Ekonom Sentil Defisit Perdagangan USD5,62 Miliar dengan Singapura, Indonesia Banyak Dirugikan

Ekonom Sentil Defisit Perdagangan USD5,62 Miliar dengan Singapura, Indonesia Banyak Dirugikan

Ekonomi | sindonews | Senin, 2 November 2026 - 17:24
share

Hubungan dagang Indonesia dengan Singapura dinilai perlu diperbaiki agar lebih seimbang. Pasalnya selama ini, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didin S. Damanhuri menilai Indonesia masih banyak dirugikan.

Didin memberikan salah satu contoh minyak mentah yang selama ini Indonesia melakukan ekspor ke Singapura. Namun Indonesia kembali melakukan impor BBM (bahan bakar minyak) untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Pada tahun 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor minyak mentah RI ke Singapura tembus 54 ribu ton. Sementara impor BBM dari Singapura ke Indonesia sendiri mencapai 14,63 juta ton pada periode yang sama.

"Hubungan kita dengan Singapura itu saling tergantung. Misalnya kita mengimpor minyak olahan, tetapi bahan bakunya berasal dari Indonesia. Singapura memiliki kilang untuk mengolah minyak mentah tersebut sehingga Indonesia membutuhkan hasil pengolahannya," ujar Didin saat dihubungi MNC Portal, Minggu (1/11).Baca Juga: Menakar Ancaman Ketahanan Energi Nasional di Tengah Tensi Panas Indonesia-Singapura

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat, secara keseluruhan nilai ekspor Indonesia ke Singapura pada tahun 2025 mencapai USD13,44 miliar. Nilai ini termasuk ekspor minyak mentah, peralatan listrik, timah, produk kimia, besi dan baja, nikel, hingga berbagai macam makanan olahan.

Sementara itu, nilai impor Indonesia dari negara tersebut tercatat sebesar USD19,06 miliar. Jumlah ini termasuk BBM, perangkat optik, barang dari plastik, produk olahan kimia, barang olahan dari besi dan baja, hingga mesin dan peralatan listrik. Dengan demikian, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Singapura sekitar USD5,62 miliar sepanjang tahun lalu.

"Jadi dengan segala posisi geografi, sumber daya alam, jadi harus saling ketergantungan dan win-win, yang menurut saya sekarang ini masih win-lose, Indonesia banyak dirugikan," kata Didin.

Baca Juga: Singapura Panggil 10 Petinggi Sawit, Mendag Budi Buka Suara Kondisi Neraca DagangMenurutnya, Indonesia selama ini lebih banyak berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku, sementara Singapura memiliki posisi strategis dalam pengolahan, perdagangan, dan distribusi produk bernilai tambah. Kondisi tersebut membuat Indonesia belum memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga komoditas yang diperdagangkan.

"Indonesia ekspor bahan baku, tetapi kita besar mengimpor barang jadi, misalnya BBM. Tetapi kemudian dalam penentuan harga tidak dianggap apa-apa. Dalam migas juga market diatur di sana, kita kan bukan penentu harga," jelasnya.

Dihubungi secara terpisah, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini menilai konflik sentimen yang tengah terbangun antara Indonesia dan Singapura seharusnya menjadi titik koreksi bagi pemerintah.

Ia menilai defisit neraca dagang yang terjadi antara Indonesia dan Singapura disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah untuk menghadirkan fasilitas produksi sendiri di dalam negeri. Akhirnya banyak perusahaan yang hanya sekedar melakukan ekspor ke luar dan ujungnya tidak ada penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

"Selama ini Singapura lebih banyak memanfaatkan sumber daya alam kita, dan dia mengelolanya mendapatkan nilai tambah yang tinggi dan lebih dari Indonesia. Itu karena dia menggunakan teknologi," kata Didik.

Topik Menarik