Tak Lagi Memiliki Rudal Pencegat, Rusia Terus Bombardir Ukraina Tanpa Henti
Peternak ayam di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) kian tercekik lonjakan harga pakan di tengah anjloknya harga telur. Di tengah tekanan yang terus membebani biaya produksi, pabrik pakan ternak di Kecamatan Parenggean didorong segera beroperasi agar peternak tidak lagi bergantung pada pasokan pakan dari luar daerah dengan harga yang terus melonjak.
Desakan itu disampaikan Komisi II DPRD Kotim kepada Pemprov Kalteng. Keberadaan pabrik pakan di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Parenggean dinilai menjadi salah satu solusi untuk menekan harga pakan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternak lokal.
Baca juga: Partai Perindo Usul Ambang Bebas Pajak Marketplace agar UMKM Tak Terbebani di Tengah Lesunya Daya Beli
Iran Kecam Trump karena Ancam Lenyapkan Semua Orang di Pemakaman Khamenei dengan Sekali Tembak
"Kami mendorong pemerintah provinsi agar pabrik pakan itu segera dioperasikan sehingga masyarakat, khususnya peternak, bisa mendapatkan pakan dengan harga yang lebih murah," kata anggota Komisi II DPRD Kotim dari Partai Perindo, Hendra Sia, Rabu (5/8/2026).
Hingga kini pihaknya belum mengetahui penyebab pabrik tersebut belum beroperasi meski bangunan dan peralatannya dikabarkan telah siap. Komisi II DPRD Kotim akan berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan untuk mengetahui kendala yang menghambat operasional pabrik.Menurutnya, pengelolaan pabrik merupakan kewenangan Pemprov Kalteng. Karena itu, DPRD Kotim hanya bisa mendorong percepatan operasional agar manfaatnya segera dirasakan peternak. "Kami mendorong agar segera dioperasikan karena keberadaannya sangat dibutuhkan peternak," tegasnya.
Baca juga: Partai Perindo Desak Audit QRIS Fiktif, Lindungi UMKM dari Sindikat Judi Online
Legislator yang sudah dua periode duduk di DPRD Kotim ini menilai, beroperasinya pabrik pakan di Kotim dapat menjadi alternatif bagi peternak yang selama ini harus mendatangkan pakan dari luar daerah dengan biaya yang lebih tinggi.
Desakan tersebut sejalan dengan kondisi yang dihadapi peternak ayam petelur di Kotim. Berdasarkan data Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim, harga pakan naik dari kisaran Rp370.000-Rp380.000 per karung di awal tahun menjadi sekitar Rp440.000 per karung. Sepanjang 2026, kenaikan bahkan terjadi hingga sembilan sampai sepuluh kali.
Ironisnya, di saat biaya produksi terus membengkak, harga telur justru turun jauh di bawah harga acuan pemerintah sehingga banyak peternak merugi. Padahal sekitar 70 persen biaya produksi usaha ayam petelur berasal dari pakan.
Karena itu, peternak berharap pabrik pakan di Parenggean segera beroperasi. Kehadiran pabrik tersebut diharapkan mampu menciptakan persaingan harga yang lebih sehat, menekan biaya produksi, dan menjadi penopang agar usaha peternakan ayam lokal tetap bertahan.








