Presiden Iran Tegaskan Tidak Dukung Kelanjutan Perang, Serukan Penguatan Ketahanan Negara

Presiden Iran Tegaskan Tidak Dukung Kelanjutan Perang, Serukan Penguatan Ketahanan Negara

Global | sindonews | Sabtu, 12 September 2026 - 03:33
share

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Jumat (11/9/2026) menyatakan ia tidak mendukung kelanjutan perang dengan Amerika Serikat. Dia menyerukan penguatan ketahanan negara untuk menghadapi fase berikutnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan para pimpinan universitas di Iran, menurut kantor berita lokal Mehr News Agency.

Menyinggung konflik dengan Washington, Pezeshkian mengatakan, "Saya tidak mendukung kelanjutan perang, namun kita harus memperkuat ketahanan negara dalam menghadapi perkembangan di masa mendatang."

Penguatan ketahanan negara menuntut langkah yang tidak memaksa Iran untuk bernegosiasi dengan "musuh" dari posisi yang lemah, ujarnya, seraya meminta universitas mendukung pemerintah dalam hal ini.

Langkah-langkah ekonomi harus mempertimbangkan kondisi sosial yang ada, kata Presiden Iran tersebut, seraya memperingatkan langkah-langkah yang tidak diperhitungkan dengan matang justru akan merugikan alih-alih memberikan solusi."Kita harus memanfaatkan kontribusi mahasiswa dari Generasi Z untuk memecahkan masalah masyarakat, serta memastikan partisipasi mereka dalam menghadirkan solusi alih-alih terlibat dalam aksi protes," ujarnya.

Pezeshkian menegaskan sebagai presiden, ia tidak memiliki ikatan politik dengan kelompok tertentu.

Ia menyatakan keterbukaan untuk bekerja sama dengan semua arus politik dan siapa pun yang berkontribusi dalam mengatasi krisis yang dihadapi negara.

AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu Teheran menembakkan rudal ke arah Israel serta menyerang target dan pangkalan AS di beberapa negara kawasan tersebut.

Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran, yang menyebabkan gangguan luas terhadap arus energi dan perdagangan global.Pada 18 Juni, Washington dan Teheran mencapai nota kesepahaman untuk mengakhiri operasi militer, termasuk jaminan bagi pelayaran kapal komersial melalui Selat Hormuz dan dimulainya negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.

Namun, kesepahaman tersebut kemudian gagal, dan konfrontasi kembali terjadi pada bulan Juli, di mana AS melancarkan serangan baru terhadap target-target di dalam wilayah Iran serta memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca juga: 5 Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB Bentrok Soal Mekanisme Sanksi Iran

Topik Menarik