Junta Niger Copot Jenderal Top Gara-gara Militer Memberontak

Junta Niger Copot Jenderal Top Gara-gara Militer Memberontak

Global | sindonews | Minggu, 13 September 2026 - 08:30
share

Pemimpin junta Niger, Jenderal Abdourahamane Tchiani (Omar Tchiani), telah mencopot Kepala Angkatan Bersenjata Mayor Jenderal Moussa Salaou Barmou pada hari Sabtu. Pencopotan jenderal ternama itu terjadi beberapa hari setelah militer melakukan pemberontakan di ibu kota, yang berhasil diatasi dengan bantuan pasukan Rusia.

Tchiani, melalui dekret yang disiarkan televisi pemerintah, menunjuk Brigadir Jenderal Mamane Sani Kiaou sebagai pengganti Mayor Jenderal Moussa Salaou Barmou.

Baca Juga: Giliran Seluruh Tentara Jerman Bakal Hengkang dari Niger

Barmou telah menjabat sebagai komandan militer tertinggi junta sejak kudeta Juli 2023 yang menggulingkan Presiden Mohamed Bazoum.

"Melalui dekret yang ditandatangani pada 11 September 2026, Jenderal Abdourahamane Tchiani telah menunjuk Brigadir Jenderal Mamane Sani Kiaou sebagai kepala staf angkatan bersenjata," bunyi siarab televisi pemerintah.

Pemerintah tidak memberikan penjelasan mengenai pencopotan Barmou, yang terjadi kurang dari dua minggu setelah konfrontasi yang melibatkan tentara di sebuah pangkalan militer di Niamey.Insiden tersebut bermula pada 28 Agustus ketika sekelompok tentara—yang sebagian besar berusia muda—menguasai Pangkalan 101 di Bandara Internasional Diori Hamani dan menyandera personel militer lainnya. Para tentara tersebut juga melepaskan tembakan di beberapa lokasi strategis, menurut Kementerian Pertahanan Niger.

Pasukan pemerintah akhirnya berhasil menguasai kembali pangkalan tersebut setelah personel Russian Africa Corps memberikan dukungan. Puluhan tentara yang terlibat dalam pemberontakan dilaporkan tewas atau ditahan, sementara tiga anggota pasukan pengawal presiden gugur dalam pertempuran.

Pemberontakan ini terjadi di tengah upaya Niger memerangi kelompok bersenjata, khususnya di wilayah barat dan tenggara. Menurut para analis yang dikutip oleh Associated Press, Minggu (13/9/2026), beberapa tentara yang terlibat merasa kecewa dengan kemampuan militer dalam menangani serangan serta kondisi yang dihadapi oleh para prajurit.

San Kiaou bukanlah sosok baru dalam operasi keamanan ini. Dia sebelumnya menjabat sebagai kepala staf angkatan darat dan pernah memimpin operasi melawan kelompok bersenjata di Tillaberi, Niger bagian barat, dan Diffa. Penunjukannya memberikan tanggung jawab atas militer kepadanya di saat junta terus beralih menjauhi kemitraan keamanan dengan negara-negara Barat.

Tchiani mengambil alih kekuasaan melalui kudeta tahun 2023 setelah menuduh pemerintah sipil gagal membendung kekerasan ekstremis. Sejak saat itu, pimpinan junta mengakhiri kerja sama militer dengan Prancis dan Amerika Serikat serta beralih ke Rusia untuk mendapatkan dukungan keamanan. Meski demikian, kelompok milisi bersenjata masih tetap aktif di beberapa wilayah negara tersebut.

Topik Menarik