Swasembada Pangan Jadi Program Prabowo Paling Disukai Netizen, Sentimen Positif 73,4 Persen
JAKARTA – Program swasembada pangan menjadi salah satu kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mendapat respons positif dari masyarakat. Berdasarkan analisis big data media sosial yang dilakukan Continuum INDEF, program tersebut mencatat sentimen positif sebesar 73,4, tertinggi dibandingkan tujuh program utama pemerintah lainnya.
Temuan tersebut tertuang dalam kajian bertajuk 2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo di Mata Netizen yang dipaparkan dalam Diskusi Publik INDEF di Jakarta pada 20 Oktober 2026.
Dari delapan program utama yang dianalisis, swasembada pangan menempati posisi teratas dalam proporsi sentimen positif. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan program Cek Kesehatan Gratis yang mencatat sentimen positif sebesar 67,8 dan Sekolah Rakyat sebesar 54,9.
Apresiasi terhadap program swasembada pangan juga tercermin dari sekitar 58 ribu perbincangan di media sosial selama periode 1 Januari hingga 30 September 2026.
Dalam analisis tersebut, sejumlah warganet menyampaikan dukungan terhadap kebijakan pemerintah di sektor pangan dan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Perbincangan positif antara lain berkaitan dengan ketersediaan stok pangan nasional, cadangan beras Bulog, serta keterlibatan TNI dan Polri dalam mendukung ketahanan pangan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan swasembada pangan mendapat respons positif dari sebagian masyarakat. Isu pangan dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, terutama dalam hal ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan.
Respons publik tersebut juga dapat dibandingkan dengan perkembangan produksi pangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Indonesia pada Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 0,07 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Luas panen pada periode tersebut mencapai 8,32 juta hektare atau tumbuh 0,11. Sementara itu, produksi beras untuk konsumsi masyarakat tercatat sebesar 25,29 juta ton, naik 0,07 dibandingkan Januari-Agustus 2025.
Data tersebut telah berstatus angka tetap karena penghitungan luas panen dan produktivitas pada periode tersebut menggunakan data final.
Meski demikian, sektor pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino. Untuk mengantisipasi dampaknya, Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan sejumlah langkah mitigasi, seperti optimalisasi pompanisasi, pengelolaan sumber daya air, serta penyediaan sarana produksi pertanian.
Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah terus berupaya membantu petani menghadapi tantangan produksi, terutama dalam menjaga ketersediaan air untuk lahan pertanian.
“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” tegas Amran.
Selain menjaga ketersediaan air, Kementan juga mendorong penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut mencakup peningkatan produksi, penyediaan sarana dan prasarana pertanian, penyerapan hasil panen, serta penguatan cadangan pangan nasional.
Hasil kajian INDEF tersebut menjadi salah satu gambaran respons masyarakat terhadap kebijakan pangan pemerintah. Namun, keberlanjutan swasembada pangan tetap bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga produksi, kelancaran distribusi, serta ketersediaan pangan yang merata di seluruh Indonesia.









