Nilai Tukar Petani Oktober 2026 Naik 1,13 Persen, Tertinggi Sepanjang Sejarah
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2026 naik 1,13 menjadi 132,60 dibandingkan September 2026. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi, dengan subsektor hortikultura sebagai penyumbang kenaikan terbesar.
Berdasarkan data BPS yang dirilis pada Senin (2/11/2026), kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat 1,55. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani, yang hanya naik 0,41.
“Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,55 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani yang naik 0,41 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam pemaparan Berita Resmi Statistik.
Ateng menjelaskan, sejumlah komoditas menjadi pendorong utama kenaikan harga yang diterima petani pada Oktober 2026. Komoditas tersebut antara lain karet, jagung, cabai merah, dan gabah. Berdasarkan subsektornya, hortikultura menjadi penyumbang penguatan paling besar.
NTP hortikultura melonjak 6,88, dari 129,50 pada September menjadi 138,41 pada Oktober 2026. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan harga cabai merah, tomat, dan cabai rawit yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan petani hortikultura.
Ateng menjelaskan, indeks harga yang diterima petani hortikultura meningkat 7,12, sedangkan indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani hanya naik 0,32. Perbedaan kenaikan tersebut membuat NTP hortikultura mencatat pertumbuhan tertinggi dibandingkan subsektor lainnya.
“Komoditas yang dominan memengaruhi indeks harga yang diterima petani hortikultura terutama cabai merah, tomat, dan cabai rawit,” jelas Ateng.
Selain hortikultura, penguatan NTP juga terjadi pada subsektor tanaman pangan yang naik 1,07, dari 119,24 menjadi 120,52. Sementara itu, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat meningkat 0,30, dari 171,67 menjadi 172,18.
Secara umum, kenaikan NTP menunjukkan bahwa harga hasil pertanian yang diterima petani tumbuh lebih tinggi dibandingkan harga barang dan jasa yang harus mereka bayar. Kondisi ini menjadi salah satu indikator membaiknya daya beli dan posisi ekonomi petani.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan kesejahteraan petani menjadi bagian penting dalam pembangunan sektor pertanian di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut dia, peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga harga hasil panen, memperluas akses pasar, serta meningkatkan nilai tambah komoditas agar manfaat pembangunan pertanian dapat dirasakan langsung oleh petani.
“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, swasembada pangan berkelanjutan harus beriringan dengan kesejahteraan petani yang semakin membaik. Kita ingin petani sejahtera, produksi meningkat, masyarakat mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” ungkapnya.
Amran menambahkan, pemerintah telah menjalankan sejumlah kebijakan untuk meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani. Kebijakan tersebut antara lain penyesuaian harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan jagung, kepastian penyerapan hasil panen, penyederhanaan regulasi penyaluran pupuk bersubsidi, serta penurunan harga pupuk subsidi hingga 20.
“Kita ingin petani semakin sejahtera. Negara harus hadir melindungi dan memberikan jaminan bagi petani. Jika petani semangat untuk bertani, swasembada pangan berkelanjutan dapat terwujud,” ucapnya.










