Lestarikan Tenun Lokal, Rumah Tenun Magelang Berdayakan Pekerja Rumahan
Rumah Tenun Magelang (RTM), usaha tenun keluarga yang dipimpin Relly Saryanto bersama suaminya, Riffatka Ridwan, mengembangkan bisnis produk tenun dengan mengedepankan pelestarian keterampilan tradisional dan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari pengalaman memproduksi tenun untuk merek lain, terutama pasar ekspor, RTM kini berupaya memperluas pasar dengan membawa identitas Indonesia melalui mereknya sendiri.
"Mengembangkan RTM bukan hanya soal memperluas pasar, tapi juga membuka lebih banyak kesempatan bagi orang-orang yang jadi bagian dari perjalanan RTM selama ini," kata Relly dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Baca Juga:Dukung Ekonomi Lokal Lombok, Pertamina Patra Niaga Hadirkan Galeri Mina Tenun
Sebelum mendirikan RTM, keluarga Relly telah bertahun-tahun memproduksi berbagai produk tenun untuk merek lain yang dipasarkan ke sejumlah negara. Namun, produk tersebut tidak membawa nama Indonesia, sehingga mendorong keluarga itu membangun merek sendiri sekaligus menjaga keterampilan menenun agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Harta Kekayaan Kalapas Cibinong Wisnu Hani Putranto Rp3,18 Miliar, Punya 3 Rumah di Jaksel
RTM mengembangkan produk dari aksesori fesyen hingga dekorasi rumah dengan memanfaatkan berbagai serat alami. Dalam menjalankan usahanya, RTM bekerja sama dengan masyarakat sekitar, membuka kesempatan kerja bagi pekerja rumahan, serta melatih orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman menenun.Upaya pemberdayaan tersebut semakin terarah setelah RTM mengikuti program Instellar & IKEA Social Entrepreneurship Accelerator (I-SEA). Melalui program itu, RTM mulai memetakan dampak sosial dari kegiatan bisnisnya dan melihat pertumbuhan usaha tidak hanya dari penjualan produk, tetapi juga dari peluang ekonomi yang tercipta bagi pekerja, perajin, dan pihak lain dalam rantai nilai.
Pengembangan usaha di Magelang memiliki tantangan tersendiri karena daerah tersebut tidak memiliki banyak penenun. Oleh karena itu, RTM harus melatih sebagian besar pekerjanya dari awal, mulai dari teknik menenun dan pengolahan serat alami hingga pemenuhan standar produksi dan kualitas. Proses pelatihan tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan baru sekaligus sumber penghasilan.Baca Juga:La Suntu Tastio, UMKM Binaan BRI yang Angkat Tradisi lewat Produk Tas Tenun
Relly menceritakan salah seorang pekerja rumahan yang sebelumnya terlilit utang kepada rentenir. Penghasilan dari pekerjaannya bersama RTM membantu pekerja tersebut melunasi utang sekaligus membiayai pendidikan anaknya. Pengalaman itu menjadi salah satu gambaran manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan dari pengembangan usaha berbasis masyarakat.
RTM menargetkan perluasan pemasaran produk ke lebih banyak pasar di Asia sembari mengeksplorasi potensi beragam serat alami. Perusahaan berharap pertumbuhan bisnis tersebut dapat berjalan beriringan dengan pelestarian keterampilan menenun dan penciptaan kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat yang terlibat dalam rantai produksinya.










