Ekspor Pupuk Timur Tengah Anjlok hingga 75, Harga Pangan Terancam Melambung di 2027
Ekspor pupuk dari kawasan Timur Tengah merosot hingga 75 akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz, memperketat pasokan global dan meningkatkan risiko lonjakan harga pangan pada 2027. Jika gangguan berlanjut dan pasokan pupuk tidak segera pulih, penurunan hasil panen dapat memicu kenaikan harga pangan yang semakin tajam di berbagai negara.
"Volume ekspor telah turun sekitar 70 hingga 75, memperketat pasokan global belerang, nitrogen (urea), dan pupuk fosfat," kata Manajer Senior Data Pertanian Kpler Madeleine Overgaard, dikutip dari The National News, Senin (2/11/2026).
Baca Juga:Pangeran Khalid bin Salman Bilang ke Iran: Israel Akan Kejar Turki, lalu Serang Arab Saudi!
Data Kpler menunjukkan pengiriman pupuk dari kawasan tersebut turun menjadi 994.000 ton pada September 2026, dibandingkan 3,41 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kpler memperkirakan volume pengiriman akan bertahan di sekitar level tersebut hingga akhir tahun apabila situasi keamanan di kawasan tidak membaik. Serangan terhadap kapal membuat pemilik dan penyewa kapal berhati-hati melintasi Selat Hormuz, sedangkan pengiriman darat Arab Saudi menuju pelabuhan Laut Merah belum mampu menggantikan pasokan yang hilang.
Gangguan itu berdampak besar karena kawasan Teluk menangani sekitar 30–40 perdagangan urea melalui jalur laut dunia, meskipun hanya menghasilkan 10–12 produksi urea global. Kawasan tersebut juga menyumbang 25–30 produksi belerang dunia dan hingga separuh perdagangan belerang melalui laut. Padahal, belerang merupakan bahan penting untuk memproduksi pupuk fosfat.Kelangkaan belerang dan lonjakan biaya bahan baku turut menekan industri pupuk. Perusahaan pupuk Mosaic memperlambat atau menghentikan sementara operasi sejumlah pabrik fosfat, sedangkan produsen di Mesir, Brasil, dan India juga mengurangi produksi. Harga belerang yang bertahan di atas USD1.000 per ton semakin membebani produsen dan memperbesar risiko terbatasnya pasokan pupuk di pasar global.Overgaard memperingatkan kekurangan pupuk yang terjadi saat ini dapat menekan hasil panen dan meningkatkan inflasi pangan pada tahun depan. Indeks harga pangan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) tercatat rata-rata 136 poin pada September, naik 5,8 dibandingkan setahun sebelumnya. China dan Rusia memang membantu memenuhi sebagian permintaan yang hilang, tetapi menurut Rajeev Pandey dari Rystad Energy, tambahan pasokan tersebut belum mampu menutup kekurangan dan tetap tersedia dengan harga lebih tinggi.
Baca Juga:Harga Komoditas Global 'Jumping' 23 di 2026, Bank Dunia Wanti-wanti Ancaman Krisis Pangan
Sementara itu, rencana Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memfasilitasi pelayaran kapal pengangkut pupuk melalui Selat Hormuz masih tertunda hingga Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan. Wakil Sekretaris Jenderal PBB Jorge Moreira da Silva mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan perlu dicapai dalam beberapa pekan ke depan agar pengiriman tidak terlambat melewati musim tanam. Jika pasokan pupuk tetap tersendat saat petani membutuhkan pupuk untuk musim tanam, risiko penurunan produksi pertanian dan lonjakan harga pangan pada 2027 akan semakin besar.









