Iran Klaim Temukan Kelemahan Militer AS: 'Lebih Lemah dari yang Kami Bayangkan'

Iran Klaim Temukan Kelemahan Militer AS: 'Lebih Lemah dari yang Kami Bayangkan'

Global | sindonews | Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:06
share

Seorang penasihat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan para pejabat Teheran telah melihat militer Amerika Serikat (AS) lebih lemah dari yang diperkirakan sejak Amerika dan Israel pertama kali melancarkan serangan gabungan pada Februari lalu.

Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi menyampaikan hal itu dalam wawancara langka dengan PBS NewsHour yang ditayangkan pada Selasa. Menurutnya, Iran belum mencapai “tujuan akhir”-nya ketika ditanya apakah mereka telah memenangkan perang.

Baca Juga: 7 Tentara AS Dilaporkan Tewas Bentrokan di Kapal Induk Abraham Lincoln, Ini Kronologinya

“Sampai sekarang, kami menang. Di masa depan, kami akan terus menang,” kata Naqdi, yang merupakan penasihat utama Panglima IRGC.

Kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran yang bertujuan mengakhiri pertempuran telah dicapai pada pertengahan Juni dan dijadwalkan berakhir pada Senin.

Komentar Naqdi muncul beberapa pekan setelah gencatan senjata runtuh dan AS serta Iran saling melancarkan serangan selama lebih dari dua pekan sebelum akhirnya menghentikannya sementara.“Semakin lama perang ini berlangsung, semakin banyak pengalaman yang kami dapatkan. Kami belum pernah mengalami perang nyata untuk mendapatkan pengalaman langsung dan belajar bagaimana berperang melawan Amerika,” kata Naqdi kepada PBS.

“Dalam lima bulan ini, kami telah belajar bagaimana melakukannya. Kami juga melihat betapa militer Amerika lebih lemah dari yang kami bayangkan," paparnya, yang dikutip CBC, Kamis (13/8/2026).

Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz

Pada Rabu, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat berada dalam “kendali penuh” atas Selat Hormuz.

“SAYA PIKIR KAMI AKAN MEMPERTAHANKANNYA! Blokade Angkatan Laut kami disebut oleh semua orang sebagai ‘TEMBOK BAJA’, dan tidak ada yang bisa dilakukan Iran untuk mengatasinya,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya.

Sejak perang di Teluk Persia dimulai ketika AS dan Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran dan terkoordinasi terhadap Iran pada 28 Februari, Trump silih berganti antara mengeluarkan ancaman eskalasi dan menyatakan kesepakatan damai sudah semakin dekat.Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar bertemu dengan Duta Besar Iran untuk Pakistan Reza Amiri Moghadam di Islamabad pada Rabu dalam upaya melanjutkan kembali perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat.

Pertemuan tersebut berlangsung sehari setelah Pakistan mengirim Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi ke Teheran untuk melakukan pembicaraan dengan para pemimpin tinggi Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi mengatakan bahwa kesepakatan Juni masih berlaku dan batas waktunya dapat diperpanjang. “Kami tidak menutup bab ini,” kata Andrabi.

Perundingan menemui jalan buntu terkait kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima dari pasokan minyak yang diperdagangkan di dunia.

AS menuduh Iran gagal memenuhi kesepakatan dalam perjanjian untuk membuka kembali jalur pelayaran penting di Selat Hormuz.Teheran mengatakan Washington justru telah mengingkari komitmennya, termasuk mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mencairkan aset Iran yang dibekukan.

Ribuan orang telah tewas dalam konflik tersebut, terutama di Iran dan Lebanon.

Iran telah menyerang aset dan infrastruktur AS di sejumlah negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni menetapkan periode 60 hari, yang dapat diperpanjang berdasarkan persetujuan bersama. Dalam periode tersebut, Iran dan AS diharapkan mencapai kesepakatan final yang membatasi program nuklir Teheran sekaligus mencabut sanksi Amerika terhadap Iran.

Iran dan Amerika Serikat juga meningkatkan retorika mereka dalam dua hari terakhir.

Pejabat keamanan tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan pada Selasa bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali AS menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump pada Senin mengajukan tuntutan baru agar Iran membayar kompensasi bagi orang-orang yang tewas dalam perang, serangan, dan aksi protes selama 50 tahun terakhir.

Topik Menarik