Bahlil Ingatkan Pengusaha Tambang: Jangan Mengelola Sumber Daya Seperti Orang Kelaparan
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengingatkan para pengusaha tambang agar tidak mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) secara berlebihan demi mengejar keuntungan. Bahlil meminta pengelolaan kekayaan alam Indonesia dilakukan secara bijak agar manfaatnya juga bisa dinikmati generasi mendatang.
Pengelolaan Sumber Daya Mineral, katanya, harus berorientasi pada penciptaan nilai tambah bukan sekedar meningkatkan jumlah produksi. Baca Juga: Prabowo Geram Ada Konsesi Tambang Mangkrak 28 Tahun: Tak Ada Aktivitas 2 Tahun, Cabut!
"Saya sering mendapat masukan terhadap keluhan teman-teman pengusaha. Kita harus mengelola sumber daya alam kita itu dengan cara tata kelola yang baik dan benar. Jangan kita mengelolanya seperti orang yang kelaparan. Jangan orang yang berpuasa, tiba-tiba buka puasa, apa saja yang mau dimakan," kata Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).
Bahlil mencontohkan aktivitas pertambangan di batubara yang dilakukan secara masif sebelumnya. Kondisi ini membuat membuat batubara dari Indonesia dihargai lebih murah oleh para importir, karena Indonesia hanya produksi namun tidak bisa mengendalikan harga. Ia juga menyebut Indonesia memproduksi sekitar 540 juta ton batu bara pada 2025. Jumlah tersebut setara dengan 43 dari total perdagangan batu bara dunia yang mencapai sekitar 1,3 miliar ton.
Baca Juga: Ma'ruf Amin Ingatkan NU: Hati-Hati Jangan Rebutan Tambang
Namun, besarnya volume produksi tersebut tidak otomatis memberikan keuntungan maksimal bagi perusahaan maupun negara. Bahlil menilai produksi yang terlalu besar justru dapat membuat harga batu bara tertekan sehingga sumber daya alam Indonesia dijual dengan harga murah.
"Apa yang terjadi? Harga batu bara 2025 pada harga yang paling rendah. Profit perusahaannya tidak terlalu banyak, pendapatan negara tidak terlalu maksimal, jor-joran kita buka lahan yang begitu besar, akhirnya barang kita dijual murah," tambahnya.
Bahlil mengatakan, Pemerintah mengambil kebijakan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dalam rangka meningkatkan harga batubara dengan cara menekan produksi di dalam negeri. Hasilnya, harga batubara berkalori tinggi berhasil mencapai level tertingginya di USD154 dolar per ton di tahun ini, atau menguat dibanding periode Januari - Agustus 2025 di level USD100-120 per ton. "Hari ini harga batu bara bisa mencapai US$154, untuk kalori 6.300. Ini strategi, karena kita jaga supply and demand, pendapatan negara kita melonjak, produksi turun," jelasnya.
Oleh sebab itu, Bahlil mengingatkan kepada pengusaha untuk tidak berlebihan dalam memproduksi batubara, atau sumber daya alam lain dan tetap menjaga permintaan dan penawaran global. Ia juga meminta agar ingat kepada generasi penerus agar bisa tetap menikmati sumber daya alam yang terkandung di Indonesia.
"Negara ini masih ada anak cucu kita. Kalau memang hari ini barangnya belum mahal, barangnya belum bagus, tinggalkan, nanti ada Menteri ESDM baru, ada dirjen baru, ada presiden baru, ada pengusaha baru untuk anak cucu kita. Untuk mereka kelak mendapatkan harga yang maksimal," pungkas Bahlil.










