Zelensky: Jual 10 Rudal Patriot AS ke Ukraina, Maka Kami Hancurkan Seluruh Misil Rusia!

Zelensky: Jual 10 Rudal Patriot AS ke Ukraina, Maka Kami Hancurkan Seluruh Misil Rusia!

Global | sindonews | Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:59
share

Presiden UkrainaVolodymyr Zelensky mengeluh Kyiv hanya memiliki sepersepuluh dari jumlah rudal pencegat yang sangat dibutuhkannya dari Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan lonjakan serangan rudal balistik Rusia.

Zelensky menyampaikan hal ini dalam wawancara dengan CNN, yang dilansir Kamis (13/8/2026),seraya menambahkan bahwa hari-harinya dihabiskan dengan "jutaan" panggilan telepon serta negosiasi tertutup dengan sekutu untuk mendapatkan pasokan tambahan.

Baca Juga: Drone Ukraina Hancurkan Sistem Rudal S-400 Pelindung Istana Mewah Putin, Pukulan Telak bagi Rusia

Serangan balistik Rusia meningkat pesat dalam beberapa minggu terakhir, dengan dampak paling parah dirasakan oleh ibu kota Kyiv, saat Moskow memanfaatkan kondisi stok rudal pencegat Patriot Ukraina yang hampir habis.

Zelensky mengatakan bahwa sepersepuluh dari stok rudal pencegat Patriot milik AS saat ini sudah cukup untuk menghentikan semua serangan rudal balistik Rusia, dan lima persen saja sudah cukup untuk membantu Ukraina melewati musim dingin.

"Tahun ini, jumlah rudal pencegat yang kami miliki dua setengah kali lebih sedikit dibandingkan tahun 2025," ujarnya. "Rusia meluncurkan rudal balistik dua kali lebih banyak setiap bulannya dibandingkan sebelumnya." Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bulan Juli merupakan bulan paling mematikan bagi warga sipil Ukraina sejak April 2022.

"Setiap malam terjadi serangan, dan empat atau lima kali sebulan kami menghadapi serangan besar-besaran...malam-malam yang mengerikan. Rakyat yang sangat heroik dan tangguh. Namun, mereka lelah," keluh Zelensky.

"Jika AS menjual 5 kepada kami, kami akan bisa melewati musim dingin dan menyelamatkan nyawa warga. Jika mereka bisa menjual 10, kami akan menghancurkan semua rudal balistik Rusia. Saat ini saya hanya memiliki 1," paparnya.

Saat ini terjadi kelangkaan global untuk rudal-rudal pencegat Patriot akibat konflik AS dengan Iran, di mana AS dan negara-negara Teluk menggunakan puluhan rudal tersebut untuk menangkal serangan misil dan pesawat nirawak berbiaya murah dari Iran.

Kelangkaan rudal pencegat Patriot ini berdampak paling parah bagi Ukraina, di mana pada malam-malam tertentu kota-kotanya tampak tak berdaya menghadapi serangan misil Moskow. Zelensky memberikan gambaran langka mengenai upaya pribadinya sehari-hari untuk mendapatkan lebih banyak rudal pencegat, sebuah proses yang melibatkan kesepakatan-kesepakatan yang lebih dia pilih untuk dirahasiakan.

"Inilah keseharian saya: dari 1 hingga 5. Saya menghabiskan waktu berbulan-bulan dan melakukan jutaan panggilan telepon...Saya berusaha menukarkan sesuatu demi mendapatkan rudal...Saya melakukan hal-hal yang bahkan tidak bisa saya ceritakan. Bukan berarti hal itu melanggar hukum. Namun, saya tidak bisa membicarakannya," terangnya.

Zelensky mengatakan masih ada keraguan mengenai bagaimana komitmen Presiden AS Donald Trump—yang tampaknya bersedia mengizinkan Ukraina memproduksi sendiri rudal pencegat Patriot—akan benar-benar terwujud.

Di sela-sela KTT NATO di Ankara, Trump sempat menyatakan akan mengizinkan Ukraina memperoleh lisensi untuk memproduksi sendiri rudal pencegat yang canggih tersebut, namun beberapa hari kemudian dia mengaku ragu dengan gagasan itu.

Pihak produsen sistem rudal Patriot telah mengirimkan perwakilan ke Kyiv untuk membahas gagasan ini, namun hasilnya belum juga terlihat jelas."Saya berharap bisa mendapatkannya," ujar Zelensky. "Saat ini saya belum mencapai angka 5 itu dan belum mendapatkan persetujuan tersebut. Ini adalah tantangan besar bagi saya, salah satu tantangan terbesar yang saya hadapi sejak awal perang ini."

Zelensky mengatakan dia terus mendesak Gedung Putih secara langsung—baik melalui panggilan telepon maupun pesan—serta melalui pihak sekutu, agar mereka meningkatkan bantuan rudal Patriot. Namun, dia enggan memberikan rincian mengenai interaksinya baru-baru ini dengan pemerintahan Trump.

Dia membenarkan bahwa dirinya baru saja melakukan pembicaraan telepon dengan Wakil Presiden AS JD Vance, namun menolak merinci—seperti yang dilaporkan oleh Financial Times—apakah Vance meminta Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap pelabuhan minyak Rusia di Laut Hitam yang merugikan perusahaan-perusahaan AS dan berisiko memicu lonjakan harga energi global.

Kyiv juga telah mengajukan proposal baru untuk proses perdamaian yang dipimpin Trump, yang dalam beberapa bulan terakhir tampak mengalami kebuntuan. Zelensky enggan memberikan perincian namun mengatakan: “Kami membutuhkan keterlibatan lebih lanjut dari pihak Amerika dalam rencana perdamaian ini. Saya berterima kasih kepada tim Presiden Trump yang bersedia melanjutkannya. (Presiden Rusia Vladimir) Putin tidak ingin menghentikan perang ini sekarang dan belum ada tekanan yang cukup terhadapnya saat ini.”

Zelensky menolak gagasan agar Ukraina menyerahkan wilayah tersisa di Donbas yang ingin dikuasai Putin, seraya menegaskan bahwa jaminan keamanan tetap menjadi hal krusial bagi Kyiv.“Rusia mulai berbicara mengenai perang ini, dan mereka berbicara soal wilayah. Pertanyaan kuncinya adalah, mengapa dia tidak akan kembali lagi dengan tambahan 1 atau 2 juta tentara setelah jeda yang panjang? Mengapa dia tidak akan kembali untuk menduduki wilayah kami?”

Zelensky menambahkan bahwa dia sependapat dengan sejumlah penilaian Barat yang menyatakan Putin mungkin berupaya meningkatkan eskalasi perang melawan NATO, kemungkinan dengan menyerang negara-negara Baltik anggota NATO yang berukuran lebih kecil.

"Dia tidak tahu cara mengakhiri perang ini tanpa pendudukan besar-besaran atau kemenangan telak bagi masyarakatnya. Lebih mudah untuk menyasar negara yang lebih kecil...baginya, tidak penting apakah negara tersebut anggota NATO atau bukan. Dia menginginkan kemenangan cepat, dengan keyakinan penuh bahwa dia akan menang, melakukan pendudukan, menghancurkan, atau menguasai," katanya.

Topik Menarik