Bahlil Minta Pengusaha Tambang Tak Rakus Keruk SDA, Ingat Anak Cucu

Bahlil Minta Pengusaha Tambang Tak Rakus Keruk SDA, Ingat Anak Cucu

Ekonomi | okezone | Senin, 2 November 2026 - 15:49
share

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengingatkan para pengusaha tambang agar tidak mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) secara berlebihan demi mengejar keuntungan.

Dia meminta pengelolaan kekayaan alam Indonesia dilakukan secara bijak agar manfaatnya dapat dinikmati hingga generasi mendatang. Menurut Bahlil, pengelolaan sumber daya mineral harus berorientasi pada penciptaan nilai tambah, bukan sekadar meningkatkan volume produksi.

"Saya sering mendapat masukan terhadap keluhan teman-teman pengusaha. Kita harus mengelola sumber daya alam kita itu dengan cara tata kelola yang baik dan benar. Jangan kita mengelolanya seperti orang yang kelaparan. Jangan orang yang berpuasa, tiba-tiba buka puasa, apa saja yang mau dimakan," kata Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).

Bahlil mencontohkan aktivitas pertambangan batu bara yang dilakukan secara masif dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, tingginya produksi batu bara Indonesia tidak selalu memberikan keuntungan maksimal karena negara belum memiliki kendali yang cukup terhadap harga komoditas tersebut.

Dia menyebut Indonesia memproduksi sekitar 540 juta ton batu bara pada 2025. Jumlah tersebut setara dengan 43 dari total perdagangan batu bara dunia yang mencapai sekitar 1,3 miliar ton.

Namun, besarnya volume produksi tersebut tidak otomatis memberikan keuntungan maksimal bagi perusahaan maupun negara. Bahlil menilai produksi yang berlebihan justru berpotensi menekan harga batu bara sehingga sumber daya alam Indonesia dijual dengan harga lebih rendah.

"Apa yang terjadi? Harga batu bara 2025 pada harga yang paling rendah. Profit perusahaannya tidak terlalu banyak, pendapatan negara tidak terlalu maksimal, jor-joran kita buka lahan yang begitu besar, akhirnya barang kita dijual murah," tambahnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah mengambil kebijakan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) guna mengendalikan produksi batu bara dalam negeri. Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan sehingga harga komoditas dapat meningkat.

Bahlil menyebut kebijakan tersebut turut mendorong kenaikan harga batu bara berkalori tinggi hingga mencapai US$154 per ton pada tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kisaran US$100-US$120 per ton pada periode Januari-Agustus 2025.

"Hari ini harga batu bara bisa mencapai US$154, untuk kalori 6.300. Ini strategi, karena kita jaga supply and demand, pendapatan negara kita melonjak, produksi turun," jelasnya.

Oleh karena itu, Bahlil mengingatkan para pengusaha agar tidak memproduksi batu bara maupun komoditas sumber daya alam lainnya secara berlebihan. Dia meminta pelaku usaha tetap memperhatikan keseimbangan pasokan dan permintaan global dalam menjalankan kegiatan pertambangan.

Bahlil juga mengingatkan bahwa kekayaan alam Indonesia merupakan sumber daya yang harus dijaga untuk kepentingan generasi mendatang.

"Negara ini masih ada anak cucu kita. Kalau memang hari ini barangnya belum mahal, barangnya belum bagus, tinggalkan. Nanti ada Menteri ESDM baru, ada dirjen baru, ada presiden baru, ada pengusaha baru untuk anak cucu kita, agar kelak mereka mendapatkan harga yang maksimal," pungkas Bahlil.

Topik Menarik