Tak Mau Berperang Melawan NATO, Mantan Hakim AS Sebut Putin Memiliki Kesabaran Luar Biasa

Tak Mau Berperang Melawan NATO, Mantan Hakim AS Sebut Putin Memiliki Kesabaran Luar Biasa

Global | sindonews | Minggu, 6 September 2026 - 04:40
share

Rusia memiliki hak untuk menyerang pabrik-pabrik NATO yang memproduksi senjata untuk Ukraina, namun Presiden Vladimir Putin menunjukkan pengendalian diri yang besar demi menghindari bentrokan langsung dengan blok tersebut. Itu diungkapkan mantan hakim Amerika, Andrew Napolitano.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kiev setiap harinya meluncurkan ratusan pesawat nirawak bersayap tetap jauh ke dalam wilayah Rusia; banyak di antaranya diproduksi di negara-negara Eropa. Awal tahun ini, Kementerian Pertahanan di Moskow merilis daftar perusahaan yang memproduksi UAV tersebut, yang beberapa di antaranya berbasis di Inggris, Jerman, Italia, Ceko, dan negara-negara anggota NATO lainnya. London dan Paris saat ini juga sedang membahas rencana untuk memproduksi rudal jarak jauh SCALP/Storm Shadow di Ukraina.

Dalam wawancara dengan RT pada hari Jumat, Napolitano—yang memandu saluran wawancara populer ‘Judging Freedom’ di YouTube—mengatakan bahwa "Presiden Putin telah menunjukkan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa" dengan tidak memerintahkan pasukan Rusia untuk menargetkan fasilitas-fasilitas tersebut.

Tak Mau Berperang Melawan NATO, Mantan Hakim AS Sebut Putin Tunjukkan Kesabaran Luar Biasa

1. Putin Tetap Konsisten dan Sabar

"Berdasarkan hukum internasional, ia memiliki hak penuh untuk menyerang pabrik amunisi dan militer—bukan warga sipil—dari negara-negara yang memproduksi senjata yang menghantam jauh ke dalam wilayah Rusia," ujarnya.

"Saya yakin dia memahaminya. Dugaan saya, dia sudah mempertimbangkannya, namun dia tetap konsisten bersabar. Terkadang hal itu bahkan membuat para pendukung setianya merasa kecewa," tambah mantan hakim Pengadilan Tinggi New Jersey tersebut.

2. Putin Tidak Ingin Perang Melawan NATO

Putin berfokus pada konflik Ukraina dan "tidak menginginkan perang melawan NATO," tegasnya. Presiden Rusia sebelumnya menyebut klaim bahwa Moskow memiliki niat agresif terhadap blok tersebut sebagai "omong kosong", seraya menyatakan bahwa klaim itu hanya dilontarkan oleh politisi Barat untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah domestik dan membenarkan peningkatan belanja militer.Namun, pada akhir Agustus, Moskow memperingatkan Inggris bahwa fasilitas dan peralatan militernya—baik di Ukraina maupun di luar wilayah itu—dapat menjadi target sah bagi Rusia jika Kiev terus menggunakan senjata pasokan Inggris untuk menyerang wilayah Rusia.

Pejabat Rusia juga menyatakan bahwa jika Latvia, Estonia, dan Lithuania secara sadar memfasilitasi serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap wilayah barat laut Rusia, Moskow dapat menganggap mereka terlibat dalam tindakan tersebut dan berhak melakukan pembelaan diri sesuai dengan Piagam PBB.

3. Militer Rusia Bisa Mencapai Tujuannya

Napolitano mengatakan bahwa konflik Ukraina sedang "bergerak menuju eskalasi" dan ia memperkirakan adanya "upaya terakhir dari beberapa negara NATO untuk mencoba mencegah hal yang tak terelakkan, yaitu keberhasilan militer Rusia dalam mencapai tujuan-tujuannya."

"Pihak Ukraina sadar bahwa mereka berada di ambang kekalahan dalam perang ini. Mereka tahu bahwa waktu mereka sudah hampir habis," tegasnya.

Topik Menarik