Gus Miftah Puji Dasco di Usia 59 Tahun: Tenang, Tegas, dan Tak Cari Panggung

Gus Miftah Puji Dasco di Usia 59 Tahun: Tenang, Tegas, dan Tak Cari Panggung

Nasional | sindonews | Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:28
share

Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Miftah Maulana Habiburrahman atau disapa Gus Miftah memuji kepemimpinan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang hari ini genap berusia 59 tahun. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Gus Miftah memajang potret kebersamaan mereka sembari melontarkan sederet sanjungan atas integritas kepemimpinan sang sahabat.

Diketahui, Wakil Ketua DPR sekaligus politisi senior Partai Gerindra tersebut genap bertambah usia pada Rabu, 7 Oktober 2026. Pria bernama lengkap Sufmi Dasco Ahmad ini juga tersohor sebagai sosok penengah yang kerap meredam ketegangan politik nasional. Alhasil, sang da'i mengapresiasi dedikasi tokoh bangsa yang memilih bergerak di balik layar demi kebaikan rakyat.

Dai berambut gondrong ini secara khusus membeberkan pandangannya mengenai gaya kepemimpinan sang politikus Senayan yang sangat membumi. Selain itu, ia menilai kiprah sang legislator menjadi teladan nyata bagi pejabat publik di tengah dinamika demokrasi saat ini.

Baca juga: Dasco Ulang Tahun, Kamir Abdullah Doakan Bisa Jalankan Amanah untuk Bangsa dan Negara

Sang ulama menyoroti karakter kepemimpinan politikus kelahiran Bandung tersebut yang selalu mengedepankan ketenangan dalam mengambil keputusan krusial. Di sisi lain, publik melihat sosok berjuluk Don Dasco ini mampu menjembatani berbagai aspirasi masyarakat secara elegan dan lugas.

"Don Dasco, tenang tanpa kehilangan ketegasan, kuat tanpa harus gaduh, dan bekerja tanpa selalu meminta panggung," ujar Gus Miftah saat dihubungi awak media, Rabu (7/10/2026).

"Don Dasco bekerja dalam senyap, hadir saat dibutuhkan, dan bicara ketika keadaan membutuhkan jalan keluar," sambungnya.

Tayangan cuplikan ceramah pada slide kedua unggahan media sosial tersebut turut menampilkan dialog sang ustaz bersama seorang jemaah perempuan asal Jawa Barat. Dialog tersebut membahas persoalan hukuman terhadap pelaku korupsi.

Seorang wanita bernama Mega asal Bogor melontarkan pertanyaan tajam terkait wacana eksekusi mati serta perampasan aset para pelaku korupsi. Selanjutnya, sang pendakwah langsung menanggapi keresahan tersebut dengan nada bicara tegas di hadapan ribuan hadirin yang memadati lokasi. "Mengambil hak rakyat terlalu banyak, maka hukum mati," ujar Gus Miftah. Sementara itu, Gus Miftah kembali meminta tanggapan hadirin mengenai penyitaan aset pelaku korupsi oleh negara. Hadirin dan Mbak Mega kemudian menjawab pertanyaan tersebut secara bersamaan. "Kamu setuju asetnya dirampas oleh negara?" tanya Gus Miftah.

Dai nyentrik ini mengecam keras perilaku tamak para koruptor yang tega menimbun kekayaan haram meski telah mengantongi gaji resmi dari negara. Pasalnya, harta hasil kejahatan kerah putih tersebut sering kali melimpah ruah hingga mustahil habis termakan oleh tujuh generasi keturunan.

Sang penceramah secara terbuka mengaitkan ketegasan hukum tersebut dengan integritas pimpinan parlemen yang berani mendengar aspirasi akar rumput. Oleh karena itu, ia memberikan penghormatan khusus kepada figur pimpinan dewan yang rela pasang badan menemui massa aksi unjuk rasa.

Pimpinan DPR tersebut tercatat berulang kali turun langsung menandatangani pakta integritas bersama mahasiswa serta elemen buruh saat demonstrasi memanas. "Dan pimpinan DPR yang berani tanda tangan atas demo rakyat," pungkas Gus Miftah.

Topik Menarik