DBS Sangkal Isu Merger dengan BCA
DBS Group menegaskan rumor yang menyebut anak usahanya, PT Bank DBS Indonesia, akan merger dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tidak benar. Bantahan disampaikan setelah isu tersebut membuat saham BCA sempat melonjak lebih dari 7 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (28/10/2026).
"Tidak ada kebenaran dalam rumor ini," kata juru bicara DBS, dikutip dari The Business Times, Kamis (29/10/2026). Sementara itu, Head of Group Marketing and Communications Bank DBS Indonesia, Mona Monika, juga menegaskan, "Isu tersebut tidak benar adanya."
Baca Juga:Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Melesat Tumbuh 12,6
Rumor yang beredar di media sosial Threads dan X menyebut DBS Indonesia berpotensi digabungkan ke BCA melalui transaksi non-tunai atau inbreng. Dalam skema tersebut, DBS dikabarkan akan menerima saham baru BCA sebagai imbalan atas kepemilikan 99 saham di DBS Indonesia, sementara BCA memiliki 1 sisanya.
Dalam rumor tersebut, BCA disebut tetap menjadi entitas yang bertahan setelah merger, sedangkan DBS akan menjadi pemegang saham BCA. Namun, DBS menegaskan spekulasi tersebut bukan merupakan aksi korporasi yang telah diumumkan secara resmi.Isu merger itu dikaitkan dengan lonjakan harga saham BCA hingga 7,65 ke level Rp5.275 per saham pada perdagangan Rabu. Pada perdagangan Kamis, saham BCA sempat terkoreksi 4,27 ke level Rp5.050 per saham pada penutupan sesi pertama.
Meski DBS membantah rumor tersebut, sejumlah analis menilai kombinasi operasi DBS Indonesia dan BCA secara teoretis dapat membawa manfaat strategis. Chief Investment Officer Four Capital, Ricky Ho, menyatakan DBS Indonesia memiliki basis kuat di perbankan korporasi, treasury, pengelolaan kekayaan, dan klien institusi.Menurut Ricky, kekuatan tersebut dapat melengkapi basis simpanan domestik, ekosistem pembayaran, serta jaringan distribusi ritel BCA yang sangat kuat. Penggabungan keduanya berpotensi membuka peluang di pembiayaan korporasi, transaction banking, pembiayaan lintas negara, pengelolaan kekayaan, dan pendapatan berbasis fee.
Namun, Ricky menilai kontribusi finansial dari transaksi semacam itu relatif terbatas. Ia kesulitan melihat bagaimana transaksi tersebut sendiri dapat mengubah lintasan laba BCA secara fundamental atau membenarkan re-rating valuasi yang signifikan.
Baca Juga:KPK Geledah Kantor Bea Cukai Kudus dan PT Djarum
Analis Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menyatakan penurunan valuasi BCA akibat ketidakpastian rencana MSCI menurunkan status Indonesia menjadi Standalone Market secara teoretis dapat membuat bank tersebut lebih menarik bagi investor strategis. Meski demikian, kemungkinan akuisisi tetap bergantung pada kesediaan pemegang saham, kapasitas pendanaan, dan persetujuan regulator.BCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan aset, dengan total aset Rp1.641 triliun per September 2026. PT Dwimuria Invest Andalan, unit investasi Grup Djarum, masih menjadi pemegang saham pengendali BCA dengan kepemilikan 54,94.
Valuasi BCA mengalami tekanan signifikan sepanjang 2026, dengan harga sahamnya turun sekitar 35 hingga akhir Oktober akibat volatilitas pasar, arus keluar investor asing, dan kekhawatiran atas potensi rekategorisasi Indonesia oleh MSCI. Kapitalisasi pasar BCA pun turun menjadi sekitar Rp648 triliun.
Sebelumnya, DBS juga pernah dikaitkan dengan rencana akuisisi bank di Indonesia. Pada 2012, DBS menyetujui akuisisi 67,37 saham Bank Danamon senilai sekitar S$6,2 miliar, tetapi transaksi tersebut gagal pada 2013 setelah Bank Indonesia hanya menyetujui akuisisi awal hingga 40.










