Senator AS Kecam Trump: Perang Iran Sudah Habiskan Rp1.763 Triliun, Nambah Rp17,6 Miliar Per 2 Menit

Senator AS Kecam Trump: Perang Iran Sudah Habiskan Rp1.763 Triliun, Nambah Rp17,6 Miliar Per 2 Menit

Global | sindonews | Selasa, 8 September 2026 - 13:26
share

Senator Partai Demokrat, Mark Warner, mengecam keras Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait biaya dan strategi perang Amerika melawan Iran. Menurutnya, pemerintah memulai perang tanpa jalan yang jelas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam sebuah pesan video yang diunggah di X, Warner mengatakan bahwa perang tersebut telah menghabiskan biaya USD100 miliar (lebih dari Rp1.763 triliun) bagi rakyat Amerika, dengan angka yang terus meningkat sebesar USD1 juta (Rp17,6 miliar) setiap dua menitnya.

Baca Juga: Iran Pamer Rudal Ganas, Eksekutor Doktrin Preemptive: 'Hantam Musuh sebelum Menyerang'

"Perang pilihan melawan Iran yang dimulai Donald Trump telah menelan biaya USD100 miliar bagi rakyat Amerika," ujar Warner. "Setiap dua menit, biayanya bertambah USD1 juta lagi," lanjut dia, seperti dikutip Roya News, Selasa (8/9/2026).

Warner berpendapat bahwa beban biaya finansial akan terus membengkak tanpa adanya kemajuan menuju tujuan-tujuan yang digariskan Trump untuk perang tersebut.

"Jika Anda melihat ini—katakanlah, satu jam setelah saya merekamnya—sudah ada tambahan USD30 juta lagi, dan di mana posisi kita? Tidak ada kemajuan sama sekali terkait tujuan-tujuan yang ditetapkan Trump untuk perang pilihan ini," paparnya.Senator tersebut mengatakan bahwa situasi ini mencerminkan konsekuensi dari keterlibatan dalam perang tanpa persiapan yang memadai atau strategi yang jelas.

"Inilah yang terjadi ketika Anda memulai perang pilihan tanpa rencana, tanpa strategi, tanpa sekutu, dan tanpa jalan keluar," kata Warner.

Dia menutup kritik pedasnya dengan mendesak rakyat Amerika untuk menentang pendekatan pemerintah Trump, dengan mengatakan: "Bangkitlah, bersuara, dan lawanlah."

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Teheran akan menetapkan zona maritim terbatas yang membentang dari garis blokade AS hingga ke sebagian wilayah Teluk Persia. Teheran mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap kapal-kapal yang memasuki zona baru tersebut.

Rezaei juga menyatakan bahwa peluncuran rudal Iran baru-baru ini dimaksudkan sebagai peringatan bagi Washington dan menandakan perubahan mendasar dalam pendekatan Teheran terhadap pasukan militer AS di kawasan tersebut."Perang ekonomi akan dibalas dengan penerapan zona larangan melintas maritim yang membentang dari Teluk Persia hingga ke perimeter blokade," ujar Rezaei.

"Postur operasional terhadap kapal perang dan pangkalan militer AS telah disesuaikan kembali secara mendasar," imbuh dia.

Pernyataan Rezaei muncul setelah terjadinya kembali bentrokan antara AS dan Iran, termasuk serangan AS terhadap kapal tanker minyak Iran serta serangan Iran terhadap kapal perang AS. Eskalasi ketegangan ini telah menyebabkan penurunan tajam lalu lintas kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan energi global, dengan jutaan barel minyak yang melintasinya setiap hari. Pembatasan lebih lanjut terhadap pelayaran dapat meningkatkan tekanan pada pasar energi global dan memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan.

Harga minyak mentah Brent naik melampaui angka USD97 per barel pada hari Senin seiring dengan meningkatnya ketegangan di sekitar jalur perairan tersebut.Rezaei juga mengungkapkan bahwa Iran dan Oman sedang mengupayakan pembentukan koridor pelayaran internasional baru yang melintasi selat tersebut, di mana Teheran dan Muscat diperkirakan akan merampungkan kesepakatan dalam waktu dekat. Rincian mengenai rute yang diusulkan itu belum dipublikasikan.

Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan tetap terbuka jika Amerika Serikat menghentikan tindakan yang oleh Teheran disebut sebagai serangan, ancaman, dan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Rencana penerapan zona pembatasan ini menambah dimensi baru dalam konfrontasi yang terjadi, meningkatkan ketidakpastian bagi pelayaran komersial, serta memperbesar risiko eskalasi lebih lanjut di kawasan Teluk.

Topik Menarik