Wall Street Menguat di Tengah Pelemahan Pasar Kerja AS, Nasdaq Naik 1,2 Persen
IDXChannel - Wall Street menguat pada pembukaan perdagangan Jumat (2/10/2026) waktu setempat, setelah data ketenagakerjaan AS pada September lebih lemah dari ekspektasi pasar.
Melansir Investing, Indeks S&P 500 naik 0,8 persen menjadi 7.729,96. Dow Jones Industrial Average menguat 0,6 persen ke level 51.213,10, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 1,2 persen menjadi 27.210,31, mendekati rekor intraday terbaru.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan nonfarm payrolls hanya bertambah 29.000 pada September. Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 89.000 dan menjadi pertumbuhan tenaga kerja bulanan terlemah sepanjang tahun ini.
Selain itu, data ketenagakerjaan Juli dan Agustus secara kumulatif direvisi turun sebanyak 60.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2 persen pada September dari 4,1 persen pada bulan sebelumnya.
Pelemahan pasar tenaga kerja tersebut menjadi perhatian investor karena terjadi ketika sejumlah indikator lain masih menunjukkan ekonomi AS relatif bertahan, sementara inflasi mulai menunjukkan sedikit moderasi meski masih berada pada level tinggi.
Dalam kondisi tersebut, melemahnya pasar tenaga kerja dapat mengurangi urgensi bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Pengetatan kebijakan moneter memang dapat membantu meredam tekanan harga, tetapi juga berisiko menekan pertumbuhan ekonomi dan aktivitas ketenagakerjaan.
Ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed pada pertemuan Oktober pun langsung berubah. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir bulan turun menjadi sekitar 18 persen, sementara peluang The Fed mempertahankan suku bunga meningkat menjadi hampir 82 persen.
Inflasi Masih Jadi Perhatian The Fed
Meski data ketenagakerjaan memberikan ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga, perhatian terhadap inflasi diperkirakan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan moneter.
Presiden Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan mengatakan pada Kamis bahwa suku bunga perlu dinaikkan setidaknya 50 basis poin untuk meredam tekanan harga.
Sementara itu, Gubernur The Fed Lisa Cook memperingatkan bahwa inflasi yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu risiko besar pada 2027.
Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan masih memperkirakan kenaikan suku bunga tambahan diperlukan untuk menekan inflasi hingga 2027. Namun, dia belum memastikan apakah kenaikan berikutnya akan dilakukan pada Oktober.
Pada awal pekan ini, data inflasi yang menjadi indikator pilihan The Fed menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan. Inflasi umum maupun inflasi inti secara tahunan sama-sama melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, inflasi umum masih berada jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen secara tahunan.
Setelah data inflasi tersebut dirilis, pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober secara signifikan. Namun, sebelumnya investor masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun.
(DESI ANGRIANI)






