terutama serangan Houthi terhadap infrastruktur minyak Saudi dan jalur pelayaran di Laut Merah—menambah tekanan terhadap pasokan dan harga minyak dunia, yang dapat memberikan posisi tawar lebih kuat bagi Iran dalam konfliknya dengan Amerika Serikat.
Pemberontak Houthi menempatkan pasukan di Kepulauan Hanish, yang terletak 160 km (100 mil) di utara Bab al-Mandeb, setelah ratusan personel pasukan yang bersekutu dengan pemerintah menarik diri dari kepulauan tersebut; informasi ini disampaikan oleh dua pejabat pemerintah dan seorang pejabat Houthi kepada The Associated Press dengan syarat anonimitas.








