Trump Kesal Pangkalan AS Digempur Iran, Janji Serang Teheran dengan Keras
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah setelah pangkalan militer Amerika di Yordania jadi sasaran serangan balasan Iran. Dia pun berjanji akan menyerang republik Islam tersebut dengan keras.
Iran melancarkan serangan rudal balistik dan drone terhadap dua pangkalan jet tempur AS di Yordania pada hari Senin setelah serangan udara Amerika menghantam Pulau Larak di Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Balas Dendam, Bombardir 2 Pangkalan Jet Tempur AS di Yordania
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan bahwa serangan mereka menargetkan Pangkalan Udara King Hussein dan Al-Azraq di Yordania sebagai balasan atas serangan AS—yang menurut Teheran telah menewaskan dua tentara Iran serta seorang warga sipil, dan melukai beberapa orang lainnya.
"Akan ada respons," kesal Trump kepada jurnalis Fox News, Trey Yingst, melalui telepon, yang dilansir Selasa (1/9/2026). "Kami akan menghantam mereka dengan keras," lanjut dia.Yordania mengeklaim bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udaranya, dan tidak ada kerusakan yang dilaporkan secara resmi di darat. Sedangan Trump mengeklaim bahwa pasukan AS membiarkan satu rudal Iran masuk menembus pertahanan mereka setelah menilai bahwa rudal tersebut tidak akan menghantam sasaran yang signifikan.Meskipun mengancam akan melakukan tindakan militer lebih lanjut, Trump mengisyaratkan bahwa negosiasi masih mungkin dilakukan. "Mereka sangat ingin bertemu," katanya. "Sanksi-sanksi yang diterapkan benar-benar berdampak kuat," imbuh dia.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran tidak mencari perang namun akan memberikan respons tegas terhadap serangan lebih lanjut.
Trump dan para pejabat senior AS sebenarnya sudah mempertimbangkan rencana serangan berkala terhadap kemampuan militer Iran di sekitar Selat Hormuz bahkan sebelum aksi saling serang terbaru ini terjadi, menurut laporan Axios yang mengutip tiga pejabat Amerika. Tak lama setelah serangan terbaru AS, Trump mengunggah video buatan AI yang memperlihatkan pusat minyak utama Iran "hancur lebur".
Usulan yang disusun oleh Komando Pusat AS (US CENTCOM) dan didukung oleh Menteri Perang Pete Hegseth ini menargetkan radar, pertahanan udara, dan kemampuan rudal anti-kapal Iran saat fasilitas-fasilitas tersebut dibangun kembali. Seorang pejabat AS menggambarkan pendekatan yang diusulkan itu sebagai upaya "memangkas rumput"—tindakan berkala untuk memangkas kembali kekuatan lawan yang mulai tumbuh.
Ancaman militer baru Amerika ini muncul setelah pemerintahan Trump mengalihkan sebagian besar kampanye tekanannya ke langkah-langkah ekonomi, dengan meluncurkan apa yang disebut sebagai "serangan ekonomi" terhadap mitra dagang Iran di bawah Operasi "Economic Outcast".
Menteri Keuangan Scott Bessent pada hari Minggu menyatakan bahwa Washington berencana menerapkan sanksi sekunder baru setiap minggunya terhadap bank dan perusahaan asing yang terus berbisnis dengan Iran, di mana dia memperingatkan baik sekutu maupun pihak lawan bahwa mereka bisa saja diputus aksesnya dari sistem keuangan AS.
"Anda harus memilih: bersama kami atau bersama pihak Iran," ujar Bessent, seraya menambahkan bahwa Washington siap menggunakan "kekerasan finansial jika memang diperlukan."









