33 Negara Siaga Krisis Pangan, Mentan Klaim Stok Beras RI Tembus 25 Juta Ton

33 Negara Siaga Krisis Pangan, Mentan Klaim Stok Beras RI Tembus 25 Juta Ton

Ekonomi | okezone | Senin, 2 November 2026 - 16:15
share

JAKARTA – Kondisi pangan Indonesia diklaim tetap aman di tengah meningkatnya ancaman krisis pangan global. Kepastian tersebut disampaikan menyusul sedikitnya 33 negara yang mulai mengimbau masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri serta cadangan beras yang cukup besar untuk menghadapi berbagai ketidakpastian global.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta kebijakan strategis untuk memperkuat produksi dan mewujudkan kemandirian pangan nasional.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” ujar Amran, Senin (2/11/2026).

Amran menjelaskan, kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan krisis kini menjadi perhatian banyak negara. Sejumlah pemerintah mengimbau masyarakat untuk menyimpan persediaan kebutuhan dasar di rumah, seperti makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan darurat.

Bahkan, beberapa negara merekomendasikan masyarakat memiliki persediaan kebutuhan rumah tangga yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minimal selama 72 jam atau tiga hari.

Amran menyebut Inggris dan Jepang sebagai contoh negara yang memperkuat imbauan tersebut. Pemerintah Inggris mendorong setiap rumah tangga memiliki persediaan makanan dan air minum untuk kebutuhan minimal tiga hari. Sementara itu, Jepang mengimbau masyarakat menyimpan persediaan kebutuhan pokok setidaknya untuk tiga hari, bahkan hingga satu minggu jika memungkinkan.

Di tengah situasi tersebut, Amran menyebut Indonesia memiliki cadangan pangan yang kuat. Dia merinci stok beras di Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton, sementara produksi yang masih berada di lahan atau standing crop diperkirakan mencapai 10 juta ton. Selain itu, terdapat sekitar 10 juta ton stok di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).

“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” ungkapnya.

Dia menegaskan, keberhasilan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi salah satu fondasi penting ketahanan pangan nasional.

Menurut Amran, pemerintah tidak ingin Indonesia terus bergantung pada pasokan pangan dari negara lain. Terlebih, konflik dan ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional serta membatasi pasokan pangan antarnegara.

“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegasnya.

Amran menambahkan, kondisi pangan yang relatif aman saat ini harus dijaga melalui penguatan produksi dalam negeri, ketersediaan cadangan pangan, serta perlindungan terhadap petani.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” pungkasnya.

Topik Menarik