IHSG, Rupiah, dan Ujian Ketahanan Ekonomi Nasional

IHSG, Rupiah, dan Ujian Ketahanan Ekonomi Nasional

Nasional | sindonews | Rabu, 13 Mei 2026 - 06:40
share

KusfiardiAnalis Ekonomi Politik dan Co-Founder FINE Institute

PERGERAKAN Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah sepanjang April hingga Mei 2026 kembali memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi nasional. IHSG sempat terkoreksi cukup dalam, sementara Rupiah bergerak di kisaran Rp17.000 per dolar AS di tengah tekanan global dan meningkatnya ketidakpastian arus modal internasional.

Namun, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah pasar sedang melemah. Pasar memang selalu bergerak dalam siklus naik dan turun.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa setiap kali tekanan global meningkat, ekonomi Indonesia kembali terlihat rentan?

Di titik ini, kita perlu berhenti melihat gejolak pasar hanya sebagai fenomena teknikal jangka pendek. Volatilitas IHSG dan Rupiah seharusnya dibaca sebagai refleksi dari struktur ekonomi nasional yang masih menghadapi persoalan mendasar: ketergantungan pada arus modal jangka pendek, lemahnya basis industri bernilai tambah tinggi, serta dangkalnya pasar keuangan domestik.Tetapi membaca kerentanan struktural tidak berarti menegasikan seluruh capaian ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif terjaga dibanding banyak negara berkembang lain.

Konsumsi domestik tetap menjadi bantalan penting. Stabilitas perbankan juga masih berada dalam kondisi yang cukup terkendali. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, hilirisasi sumber daya alam mulai menciptakan fondasi baru bagi transformasi industri nasional.

Karena itu, pendekatan yang terlalu alarmistik justru berisiko menciptakan distorsi persepsi publik dan memperburuk sentimen pasar secara tidak perlu. Yang dibutuhkan saat ini bukan kepanikan, melainkan kejujuran membaca tantangan secara lebih dewasa.

Kita perlu mengakui bahwa struktur ekonomi Indonesia hingga saat ini masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi pada ekspor berbasis komoditas, impor bahan baku dan teknologi, serta aliran dana asing portofolio yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga global. Dalam kondisi eksternal yang bergejolak, struktur seperti ini membuat perekonomian nasional lebih rentan terhadap tekanan dari luar.

Dalam lanskap global yang semakin terfragmentasi, diwarnai perang dagang, tensi geopolitik energi, dan ketidakpastian arah suku bunga The Fed, model pertumbuhan ekonomi seperti ini menghadapi tantangan yang kian kompleks. Namun, tekanan eksternal juga bisa menjadi momentum koreksi strategis.Indonesia perlu mempercepat agenda transformasi ekonomi yang lebih substantif: bukan sekadar mengejar pertumbuhan angka, tetapi membangun ketahanan ekonomi jangka panjang.

Ada beberapa langkah penting yang perlu diprioritaskan.

Pertama, memperkuat industrialisasi berbasis nilai tambah domestik. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada ekspor semi-finished goods, tetapi harus mendorong pembentukan ekosistem manufaktur nasional yang lebih dalam.

Kedua, memperluas basis investor domestik dan memperdalam pasar keuangan nasional. Selama struktur pasar terlalu bergantung pada aliran dana asing jangka pendek, volatilitas akan terus menjadi persoalan berulang.

Ketiga, memperkuat kualitas institusi ekonomi. Kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, dan kredibilitas tata kelola menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar jangka panjang.Keempat, memperbesar investasi pada riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Ketahanan ekonomi modern tidak hanya dibangun dari cadangan devisa, tetapi juga dari kapasitas inovasi nasional.

Dalam konteks ini, kritik terhadap struktur ekonomi seharusnya tidak dipahami sebagai pesimisme terhadap Indonesia. Sebaliknya, kritik diperlukan agar negara tidak terjebak pada rasa puas semu ketika indikator makro terlihat stabil di permukaan, padahal fondasi produktivitas jangka panjang belum cukup kuat.

Ekonomi yang sehat bukan ekonomi yang tidak pernah mengalami tekanan. Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang memiliki kapasitas beradaptasi, memperbaiki kelemahan struktural, dan membangun daya tahan secara berkelanjutan.

Karena itu, pelemahan IHSG dan Rupiah saat ini sebaiknya dibaca bukan sebagai pertanda kiamat ekonomi, melainkan sebagai pengingat bahwa agenda transformasi struktural Indonesia belum selesai.

Di tengah perubahan ekonomi global yang semakin keras, kemampuan membaca risiko secara jernih sekaligus menjaga optimisme rasional akan menjadi faktor penting bagi masa depan ekonomi nasional.

Topik Menarik