IHSG Rebound, Ditutup Menguat 0,83 Persen ke Level 5.099

IHSG Rebound, Ditutup Menguat 0,83 Persen ke Level 5.099

Ekonomi | okezone | Senin, 2 November 2026 - 16:18
share

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan menguat 0,83 ke level 5.099.

Penguatan juga terjadi pada mayoritas indeks saham lainnya. Indeks LQ45 naik 0,52 ke level 517,853, IDXLQ45LCL menguat 0,72 ke 72,753, IDX30 naik 0,50 ke 291,262, dan IDX80 menguat 0,87 ke 75,935.

Sebelumnya, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menjelaskan bahwa pergerakan IHSG pada pekan ini akan sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan level psikologis 5.000.

"Pada pekan depan, pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh kemampuan indeks mempertahankan level psikologis 5.000 serta respons investor terhadap sejumlah agenda ekonomi domestik, meliputi rilis Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi 3Q26, cadangan devisa, dan indeks harga rumah,” kata Brigita dalam risetnya, Senin (2/11/2026).

Brigita mengungkapkan, level support teknikal IHSG berada di kisaran 4.915-5.012, sedangkan area resistance berada pada rentang 5.328-5.460.

Dalam skenario terbaik, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif di kisaran 5.000-5.200 selama mampu bertahan di atas level psikologis 5.000.

“Sebaliknya, penutupan di bawah level tersebut akan meningkatkan risiko pelemahan menuju area 4.900 dan membuka ruang koreksi lebih dalam," imbuhnya.

Sebagai gambaran, sepanjang pekan perdagangan 26-30 Oktober 2026, IHSG terkoreksi 7,03 dari level 5.439,25 menjadi 5.057,05. Dalam periode tersebut, IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah intraday di 4.979.

Aktivitas investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) akumulatif sekitar Rp4,1 triliun selama sepekan.

Koreksi mingguan tersebut diikuti penurunan aktivitas perdagangan. Rata-rata nilai transaksi harian turun 29,49 menjadi Rp14,34 triliun dari sebelumnya Rp20,34 triliun. Frekuensi transaksi harian juga menyusut 20,99 menjadi 1,54 juta kali.

Brigita menjelaskan, saham yang paling banyak dibeli investor asing sepanjang pekan lalu adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp370 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp133,7 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp97 miliar.

Sebaliknya, saham yang paling banyak dilepas investor asing adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp1,19 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp1,12 triliun, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp504,9 miliar.

Di sisi lain, aliran dana smart money dalam lima hari terakhir menunjukkan akumulasi pada saham BBRI, BMRI, dan ASII. Kondisi ini mengindikasikan adanya minat beli selektif pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) dengan fundamental solid.

Dari sisi eksternal, koreksi bursa global dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap valuasi saham sektor teknologi serta besarnya belanja investasi untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) sebesar 3,4 pada kuartal III 2026, disertai inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) sebesar 3,6 secara tahunan (year-on-year/YoY), memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).

Kondisi tersebut terjadi di tengah kebijakan suku bunga sejumlah bank sentral global. Bank Sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4,00, Bank Sentral Eropa (ECB) di level 2,65, serta Bank Sentral Jepang (BOJ) di posisi 1,25.

Sementara itu, investor global juga mencermati penyelenggaraan pemilihan umum paruh waktu (midterm election) AS pada 3 November.

Di pasar komoditas, risiko konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak mentah. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) mencapai USD104,12 per barel, sedangkan Brent menyentuh USD113,43 per barel.

Sebaliknya, harga emas melemah ke USD3.875 per troy ounce. Sementara itu, harga batu bara menguat ke USD152,45 per ton.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap pasar saham diperberat oleh pelemahan nilai tukar rupiah ke posisi Rp18.147 per dolar AS serta kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun hingga 7,66.

Pasar juga dibayangi kekhawatiran mengenai potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI.

Meski demikian, sejumlah sentimen positif masih menjadi penopang pasar. Di antaranya keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia dalam klasifikasi Secondary Emerging Market, proyeksi kenaikan pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi 4,9, rencana paket stimulus ekonomi 2027, serta perpanjangan relaksasi kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa RUPS oleh OJK hingga Juni 2027.

Brigita menilai, kebijakan stimulus tersebut berpotensi menopang daya beli dan konsumsi domestik. Dampaknya diharapkan dapat dirasakan oleh sektor konsumer maupun sektor lain yang sensitif terhadap pertumbuhan konsumsi dan aktivitas ekonomi, termasuk perbankan dan properti.

"Kebijakan ini berpotensi menopang daya beli dan konsumsi domestik, dengan implikasi positif bagi sektor konsumer serta sektor-sektor yang sensitif terhadap pertumbuhan konsumsi dan aktivitas ekonomi, termasuk perbankan dan properti. Namun, efektivitas stimulus tetap bergantung pada realisasi program serta kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal," jelas Brigita.

Dengan demikian, menurut Brigita, pemulihan kepercayaan investor membutuhkan stabilitas makroekonomi serta penegakan tata kelola pasar modal yang konsisten.

"Di tengah tekanan pada pasar saham, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih obligasi pemerintah sebesar USD509 juta sepanjang Oktober. Secara keseluruhan, kebijakan stimulus dan reformasi pasar berpotensi menjadi penyangga sentimen domestik. Namun, pemulihan kepercayaan investor tetap membutuhkan stabilitas rupiah, konsistensi kebijakan fiskal, serta perbaikan transparansi dan tata kelola pasar modal,” pungkas Brigita.

Topik Menarik