Kampung Patin dan Lameh Kesah, Inovasi Daerah Sumatera Tingkatkan Nilai Ekonomi Potensi Lokal
Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat beragam inovasi daerah yang dikembangkan pemerintah daerah di Regional Sumatera dalam rangkaian Innovative Government Award (IGA) 2026. Dua di antaranya adalah Kampung Patin dari Provinsi Sumatera Selatan dan Lameh Kesah dari Provinsi Sumatera Barat yang memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi masyarakat.
Pada Regional Sumatera, terdapat 10 pemerintah daerah yang masuk nominasi IGA 2026, terdiri atas tiga provinsi, empat kabupaten, dan tiga kota yaitu Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Ogan Ilir, Kota Padang Panjang, Kota Palembang, dan Kota Pariaman. Tahapan penilaian melalui pemaparan inovasi unggulan tersebut diselenggarakan secara virtual melalui Command Center BSKDN dan Ruang Video Conference BSKDN pada Selasa, 3 November 2026.
Baca juga: Inovasi Daerah Bangkitkan Ekonomi
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menjelaskan, inovasi Kampung Patin dikembangkan untuk memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai lumbung pangan sekaligus mengoptimalkan potensi perikanan daerah. Program ini juga menjadi bagian dari gerakan Sumsel Mandiri Pangan yang mendorong perubahan pola masyarakat dari konsumtif menjadi produktif.
“Tujuannya adalah semata-mata untuk lebih memperjelas Sumsel ini lumbung pangan. Ini juga tidak lepas dari gerakan Sumsel Mandiri Pangan yang secara menyeluruh telah teruji dan terbukti sangat manjur untuk pengendalian inflasi yang terjadi di Sumatera Selatan, yakni mengubah konsep dari konsumtif menjadi produktif,” ujar Herman.Menurut dia, ikan patin menjadi salah satu komoditas unggulan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena merupakan ikan endemik Sumatera Selatan. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur bahkan menyumbang lebih dari 50 persen produksi ikan patin di tingkat provinsi, dengan jumlah produksi mencapai sekitar 47 ribu ton.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah memaparkan inovasi Lameh Kesah, yakni pengolahan batang kelapa sawit menjadi gula merah. Inovasi ini berangkat dari persoalan batang sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan kerap dibakar setelah pohonnya tidak lagi produktif.
Inovasi tersebut bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap batang kelapa sawit yang sebelumnya dianggap tidak memiliki manfaat ekonomi. Melalui pengolahan lebih lanjut, bagian tanaman tersebut dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah.
“Tujuan inovasi kita ini untuk mengubah paradigma. Karena batang sawit ini tidak dimanfaatkan maka dibakar, nah sekarang ini kita manfaatkan dengan menghasilkan gula merah dari kelapa sawit ini. Kita juga berusaha untuk meningkatkan kualitas produk,” kata Mahyeldi.
Dia berharap pemanfaatan batang kelapa sawit tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Adapun kemanfaatan yang dapat kita sampaikan, mudah-mudahan dapat menurunkan angka kemiskinan ekstrem,” tambahnya.
Kampung Patin dan Lameh Kesah menunjukkan bagaimana potensi daerah dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan nilai tambah ekonomi. Melalui IGA 2026, berbagai praktik tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam mengembangkan inovasi sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.









