Presiden Iran: Tekanan dan Ancaman AS Berisiko Gagalkan Diplomasi
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kembalinya Amerika Serikat pada kebijakan tekanan dan ancaman berisiko menggagalkan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang melumpuhkan ekonomi di Timur Tengah. Pernyataan itu muncul seiring saling serang antara AS dan Iran.
"Pelanggaran berulang kali oleh Amerika Serikat terhadap komitmennya dalam Nota Kesepahaman Islamabad menunjukkan... tidak adanya jaminan penegakan yang efektif, dan kembalinya kebijakan tekanan serta ancaman dapat menggagalkan jalur diplomasi," ujar Pezeshkian dalam pidatonya di KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kirgistan.
Pada hari Senin, Presiden AS Trump mengancam akan "memukul mereka dengan keras" menyusul serangkaian serangan balasan, termasuk rentetan rudal Iran yang ditembakkan ke pangkalan AS di Yordania.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, sedang menggelar konferensi pers dan mengecam "niat buruk" AS terhadap negaranya.
"Amerika Serikat, dalam perang, serangan, dan agresi mereka terhadap Iran, menyasar seluruh kepentingan kami," kata Baghaei kepada para wartawan.Esmaeil Baghaei mengatakan upaya mediasi oleh Pakistan dan negara-negara lain masih terus berlangsung.
Baghaei juga menyebutkan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat berdampak pada berbagai aspek kehidupan di Iran.
Ia menambahkan, AS tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari perang yang mereka mulai sendiri.
Dia menegaskan, "Sudah jelas mereka kini terjebak dalam kesalahan besar yang mereka perbuat, dan sudah menjadi kebiasaan mereka untuk mengajukan tuntutan yang berlebihan. Setiap kali, mereka terjebak dalam kesalahan perhitungan. Kami tidak bisa menerima perintah apa pun yang didiktekan kepada kami. Jika mereka terus mempertahankan pola pikir ini, mereka tidak akan mendapatkan hasil yang berbeda."
Baca juga: Eks PM Zionis Akui Citra Israel Hancur: Identik dengan Genosida hingga Pembunuh Bayi









