Diancam Dihabisi Iran, Trump Ngumpet di Truk Katering Bandara saat Kabur dari Turki

Diancam Dihabisi Iran, Trump Ngumpet di Truk Katering Bandara saat Kabur dari Turki

Global | sindonews | Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:29
share

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diam-diam dipindahkan dari Air Force One menggunakan truk katering bandara sebelum meninggalkan Turki dengan pesawat militer yang lebih kecil bulan lalu. Langkah ini merupakan bagian dari taktik pengamanan rumit yang dipicu oleh dugaan ancaman Iran untuk membunuhnya atau menyerang pesawatnya.

Trump sempat menaiki pesawat kepresidenan Air Force One Boeing 747 di hadapan kamera televisi setelah menghadiri KTT NATO di Ankara pada 8 Juli, seolah-olah hendak memulai perjalanan ke Inggris dengan Air Force One.

Baca Juga: Trump Gunakan Penerbangan Rahasia Tinggalkan Turki saat Diancam Iran

Namun, menurut laporan The Washington Post, Selasa (8/11/2026), beberapa menit kemudian, dia dan sejumlah ajudan disembunyikan di dalam truk katering—jenis truk yang biasanya digunakan untuk memuat makanan dan perbekalan ke pesawat—lalu dibawa melintasi area bandara menuju pesawat C-32A milik Angkatan Udara.

Pesawat yang lebih kecil itu kemudian diam-diam menerbangkan Trump ke RAF Mildenhall di Inggris, sementara Boeing 747 berangkat dari Ankara secara terpisah dengan membawa para jurnalis dan staf Gedung Putih yang mengira sang presiden sedang bepergian bersama mereka.

Operasi pengelabuan ini dilaporkan dipicu oleh informasi intelijen yang mengindikasikan adanya dugaan ancaman Iran terhadap Trump atau pesawatnya, demikian dilaporkan The Washington Post.

Lokasi sebenarnya Trump disembunyikan tidak hanya dari para jurnalis, tetapi juga dari sebagian staf Gedung Putih dan pejabat senior, yang sempat mengira selama berjam-jam bahwa dia berada di dalam pesawat kepresidenan.Para wartawan yang ikut dalam pesawat pengalih perhatian tersebut diperintahkan untuk menutup penutup jendela pesawat sebelum keberangkatan.

Ketika mereka kemudian bertanya kepada Trump mengenai alasannya, dia mengatakan bahwa mereka "mungkin sedang menjalani penerbangan yang berbahaya".

"Tapi jika saya pergi, kalian juga ikut," imbuh Trump.

Operasi tersebut berlangsung sehari setelah pasukan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran atas perintah Trump, menyusul kegagalan negosiasi yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan antara Washington dan Teheran.

The New York Times dan CBS News sebelumnya melaporkan bulan lalu bahwa badan intelijen AS telah mendeteksi ancaman serangan spesifik terhadap Trump atau pesawatnya, yang memicu peningkatan langkah-langkah pengamanan.Peristiwa ini sempat menimbulkan pertanyaan mengenai tingkat keamanan pesawat Boeing 747-8 baru—yang dihadiahkan oleh Qatar kepada Amerika Serikat dan telah dimodifikasi untuk keperluan kepresidenan.

Trump sempat terbang ke Turki menggunakan pesawat pemberian Qatar tersebut dalam perjalanan kepresidenan internasional pertamanya, namun sebelum meninggalkan Ankara, dia mengumumkan akan melanjutkan perjalanan ke Inggris dengan pesawat Air Force One yang lebih tua "demi mengenang masa lalu". Saat itu, Gedung Putih menyatakan bahwa pesawat baru tersebut akan terbang secara terpisah menuju RAF Mildenhall agar personel militer AS yang bertugas di sana dapat melihatnya dari dekat.

Namun, Trump tidak berada di dalam salah satu dari dua pesawat Boeing 747 tersebut pada tahap pertama perjalanannya.

Setelah menaiki pesawat Air Force One yang lebih tua di hadapan kamera, Trump dipindahkan ke truk katering yang diposisikan di pintu sisi lain pesawat, jauh dari pandangan umum. Truk tersebut kemudian diturunkan dan membawa Trump serta beberapa stafnya menuju pesawat C-32A yang telah menunggu.

Data pelacakan penerbangan dan materi lain yang ditinjau oleh The Washington Post menunjukkan bahwa pesawat pemberian Qatar itu berangkat lebih dulu dari Ankara menuju Inggris dengan menggunakan kode panggilan "SAM 33".Pesawat Air Force One yang lebih tua—yang mengangkut para jurnalis dan staf Gedung Putih namun tidak membawa Trump—kemudian menggunakan kode panggilan kepresidenan "AF1" selama penerbangan.

Sementara itu, pesawat C-32A yang ditumpangi Trump terbang dengan kode panggilan "RCH18" atau "Reach 18", yang umumnya digunakan untuk misi transportasi militer. Menurut laporan tersebut, sistem yang memungkinkan pesawat dilacak oleh publik telah dimatikan.

Ketiga pesawat tersebut tiba di RAF Mildenhall dengan selang waktu hanya beberapa menit satu sama lain.

Trump kemudian terlihat turun dari tangga pesawat Air Force One yang lebih tua, yang mengindikasikan bahwa ia telah diam-diam dipindahkan kembali ke pesawat tersebut setelah tiba di Inggris.

Dia kemudian menyapa personel militer AS sebelum menaiki jet kepresidenan pemberian Qatar itu untuk tahap terakhir perjalanannya menuju Washington.Gedung Putih sebelumnya secara terbuka menyatakan bahwa Trump meninggalkan Turki dengan menaiki pesawat Air Force One yang lebih tua, sementara keberadaan aslinya tetap dirahasiakan selama operasi tersebut berlangsung.

Saat dimintai tanggapan mengenai informasi ini, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung tidak secara langsung membahas taktik pengelabuan tersebut, namun ia membela aspek keamanan pesawat pemberian Qatar itu.

Cheung mengatakan bahwa pesawat tersebut telah dilengkapi dengan "protokol keamanan tingkat tinggi" dan menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki "banyak musuh" yang mengincar Trump.

"Kami menggunakan segala sarana yang tersedia untuk menghadapi ancaman-ancaman tersebut," ujarnya.

Penggunaan pesawat kepresidenan sebagai umpan bukanlah hal yang baru. Bill Clinton pernah menerapkan taktik serupa saat berkunjung ke Pakistan pada tahun 2000; dia bepergian menggunakan jet eksekutif tanpa tanda pengenal khusus, sementara pesawat lain difungsikan sebagai umpan.

Topik Menarik