Warning! Medsos Terbukti Bisa Memicu Gangguan Mental pada Anak Muda
JAKARTA, iNews.id - Media sosial bisa menjadi sumber tekanan psikologis bagi remaja dan anak muda. Kebiasaan melihat pencapaian, gaya hidup mewah, hingga kesuksesan orang lain di layar ponsel dapat memicu kecemasan ketika seseorang mulai membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di internet.
Di balik foto dan video yang terlihat sempurna, pengguna belum tentu mengetahui realitas kehidupan orang yang membuat konten tersebut. Namun, ketika unggahan itu dianggap sebagai gambaran kehidupan yang sebenarnya, sebagian orang bisa merasa tertinggal, kurang berhasil, atau tidak cukup baik dibandingkan orang lain.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi, mengingatkan bahwa paparan konten semacam ini perlu disikapi secara kritis, terutama oleh remaja yang masih berada dalam tahap perkembangan.
Dia menjelaskan, hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan kelompok remaja hingga dewasa menjadi pengguna internet paling aktif, dengan proporsi mencapai 80 persen sebagaimana disampaikan dalam keterangannya.
Menurut Imran, kemudahan mengakses informasi membuat anak muda dapat melihat pencapaian orang lain tanpa mengetahui proses panjang yang melatarbelakanginya. Akibatnya, apa yang ditampilkan di media sosial berpotensi menjadi tolok ukur untuk menilai kehidupan sendiri.
"Nah, kemudian internet itu kan sebetulnya dia mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Jadi dia akan melihat apa sih yang terjadi di seberang sana, misalnya idolanya seperti apa, kesuksesannya seperti apa? Padahal sebetulnya yang muncul di internet itu kan lebih ke arah hanya hasilnya saja," kata Imran saat diwawancarai iNews.id di Kantor Kemenkes, Jakarta, Minggu (11/10/2026).
"Tetapi apakah real kehidupannya seperti itu? Mereka juga tidak tahu bagaimana perjuangannya ke sana, berapa lama dia harus bekerja, itu yang membuat orang hanya melihat hasilnya saja," sambungnya.
Kebiasaan Membandingkan Diri Bisa Memicu Kecemasan
Imran menilai, kebiasaan membandingkan pencapaian pribadi dengan unggahan orang lain dapat menimbulkan kecemasan. Terlebih, media sosial juga kerap digunakan untuk memasarkan gaya hidup tertentu yang belum tentu mencerminkan kondisi nyata seseorang.
Dia mencontohkan, seseorang bisa merasa tertinggal ketika melihat orang lain seusianya mampu membeli mobil mewah, sementara dirinya masih menggunakan sepeda motor.
"Itulah yang membuat orang jadi cemas kan, 'Lho, pada umurku ini dia kok sudah bisa beli Porsche,' gitu kan, 'Saya kok masih naik motor?' Nah, sehingga dia membandingkan dengan orang lain sebelumnya. Jadi memang upaya-upaya itu kan dari marketing pihak-pihak tertentu yang menjual lifestyle sebetulnya," tutur dia.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa unggahan di media sosial tidak seharusnya dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Foto, video, dan cerita yang beredar di internet hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan proses yang dijalaninya.
Karena itu, anak muda perlu memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan, kondisi ekonomi, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Pencapaian orang lain tidak otomatis menjadi ukuran kegagalan diri sendiri.
Mengapa Remaja Lebih Rentan Mengalami Tekanan Psikologis?
Menurut Imran, kematangan berpikir menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas pengaruh media sosial terhadap remaja. Pada masa pertumbuhan, kemampuan seseorang untuk menilai informasi dan membedakan gambaran ideal dengan kenyataan masih berkembang.
"Nah, kemudian saya kira itu juga kami perlu melihat bagaimana maturitas seseorang untuk bisa menerima apakah ini kenyataan ataukah ini hanya sebuah ilusi, nah itu butuh kematangan berpikir. Dari referensi-referensi studi yang sudah dilakukan, memang otak itu sebetulnya mature pada usia sekitar 20-an. Jadi kalau sebelum umur 20 ya, otak ini masih berkembang sehingga kalau ada sesuatu hal, otak itu mencernanya belum tahu secara benar nih, apakah itu kenyataan atau suatu impian," jelas Imran.
