Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA, Ini 5 Hal Penting yang Perlu Diketahui
Aljazair telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab (UEA) pada hari Kamis setelah ketegangan antara kedua negara semakin memuncak.
Aljazair menuduh Abu Dhabi melakukan serangkaian tindakan “provokatif dan bermusuhan”, seraya menyatakan bahwa seluruh upaya untuk mempertahankan hubungan bilateral telah menemui jalan buntu.
Baca Juga: Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA, Tutup Wilayah Udara untuk Semua Pesawat Emirat
Dalam respons yang tampaknya ditujukan terhadap keputusan tersebut, penasihat Presiden UEA untuk urusan diplomatik, Anwar Gargash, mengatakan hubungan diplomatik seharusnya dibangun berdasarkan “rasionalitas”, bukan “teka-teki”.
Putusnya hubungan diplomatik tersebut terjadi di tengah perbedaan kedua negara mengenai Israel, Sahara Barat, serta dugaan pengaruh UEA di Afrika Utara dan kawasan Sahel.Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune juga berulang kali menuduh UEA mencampuri urusan Aljazair dan kawasan sekitarnya.
5 Hal Perlu Diketahui atas Putusnya Hubungan Aljazair dan UEA
1. Apa yang Dikatakan Aljazair?
“Aljazair telah memutuskan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab setelah seluruh upaya untuk mempertahankan hubungan bilateral telah ditempuh,” demikian pengumuman stasiun televisi pemerintah Aljazair.Kementerian Luar Negeri Aljazair menuduh UEA melakukan “tindakan provokatif dan bermusuhan”, tetapi tidak memberikan rincian mengenai tindakan yang dimaksud.“Aljazair tidak menyia-nyiakan upaya untuk menarik perhatian pihak Emirat dan memperingatkannya mengenai konsekuensi serius yang dapat ditimbulkan oleh perilakunya yang disesalkan dan tidak beralasan,” kata kementerian tersebut.
Duta Besar UEA untuk Aljazair, Yousef Saif Khamis Subaa Al-Ali, dipanggil oleh pemerintah Aljazair, diberi tahu mengenai keputusan pemutusan hubungan diplomatik, dan diberikan waktu 48 jam untuk mematuhinya.
Aljazair juga mengumumkan keputusan untuk menutup wilayah udaranya bagi seluruh pesawat yang terdaftar di UEA mulai Jumat (11/9/2026). Namun, penerbangan komersial UEA yang menuju atau dari Aljir mendapat pengecualian hingga akhir tahun.
Aljazair sebenarnya telah menunjukkan kekecewaannya terhadap UEA sejak Februari, ketika mulai membatalkan perjanjian layanan penerbangan kedua negara yang dibuat pada 2013.
2. Bagaimana Respons UEA?
Tak lama setelah Aljazair mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik, Anwar Gargash, penasihat diplomatik Presiden UEA, menulis di media sosial bahwa hubungan diplomatik harus didasarkan pada “rasionalitas, komunikasi, dan kejelasan kepentingan”, bukan “teka-teki dan isyarat yang membutuhkan penafsiran”.Gargash tidak secara eksplisit menyebut Aljazair atau secara langsung mengaitkan pernyataannya dengan pengumuman pemerintah Aljazair.
“Ambiguitas bukanlah sebuah kebijakan, dan kegaduhan tidak dapat menggantikan ketiadaan visi. Diplomasi yang berhasil dibangun atas kejelasan posisi, pengelolaan kepentingan dan perbedaan secara baik,” tulisnya.
“Selain itu, hanyalah merupakan cerminan dari kekurangan visi dan tata kelola,” lanjut Gargash.Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan pihaknya berharap keputusan Aljazair tersebut hanya “bersifat sementara”.
UEA juga menegaskan penghargaan terhadap “rakyat Aljazair yang bersaudara” serta kebanggaannya terhadap hubungan yang menyatukan kedua bangsa, terutama melalui komunitas Aljazair yang tinggal di UEA dan para warga Aljazair yang berkunjung ke negara tersebut.
3. Apa yang Dikatakan Presiden Aljazair tentang UEA?
Tebboune jarang secara langsung mengkritik UEA dengan menyebut namanya. Namun, para pengamat mengatakan pernyataan-pernyataan kritisnya jelas mengarah kepada negara Teluk tersebut.Dalam sejumlah pidatonya, Tebboune menyebut sebuah “negara kecil” atau “negara mini” yang menurutnya berusaha mengguncang stabilitas negara-negara seperti Libya, Mali, dan Sudan, tempat UEA dituduh terlibat dalam berbagai konflik.
UEA membantah tuduhan tersebut.
Dalam wawancara televisi pada Juli, Tebboune mengatakan negara yang tidak disebut namanya itu memiliki “dampak yang sangat negatif” terhadap kawasan.
“Di mana pun mereka menginjakkan kaki, darah mengalir,” ujar Tebboune.
“Kami ingin mereka menjauh agar darah tidak mengalir di negara kami,” imbuh dia, yang dikutip Al Jazeera.Saat itu, Tebboune mengatakan Aljazair sebenarnya bisa saja memutus hubungan diplomatik dengan negara tersebut jauh lebih awal. Namun, Aljazair memilih tidak melakukannya karena tidak ingin memperdalam perpecahan di kawasan.
4. Apa Perbedaan Sikap Regional UEA dan Aljazair?
Aljazair menentang normalisasi hubungan dengan Israel. Sebaliknya, UEA menjalin hubungan diplomatik dengan Israel melalui Abraham Accords yang dimediasi Amerika Serikat pada 2020.Sejak saat itu, UEA mengembangkan hubungan ekonomi, diplomatik, dan pertahanan dengan Israel.
Perbedaan mendasar lainnya menyangkut Sahara Barat.
UEA mendukung klaim Maroko atas wilayah yang disengketakan tersebut. Sementara Aljazair mendukung perjuangan Front Polisario untuk mendirikan negara Sahara Barat yang merdeka.
5. Masalah Apa yang Dihadapi UEA dengan Negara-negara Kawasan?
Ketegangan dengan Aljazair bukan satu-satunya perselisihan regional yang dihadapi UEA dalam beberapa tahun terakhir.Pada Januari, Somalia membatalkan seluruh perjanjian dengan UEA yang mencakup sejumlah bidang, termasuk pelabuhan, keamanan, dan pertahanan.Mogadishu menuduh Abu Dhabi melakukan tindakan yang mengancam kedaulatan, persatuan nasional, dan kemerdekaan politik Somalia.
Ketegangan tersebut antara lain berkaitan dengan hubungan erat UEA dengan Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dari Somalia dan mendeklarasikan kemerdekaannya secara sepihak.
Sementara itu, Sudan berulang kali menuduh UEA mendukung kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dalam perang saudara di negara tersebut. Abu Dhabi membantah tuduhan itu.
Pada Mei, Sudan juga menuduh UEA memasok drone yang disebut digunakan dalam serangan yang dilancarkan dari Ethiopia.
Hubungan antara UEA dan Arab Saudi juga semakin tegang.
Ketegangan meningkat di Yaman, ketika pasukan Saudi pada Desember menyerang apa yang disebut Riyadh sebagai pengiriman senjata terkait UEA kepada Southern Transitional Council (STC), kelompok separatis di Yaman.
Arab Saudi juga mendukung tuntutan agar pasukan UEA meninggalkan Yaman.








