Dokter Angkatan Darat AS Ungkap 28 Tentara Tewas Akibat Vaksin Covid

Dokter Angkatan Darat AS Ungkap 28 Tentara Tewas Akibat Vaksin Covid

Global | sindonews | Sabtu, 5 September 2026 - 12:36
share

Seorang dokter Angkatan Darat Amerika Serikat memberikan kesaksian bahwa ia mengetahui adanya 28 kematian personel militer AS yang disebabkan oleh vaksin Covid-19. Kabar itu dilaporkan Politico dengan mengutip deposisi pengadilan.

Pemerintah AS sedang menyelidiki 2.544 kematian yang dilaporkan setelah pemberian vaksin tersebut, menurut keterangan pejabat itu.

Theresa Long, yang juga menjabat sebagai penasihat bagi Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr., dilaporkan memberikan kesaksian tersebut dalam deposisi pada tanggal 14 Agustus terkait kasus pengadilan federal di Virginia.

Baik kesaksiannya maupun perannya di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) sebelumnya belum pernah diberitakan.

Long disebut-sebut menyatakan 2.544 kematian yang belum terverifikasi tersebut dilaporkan ke Sistem Pelaporan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (VAERS) milik departemen tersebut.Mantan Presiden AS Joe Biden memerintahkan seluruh personel militer AS untuk divaksinasi atau diberhentikan dari dinas, yang mengakibatkan lebih dari 9.000 orang diberhentikan.

Setelah kembali menjabat, Presiden Donald Trump memerintahkan Pentagon menawarkan pengangkatan kembali kepada mereka yang sebelumnya diberhentikan karena menolak vaksin.

Vaksin Covid-19 yang diproduksi secara massal dengan teknologi mRNA mendapatkan percepatan proses untuk segera digunakan.

Perusahaan farmasi raksasa yang meraup keuntungan miliaran—Pfizer dan Moderna—kemudian mengakui vaksin mereka, dalam kasus yang jarang terjadi, dapat meningkatkan risiko peradangan otot jantung.

Long memberikan kesaksian bagi pihak tergugat dalam gugatan hukum yang disidangkan oleh Hakim Pengadilan Distrik Michael Nachmanoff terkait pemberhentian Terry Adirim sebagai direktur Pusat Layanan Kesehatan Global CIA. Adirim menduga badan intelijen tersebut memecatnya karena alasan politis, khususnya akibat dukungannya terhadap vaksinasi Covid-19.

Adirim pernah menjabat sebagai pelaksana tugas asisten menteri bidang kesehatan di Departemen Pertahanan selama masa pandemi.

CIA memecatnya pada bulan April 2025, langkah yang saat itu disorot oleh sejumlah komentator politik konservatif, termasuk Ivan Raiklin, yang merupakan salah satu tergugat dalam kasus ini.

Pemecatannya terjadi sekitar satu bulan sebelum ia memenuhi syarat untuk mendapatkan tunjangan pensiun federal penuh.

Pada bulan Mei 2025, Nachmanoff menyatakan keraguan mengenai peluang Adirim untuk memenangkan kasus tersebut saat ia menolak mengeluarkan perintah pengadilan untuk membatalkan pemecatannya. Pihak CIA berargumen masalah ini hanyalah sengketa kontrak biasa. Kennedy berulang kali berpendapat sejumlah vaksin belum diteliti secara memadai dan mungkin menimbulkan efek samping yang serius.

Para kritikus menuduhnya menyebarluaskan pandangan anti-vaksin dan menilai hal tersebut membuatnya tidak layak menjabat sebagai menteri kesehatan.

Baca juga: Vance Akui AS Hampir Tak Pernah Memenangkan Perang dalam 42 Tahun Terakhir

Topik Menarik