Penjelasan tersebut menekankan pentingnya mendampingi remaja agar tidak langsung menerima gambaran kehidupan di media sosial sebagai standar yang harus mereka capai.
Meski demikian, dampak media sosial terhadap kesehatan mental tidak selalu sama pada setiap orang. Pengalaman pribadi, lingkungan keluarga, hubungan sosial, serta kemampuan menghadapi tekanan juga dapat memengaruhi respons seseorang terhadap konten yang dikonsumsi.
Depresi Bukan Berarti Kurang Bersyukur
Selain mengingatkan soal media sosial, Imran juga menyoroti stigma yang masih berkembang di masyarakat mengenai gangguan kesehatan mental. Salah satunya anggapan bahwa seseorang mengalami depresi karena kurang bersyukur atau kurang religius.
Menurut dia, depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang perlu dipahami sebagai persoalan medis. Kondisi tersebut tidak bisa disederhanakan sebagai akibat dari kurangnya rasa syukur, terlebih jika seseorang sudah membutuhkan penanganan profesional.
"Jadi, depresi sendiri itu kan memang ada gangguan, gangguan dari seseorang, dari kejiwaan seseorang yang tidak langsung depresi gitu. Jadi dia tuh akan memasuki tahap-tahap yang lain, misalnya dia kesulitan untuk menerima apakah ini suatu kenyataan atau ini suatu realitas," tegasnya.
Imran menjelaskan, kemampuan setiap orang dalam menghadapi stres juga berbeda. Tekanan yang dapat diatasi seseorang belum tentu mudah dihadapi oleh orang lain.
Karena itu, dukungan emosional dan rasa syukur tetap dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri, tetapi keduanya tidak menggantikan penanganan medis ketika gangguan kesehatan mental sudah memerlukan pengobatan.
"Kemudian juga yang sering terjadi adalah bagaimana mereka tuh menerima stres. Nah, kadarnya orang menerima stresor itu juga tidak sama, sehingga ya oke, bersyukur memang penting, tetapi kalau sudah pada taraf yang dia memang butuh pengobatan, ya dia harus diobati. Kalau enggak, dia akan terus turun dan terus kondisinya tambah jelek," ungkap Imran.
Kemenkes Ingatkan Pentingnya Skrining Kesehatan Mental
Data program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026 mencatat sebanyak 186.629 orang dewasa dan lansia mengalami depresi. Sementara itu, pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, jumlahnya mencapai 34.961 orang.
Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental lintas kelompok usia, termasuk anak dan remaja. Namun, angka tersebut merupakan hasil yang tercatat melalui program CKG dan tidak dengan sendirinya menggambarkan prevalensi depresi pada seluruh populasi Indonesia.
Imran mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan kondisi emosional yang dirasakan, terutama jika keluhan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan dini dapat membantu mengidentifikasi tanda-tanda masalah kesehatan mental sehingga seseorang bisa memperoleh bantuan yang sesuai.
"Skrining itu membantu kita untuk bisa mengetahui, mungkin kita merasa baik-baik saja, tetapi setelah dicek, 'Wah, ini kok mulai tanda bahaya nih,' gitu kan. Nah, jadi dia harus segera untuk mengakses suatu layanan kesehatan. Sehingga kalau seawal mungkin kita bisa mendapatkan pertolongan, itu tidak jatuh terus ke bawah,” pungkasnya.
Bagi remaja, menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi digital dapat dimulai dengan lebih kritis menyikapi konten, membatasi paparan yang memicu tekanan, dan tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai patokan mutlak.
Jika kecemasan atau perubahan suasana hati berlangsung terus-menerus hingga mengganggu sekolah, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas sehari-hari, jangan ragu bercerita kepada orang tepercaya dan mencari bantuan tenaga kesehatan profesional.
Menjadi catatan penting untuk kita semua bahwa media sosial seharusnya menjadi sarana berkomunikasi dan memperoleh informasi, bukan sumber tekanan yang membuat seseorang terus merasa tidak cukup baik.










