Trump Pertimbangkan untuk Melenyapkan Seluruh Negara Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dia sedang mempertimbangkan untuk melenyapkan seluruh negara Iran di tengah klaim bahwa Amerika bersiap untuk melanjutkan aksi militer terhadap rezim republik Islam tersebut.
Presiden AS itu juga mengisyaratkan bahwa dia bisa "membiarkan mereka hancur secara ekonomi"—sementara Teheran terhimpit oleh blokade Angkatan Laut—atau mencapai kesepakatan damai.
Baca Juga: Menkeu AS: Besok, Seluruh Maskapai Penerbangan Iran Berhenti Beroperasi di Seluruh Dunia
Pada hari Minggu, Iran menyatakan sedang bersiap menghadapi kemungkinan serangan udara dan mengancam akan melakukan pembalasan.
Kedutaan Besar AS dan Departemen Luar Negeri AS sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keamanan bagi para warga Amerika di seluruh Timur Tengah di tengah memanasnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.Trump, yang meninggalkan tempat peristirahatan presiden di Camp David lebih awal dari jadwal pada hari Sabtu untuk kembali ke Gedung Putih, mengatakan kepada Fox News bahwa dia sedang dalam "mode pengambilan keputusan". "Hal-hal yang sangat besar akan terjadi dalam waktu dekat," katanya."Pilihannya adalah melenyapkan Iran, membiarkan mereka hancur secara ekonomi, atau membuat kesepakatan," ujarnya, yang dikutip The Telegraph, Selasa (22/9/2026). "Pertanyaan saya adalah apakah dan kapan saya akan melenyapkan seluruh negara itu?"
Hal ini menandai kembalinya retorika Presiden Trump yang lebih agresif, sementara kesepakatan damai atau kemenangan telak atas Teheran terus sulit dicapainya.
Sebelumnya, dia pernah mengancam akan "menghancurkan seluruh negara", "mengebom Iran hingga kembali ke Zaman Batu", dan menyatakan pada bulan Mei: "Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dibangkitkan kembali."
Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan telah memperingatkan presiden bahwa perang tersebut dapat berlangsung sepanjang masa jabatannya, yang dijadwalkan berakhir pada Januari 2029. Namun, ancaman semacam itu bersifat sporadis sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April.
Komando militer Iran menyatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah menerima informasi intelijen yang menyebutkan AS berencana bertindak bersama negara-negara Timur Tengah lainnya untuk melanjutkan kembali aksi militer, yang sebagian besar bersifat sporadis sejak awal April.Sebagai tanggapan, Teheran mengancam akan melancarkan serangan berkelanjutan terhadap pangkalan, kepentingan, dan sekutu AS di kawasan tersebut.
Trump mengatakan dia "kemungkinan" terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat keduanya menghadiri Sidang Umum PBB di New York yang dimulai pada hari Selasa.
Upaya negosiasi sebelumnya terkendala oleh masalah kendali atas Selat Hormuz—wilayah yang diklaim Iran sebagai kedaulatannya—serta ketegangan antara para pemimpin sipil Iran yang moderat dan kelompok garis keras militer.
Trump mengkritik para pejabat Iran—yang dia tuduh "bersembunyi seperti tikus"—dan menyatakan bahwa tidak ada komunikasi langsung yang terjalin antara AS dan Iran.
Presiden AS itu juga tampak mengisyaratkan bahwa dia tidak akan campur tangan dalam konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi, dengan mengatakan bahwa kelompok proksi Iran tersebut telah "sepakat untuk tidak memerangi Amerika Serikat".Terlepas dari peringatan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS dan berbagai kedutaan besar, dia mengeklaim situasi saat ini "tidak berbeda dengan akhir pekan lainnya".
Kelompok Houthi merebut wilayah pesisir Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb dalam serangan militer kilat bulan ini. Hal ini berarti mereka berpotensi melumpuhkan lalu lintas pelayaran di jalur air tersebut dan menimbulkan dampak lebih lanjut terhadap ekonomi dunia.
Pada hari Sabtu, kelompok pemberontak Yaman tersebut meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal ke arah Riyadh serta fasilitas minyak Arab Saudi, yang menandai eskalasi signifikan dalam konflik tersebut.
Kedutaan besar Amerika di seluruh Timur Tengah mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga negara AS pada Minggu pagi, memperingatkan adanya potensi eskalasi yang tak terduga dan mendesak warga untuk meningkatkan kewaspadaan.
Kalahkan Pendukung Israel, Aisha Wahab Jadi Warga AS Keturunan Afghanistan Pertama di Kongres
"Waspadai kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan," imbuh pemberitahuan tersebut.Departemen Luar Negeri AS pada hari Sabtu memperingatkan warga Amerika agar tidak bepergian ke Timur Tengah, dengan menyatakan bahwa konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi "berpotensi meningkat dengan cepat".
Direktur CIA John Ratcliffe telah bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dalam sebuah kunjungan yang jarang terjadi ke Kairo pada hari Minggu.
Menurut Kantor Presiden Sisi, mereka membahas situasi terkait Iran, serangan di kawasan Teluk, serta ancaman terhadap keamanan maritim. Presiden Mesir tersebut menekankan "pentingnya penyelesaian krisis regional melalui jalur politik dan diplomatik".






