Sjafrie Tinjau Kesiapan Prajurit TNI dalam Complex Warfare Course, Operasi Siber hingga Drone

Sjafrie Tinjau Kesiapan Prajurit TNI dalam Complex Warfare Course, Operasi Siber hingga Drone

Nasional | sindonews | Senin, 31 Agustus 2026 - 17:57
share

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto meninjau kesiapan prajurit TNI yang mengikuti Complex Warfare Course. Peninjauan dilakukan di Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus), Batujajar, Jawa Barat, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kesiapan prajurit dalam mengikuti pendidikan dan latihan yang dirancang untuk meningkatkan profesionalisme serta kemampuan menghadapi perkembangan lingkungan strategis.

Complex Warfare Course menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan dan kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan operasi yang semakin kompleks. Materi yang diberikan juga disesuaikan dengan perkembangan pola peperangan modern.

Baca juga: Menhan Beri 'Keistimewaan' ke Warga Suku Dayak untuk Masuk TNI

“Setiap pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan yang diperoleh selama latihan harus semakin memperkuat jati diri sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional,” kata Sjafrie kepada seluruh prajurit dikutip dari Kemhan, Senin (31/8/2026).Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memastikan prajurit memiliki kemampuan yang adaptif dan profesional, serta mampu melaksanakan tugas secara terintegrasi dalam menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.

Lihat video: Menhan China Temui Sjafrie Sjamsoeddin di Kemenhan, Bahas Apa?

Dalam program Complex Warfare Course, kurikulum disusun mengikuti perubahan karakter peperangan modern. Pola pertempuran konvensional yang sebelumnya cenderung linear kini berkembang menjadi peperangan multidomain yang menuntut integrasi berbagai kemampuan dan matra.

Salah satu materi yang diberikan adalah modern warfare yang menekankan interoperabilitas multi-matra. Dalam skenario tersebut, prajurit dari tiga matra dituntut mampu mengoordinasikan serangan udara dengan pergerakan kapal perang dan pasukan darat secara real-time.

Selain itu, materi mencakup operasi siber dan perang asimetris, peperangan elektronika, penggunaan drone atau Unmanned Aerial Vehicle/Unmanned Surface Vehicle (UAV/USV), hingga kemampuan pertempuran jarak dekat dan perang kota (urban warfare).

Melalui pendidikan tersebut, prajurit diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan tempur individual, tetapi juga mampu beroperasi secara terpadu dalam menghadapi bentuk ancaman yang semakin kompleks dan multidimensional.

Topik Menarik