Kemendagri Gelar Pameran Batik Guna Perkuat Nilai Kebinekaan pada Generasi Muda
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Ditjen Polpum) berkolaborasi dengan Institut Pluralisme Indonesia, Ford Foundation, dan Perum LKBN Antara, menyelenggarakan pameran dengan judul Mozaik Indonesia: Gen-Next Batik Bhinneka Tunggal Ika untuk Regenerasi Budaya dan Kolaborasi Kreatif. Pameran Batik Bhinneka Tunggal Ika dilaksanakan pada Senin, 18 Mei 2026 bertempat di Antara Heritage Center, Jakarta.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka pelestarian batik sebagai identitas budaya bangsa, sekaligus sebagai ruang kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat nilai kebhinekaan melalui seni dan budaya. Dalam acara ini dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan umum, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Andi Baso Indra Paharuddin, Wakil Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendagri Ida Mahendra, serta Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Direktur Institut Pluralisme Indonesia, Wakil Ketua Pembina Yayasan Pluralisme Indonesia, Direktur Regional Ford Foundation dan Perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif.
Wakil Ketua DWP Kemendagri Ida Mahendra mengatakan seluruh karya batik yang ditampilkan memiliki memiliki makna yang sangat kaya. Setiap karya tidak hanya menampilkan keindahan motif dan warna, tetapi juga memuat pesan kebhinekaan, persatuan, gotong royong, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya Indonesia.
"Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai ruang pembelajaran, pelestarian budaya, serta penguatan karakter kebangsaan melalui batik," kata Ida dalam acara Batik Bhinneka Tunggal Ika di Antara Heritage Center, Jakarta.
Sementara itu, Direktur Utama Perum LKBN Antara Benny Siga Butarbutar menyampaikan program Batik Bhinneka Tunggal Ika dipandang bukan hanya sebagai slogan, melainkan sebagai identitas dialog kebangsaan dan budaya yang sehat. Dalam hal ini, Antara Heritage bukan hanya dimaknai sebagai tempat, tetapi juga sebagai ruang bersama untuk mewujudkan pelestarian budaya."Batik merupakan identitas budaya bangsa yang harus terus hidup di ruang publik," ujar Benny.
Direktur Institut Pluralisme Indonesia menyampaikan pameran ini merupakan bagian dari kegiatan membatik manusia Indonesia sebagai wujud nyata pelestarian budaya. IPI berkolaborasi dengan Ford Foundation dalam menyukseskan program Batik Bhinneka Tunggal Ika.
Program tersebut bertujuan untuk merevitalisasi batik sekaligus membangkitkan kembali semangat gotong royong sebagai inti dari jiwa bangsa Indonesia. Proses kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu mempelajari perspektif generasi muda, kemudian mendesain batik berdasarkan cara pandang generasi muda terhadap keberagaman.
Dalam pameran ini terdapat 19 karya batik siswa yang ditampilkan dengan tema Bhinneka Tunggal Ika, serta karya batik yang telah dikelompokkan mulai dari batik klasik hingga batik kontemporer.
Wakil Ketua Pembina Yayasan Pluralisme Indonesia menyatakan bahwa batik merupakan sarana ekspresi kehidupan masyarakat. Batik tidak hanya dipandang sebagai karya seni, tetapi juga sebagai wujud pengembangan diri manusia. Melalui batik, nilai martabat manusia, keberagaman, dan pluralisme dapat ditanamkan secara halus kepada masyarakat. "Di dalam diri para pengrajin dan generasi muda, nilai pluralisme dapat dikembangkan melalui bentuk, motif, warna, dan makna batik. Dengan demikian, seni batik secara tidak langsung menjadi media untuk menanamkan pola pikir kebhinekaan dan penghargaan terhadap perbedaan."
Pada kesempatan yang sama, Direktur Regional Ford Foundation menyampaikan bahwa batik dapat menjadi media pendidikan pluralisme bagi generasi muda. Kerja sama antara Ford Foundation dan Institut Pluralisme Indonesia berawal dari penelitian mengenai pluralisme di 12 wilayah di Indonesia.
Sejak 2021, kerja sama tersebut difokuskan pada program revitalisasi Batik Bhinneka Tunggal Ika. Program ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman generasi muda terhadap keberagaman Indonesia melalui pendekatan budaya yang kreatif, edukatif, dan mudah diterima.
Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Rima Agristina mengatakan kegiatan yang dilakukan oleh IPI bukan hanya memberikan kontribusi terhadap peradaban, tetapi juga membangun budaya pluralisme. Pancasila pada esensinya merupakan wujud dari nilai gotong royong, dan melalui batik nilai-nilai tersebut dapat diterapkan serta disampaikan kepada generasi muda.
"Diharapkan generasi muda dapat meneruskan esensi budaya bangsa yang sejalan dengan ideologi Pancasila, sehingga program ini dapat memberikan dampak positif terhadap penguatan keberagaman nasional," kata Rima.Sedangkan, Perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif menyampaikan bahwa batik bukan hanya berupa kain, tetapi juga merupakan identitas budaya dan wujud moral dari semangat Bhinneka Tunggal Ika. Kegiatan ini mencerminkan implementasi nilai Asta Ekraf karena mempertemukan unsur pemerintah, pendidik, pembatik, pelaku ekonomi kreatif, serta generasi muda.
Disampaikan bahwa masa depan ekonomi kreatif berada di tangan generasi muda, sehingga program seperti ini perlu terus dikembangkan. Budaya tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga harus terus dikolaborasikan dengan kreativitas generasi muda sebagai ujung tombak budaya Indonesia.
Pameran Batik Bhinneka Tunggal Ika ini menjadi salah satu wujud nyata dalam pelestarian budaya bangsa melalui kolaborasi lintas sektor. Batik dipandang bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan pluralisme, penguatan nilai Pancasila, serta sarana untuk menanamkan semangat kebhinekaan kepada generasi muda. Melalui kegiatan ini, diharapkan pelestarian batik dapat terus dikembangkan secara kreatif, inklusif, dan berkelanjutan.









