Banjir Dahsyat Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 1.000 Orang, 500 Pekerja Terjebak di Terowongan
Dunia sedang mabuk kepayang pada AI. Bukan cuma investor saham Wall Street yang latah. Pabrik-pabrik di Asia pun kebagian berkahnya.
Data yang dirilis Selasa (1/9) menegaskan itu. China, Jepang, Korea Selatan, tiga raksasa manufaktur Asia, sama-sama mencatat ekspansi pabrik di bulan Agustus. Pendorongnya satu: permintaan chip, komputer, dan segala perangkat terkait AI yang tak ada habisnya.
Padahal perang di Timur Tengah masih berkecamuk. Biaya produksi ikut terkerek. Tapi order AI ternyata lebih kuat dari tekanan perang itu sendiri.
China: Hijau di Survei Swasta, Merah di Survei Resmi
PMI Manufaktur Umum China versi RatingDog, yang disusun S&P Global, naik ke 51,5 di Agustus. Bulan sebelumnya cuma 50,9. Angka 50 adalah garis pemisah: di atasnya ekspansi, di bawahnya kontraksi. China masih di zona hijau.Bahkan melampaui ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters, yang cuma memperkirakan 51.
Tapi jangan senang dulu. Survei resmi pemerintah China justru menunjukkan hal sebaliknya: aktivitas pabrik nasional masih di zona kontraksi. Artinya, pemulihan industri China baru terjadi di sebagian sektor. Tterutama yang berkaitan dengan AI. Belum merata ke seluruh industri.
Jepang: Order Tercepat Sejak 2018
Jepang lebih meyakinkan. PMI manufaktur versi S&P Global naik ke 54,9 di Agustus, dari 54,5 di Juli. Ini level tertinggi sejak April. Sekaligus bulan ekspansi kedelapan berturut-turut.Order baru masuk dengan kecepatan tercepat sejak Januari 2018. Pendorongnya: permintaan semikonduktor dan produk berbasis AI.Annabel Fiddes, direktur asosiasi ekonomi di S&P Global Market Intelligence, punya penjelasan sederhana: sektor manufaktur Jepang berpeluang mempertahankan performa kuatnya saat ini, terutama karena ditopang permintaan dari sektor-sektor yang berkaitan dengan AI.
Korea Selatan: Ekspor Melejit 68,7 Persen
Korea Selatan malah lebih spektakuler. PMI-nya memang melandai ke 52,3, dari 53,1 di Juli. Tapi tetap di atas 50. Ini bulan ekspansi kesembilan berturut-turut.Yang bikin melongo adalah data ekspornya. Naik 68,7 persen dibanding tahun lalu. Bulan ke-15 berturut-turut ekspor Korea tumbuh.
David Owen, ekonom di S&P Global Market Intelligence, menyebut lonjakan ekspor itu sebagai sinyal bahwa perusahaan-perusahaan Korea masih menikmati durian runtuh dari supercycle AI dan semikonduktor yang sedang berlangsung.
Taiwan, Malaysia, Filipina, Kecuali Indonesia
Taiwan, Malaysia, dan Filipina juga ekspansi. Taiwan di 54,7, sedikit turun dari 55,1 di Juli. Malaysia melandai ke 50,2, dari 50,7, tipis saja di atas garis kontraksi.Filipina jadi kejutan. PMI-nya melompat dari 51,8 ke 54,9 dalam sebulan. Lonjakan tercepat di seluruh kawasan.Indonesia? Sayangnya jadi pengecualian. PMI manufaktur nasional justru turun ke 49,8, dari 50,2 di Juli. Artinya, pabrik-pabrik Indonesia masuk zona kontraksi. Sendirian di tengah pesta ekspansi negara-negara tetangganya.
Siapa yang Ikut Pesta AI, Siapa yang Cuma Nonton
Kesimpulannya sederhana. AI sedang jadi mesin baru pertumbuhan industri Asia. Siapa yang punya rantai pasok semikonduktor dan elektronik kuat, dia yang menikmati durian runtuh. China, Jepang, Korea, Taiwan, Filipina, semuanya kebagian, meski dengan kadar berbeda.Indonesia, yang basis manufakturnya lebih banyak di sektor non-elektronik, belum ikut menikmati boom ini. Bahkan tergelincir ke kontraksi di saat tetangga-tetangganya melaju.
Ini pekerjaan rumah. Kalau ingin ikut pesta AI, industri nasional harus lebih dalam masuk ke rantai pasok elektronik dan semikonduktor. Bukan cuma jadi penonton dari pinggir lapangan.









