Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.137 per Dolar AS

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.137 per Dolar AS

Ekonomi | okezone | Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:57
share

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (29/10/2026), naik 47 poin atau sekitar 0,26 persen ke level 18.137 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakn Wakil Presiden AS JD Vance berupaya menghidupkan kembali negosiasi damai dengan mengirimkan surat kepada kepala Dewan Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, demikian dilaporkan Wall Street Journal pada hari Rabu.

"Secara bersamaan Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Teheran tetap memberikan kesempatan bagi diplomasi untuk berhasil, seraya mengisyaratkan kemungkinan untuk menyelesaikan rencana tujuh hari mereka dalam waktu kurang dari sepekan, jika rencana tersebut disepakati," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Seorang pejabat yang mengetahui jalannya negosiasi mengungkapkan bahwa mediator dari Qatar telah menyampaikan draf kesepakatan baru kepada Iran untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel. Namun, seorang pejabat senior Iran menolak draf tersebut, menyebut gagasan yang diajukan tidak dapat diterima dan bahkan tidak bisa dianggap sebagai sebuah tawaran serius.

Sebelumnya, Pasukan pemerintah Yaman menyatakan bahwa kelompok Houthi menyerang bandara Aden pada hari Rabu. Serangan tersebut terjadi sehari setelah kelompok Houthi mengeklaim telah menghantam kilang minyak terbesar Arab Saudi dengan rudal, yang menandai peningkatan serangan terhadap produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Sebelumnya, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4 persen. Keputusan ini diwarnai oleh perbedaan pendapat dari dua pejabat yaitu Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, yang memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

 

Sementara itu Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi persnya mengatakan bahwa pengetatan kebijakan The Fed mulai menunjukkan hasil, meskipun inflasi masih berada di tingkat yang tinggi. Namun, ia menegaskan kembali komitmen komite untuk mencapai stabilitas harga. Ia menekankan bahwa tidak ada istilah "inflasi ringan"; yang ada hanyalah target stabilitas harga, yakni sebesar 2 persen sebagaimana diukur melalui indikator PCE.

Dari sentimen dalam negeri, aksi protes mahasiswa yang semakin marak saat ini dapat meningkatkan ketidakpastian politik dan membuat investor lebih berhati-hati. Aksi tersebut juga menjadi momentum bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyampaikan keresahan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang telah berjalan selama dua tahun.

"Sementara itu, harga minyak di atas USD 100 per barel meningkatkan biaya subsidi BBM dan energi, sehingga menambah beban APBN. Jika kedua kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap rupiah, inflasi, dan stabilitas ekonomi Indonesia dapat semakin besar," kata Ibrahim.

Selain itu, pelaku pasar sedang berhati-hati karena menunggu data inflasi Oktober yang akan diumumkan pekan depan. Sebelumnya, inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, yang berarti harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan.

Jika inflasi Oktober kembali naik, daya beli masyarakat bisa menurun karena kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mahal. Selain itu, Bank Indonesia mungkin mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi.

Akibatnya, pergerakan rupiah dan keputusan investor dapat terpengaruh karena mereka cenderung menunggu kondisi ekonomi lebih jelas sebelum mengambil keputusan.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.130-Rp18.180 per dolar AS.

Topik Menarik