Cerita Inspiratif dari UTBK 2026 di UNEJ: Peserta Disabilitas Berjuang Wujudkan Mimpi Kuliah
Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di Universitas Jember (UNEJ) hari pertama tidak hanya menjadi ajang seleksi akademik, tetapi juga menghadirkan kisah inspiratif tentang semangat inklusivitas.
Di antara ribuan peserta, hadir tiga pejuang penyandang disabilitas—Yogi Ardiansyah, Muhammad Derbian Dwi Putra, dan Carissa Vania Artamevira—yang menunjukkan tekad baja untuk melangkah ke jenjang perguruan tinggi.
Baca juga: Cerita Peserta UTBK SNBT 2026 di UI: Soal di Atas Ekspektasi, Banyak yang Tak Terjawab
Sejak fajar menyingsing, panitia telah bersiap menyambut para peserta. Ketua Pusat UTBK UNEJ, Prof. Drs. Slamin, menyampaikan bahwa pelaksanaan ujian pada hari pertama ini berjalan sangat lancar dan tertib. Peserta terpantau mulai mendatangi lokasi sejak pukul 05.00 WIB untuk melewati proses pemeriksaan di check point gerbang utama sebelum diarahkan menuju ruang transit dan ruang ujian.
"Manajemen waktu yang disiplin menjadi kunci kelancaran alur masuk peserta sehingga suasana ujian tetap kondusif. Selain kelancaran teknis, kami juga melakukan langkah preventif ketat untuk menjaga integritas ujian melalui pengawasan identitas dan pemantauan traffic data secara real-time guna mengantisipasi anomali. So far so good, tidak ditemukan kecurangan pada hari pertama," tegas Prof. Slamin.Baca juga: Peserta UTBK 2026 yang Curang Terancam Diblacklist hingga Dilarang Ikut Jalur Mandiri
Kelancaran sistem yang dibangun UNEJ turut dirasakan langsung oleh Yogi, Derbi, dan Carissa. Pihak kampus telah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang guna memastikan peserta penyandang disabilitas dapat mengikuti ujian dengan nyaman. Mulai dari pengaturan ruang ujian, pendampingan petugas, hingga aksesibilitas menuju lokasi ujian.
Ketiga peserta mengaku tidak menemui kendala teknis selama ujian berlangsung. Mereka bersyukur karena UNEJ menyediakan pelayanan terbaiknya. Dari sisi fasilitas, mereka menilai lingkungan ujian sangat mendukung kenyamanan peserta.
“Ruangannya bagus, AC-nya dingin, posisi kursi dan komputer juga sesuai dan sama sekali tidak menyulitkan. Hal-hal seperti itu membuat saya lebih tenang dan bisa fokus mengerjakan soal,” ucap Derbi.
Mereka turut mengapresiasi sikap petugas yang dinilai sigap dan membantu peserta penyandang disabilitas sejak awal kedatangan. “Petugasnya sangat ramah dan responsif. Dari awal kami datang sudah diarahkan ke ruang ujian, bahkan mobilitas seperti kursi roda juga dibantu dan dituntun. Itu sangat membantu, apalagi untuk kami yang membutuhkan pendampingan. Jadi tidak merasa sendirian saat menghadapi ujian.” ungkap Yogi.
Dalam proses pengerjaan soal, Yogi, peserta asal Jember, mengaku sempat mengalami kesulitan pada bagian penalaran matematika. Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknologi Informasi UNEJ. Yogi bahkan memiliki cita-cita menjadi dosen, terinspirasi dari para dosen UNEJ yang menurutnya keren dan memotivasi.
Sementara itu, Carissa, yang juga berasal dari Jember menghadapi tantangan saat mengerjakan soal pengetahuan kuantitatif. Ia tetap berusaha menyelesaikan ujian dengan maksimal. Carissa memiliki keinginan untuk melanjutkan studi di bidang Psikologi.
Puasa Syawal dalam Pandangan 4 Mazhab
Berbeda dengan Yogi dan Carissa, Derbian justru merasa percaya diri dengan soal yang dihadapinya. Peserta asal Bondowoso ini memilih Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNEJ sebagai tujuan. Ketertarikannya pada dunia kepenulisan menjadi alasan utama, terlebih ia mengidolakan penulis Tere Liye. Derbian pun bercita-cita menjadi sosok penulis hebat yang bisa menghasilkan buku di masa depan.
Di akhir, Derbian berharap UNEJ dapat terus mempertahankan fasilitas yang ramah bagi peserta penyandang disabilitas. “Fasilitas yang sudah ada ini diharapkan dapat terus dipertahankan agar peserta penyandang disabilitas seperti kami tetap mendapatkan akses yang layak,” ujarnya.
Ia juga memberikan ucapan motivasi bagi peserta penyandang disabilitas lainnya. “Untuk teman-teman penyandang disabilitas, tetap semangat dan jangan ragu untuk mencoba. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin, siapa tahu bisa berhasil dan meraih apa yang diimpikan,” tutupnya.
Kisah Yogi, Derbian, dan Carissa menunjukkan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk tetap bermimpi dan berjuang. Optimisme yang mereka tunjukkan tidak hanya memberi semangat bagi diri mereka sendiri, tetapi juga mengingatkan pentingnya pendidikan yang terbuka dan ramah bagi semua kalangan.










