Kenapa Remaja Lebih Nyaman Curhat ke Teman daripada Orang Tua? Ini Penjelasannya

Kenapa Remaja Lebih Nyaman Curhat ke Teman daripada Orang Tua? Ini Penjelasannya

Gaya Hidup | inews | Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:53
share

JAKARTA, iNews.id - Remaja tidak selalu mudah menceritakan masalah yang mereka hadapi kepada orang tua. Persoalan pertemanan, rasa minder, hingga kesulitan mengendalikan emosi terkadang justru lebih mudah dibagikan kepada teman sebaya yang dianggap bisa memahami perasaan mereka.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya lingkungan pertemanan yang suportif bagi kesehatan mental anak muda. Teman yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi tempat bercerita, terutama ketika seorang remaja belum siap mengungkapkan masalahnya kepada orang dewasa.

Namun, menjadi tempat curhat bukan berarti seorang teman harus mampu menyelesaikan semua persoalan. Remaja tetap membutuhkan dukungan orang tua, guru, dan tenaga profesional ketika menghadapi masalah yang lebih serius.

Anak muda dilatih untuk bisa menjadi konselor sebaya. (Foto: Dokumentasi: Humas Kementerian Transmigrasi / Tim Ekspedisi Patriot UNAIR)

Pentingnya dukungan tersebut menjadi perhatian Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) saat mendampingi remaja di Distrik Prafi, kawasan transmigrasi di Manokwari, Papua Barat. Tim tersebut menemukan persoalan kepercayaan diri yang perlu mendapat perhatian dalam proses tumbuh kembang anak muda.

Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot Unair, Prof. Endang Retno Surjaningrum, S.Psi., M.AppPsych., Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa remaja di kawasan tersebut cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah berdasarkan pengamatan tim di lapangan.

Menurut dia, kemampuan mengenali masalah yang dialami teman, mendekati mereka dengan cara yang tepat, serta membangun kepercayaan diri menjadi keterampilan penting bagi remaja.

"Kami harapkan generasi muda ini nanti yang akan mempunyai daya kreatif untuk membangun wilayahnya," ujar Endang dalam keterangan resminya, Minggu (11/10/2026).

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengenalkan konseling sebaya di sekolah. Melalui pendekatan ini, siswa dibekali kemampuan mengenali emosi, memahami kondisi teman, dan menjadi penghubung ketika ada teman yang membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Bagi Sadiqah Adzana Islami, siswa kelas 9C SMP Negeri 8 Prafi yang menjadi kader konselor sebaya, pengalaman tersebut memberinya pemahaman baru tentang cara menghadapi perasaan dan mengambil keputusan.

"Saya mendapatkan banyak materi dari kakak-kakaknya, tentang mengenali emosi, terus berpikir sebelum bertindak," ujar Sadiqah pada Senin (5/10/2026).

Dia pun berencana menyusun program bersama teman-temannya agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

"Saya akan menyusun program, mungkin bersama teman-teman saya," katanya.

Sadiqah berharap teman-teman sebayanya dapat belajar mengendalikan emosi dan membiasakan diri berpikir sebelum bertindak. Kemampuan ini dinilai penting agar persoalan dalam pergaulan tidak langsung berujung pada konflik.

Guru SMP Negeri 8 Prafi, Riyanto, juga menilai pendampingan terhadap remaja diperlukan untuk menghadapi tantangan pergaulan saat ini.

"Kami bersyukur teman-teman dari Tim Patriot boleh berkunjung ke sekolah kami untuk lebih memfasilitasi, bagaimana proses selanjutnya terkait pergaulan yang dihadapi oleh remaja sekarang," ujar Riyanto pada Senin (5/10/2026).

Menurut dia, pembinaan semacam ini dapat membantu sekolah mengarahkan siswa pada perilaku yang lebih positif.

"Program ini sangat bermanfaat untuk sekolah kami, khususnya bagi siswa-siswa kami, karena sangat membantu untuk hal-hal yang positif, bagaimana kita membina anak-anak ke depan," tuturnya.

Pentingnya Dukungan Orang Tua bagi Kesehatan Mental Remaja

Meski teman sebaya bisa menjadi tempat bercerita yang nyaman, peran orang tua tetap penting. Hubungan yang terbuka di rumah dapat membantu anak merasa aman untuk menyampaikan persoalan tanpa takut langsung dimarahi atau disalahkan.

Pendekatan yang digunakan orang dewasa juga perlu diperhatikan. Remaja membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan perasaannya, didengarkan dengan sungguh-sungguh, dan dibantu mencari jalan keluar tanpa selalu merasa dihakimi.

Dalam konteks pembinaan karakter, Presiden Prabowo Subianto pernah menekankan pentingnya keteguhan hati, keberanian, dan sikap santun ketika menghadapi perlakuan tidak menyenangkan.

"Yang penting hatimu teguh, hati kita baik. Kalau kita diejek, kita balas dengan sopan santun, semakin dihina, semakin kau teguh, semakin berani, semakin sopan," kata Prabowo saat meninjau Sekolah Rakyat di Tabanan, Bali, belum lama ini.

Pesan tersebut menekankan pentingnya membangun karakter agar anak mampu menghadapi tekanan sosial tanpa harus membalasnya dengan perilaku negatif.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam pembangunan Indonesia.

"Generasi muda terutama, yang diharapkan berada di depan karena Indonesia membutuhkan tenaga dan pemikiran terbaik kita," ujar AHY dalam Patriot Move 2026 di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Pesan serupa disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Dia mengingatkan anak muda agar tidak merasa rendah diri karena latar belakang keluarga maupun kondisi sosialnya.

"Jangan pernah merasa minder karena berasal dari keluarga sederhana. Yang menentukan adalah kerja keras, karakter, dan kemauan untuk terus belajar," kata Iftitah. 

Di Distrik Prafi, pendekatan dukungan terhadap remaja mulai dikembangkan melalui organisasi konselor sebaya di tiga sekolah. Masing-masing sekolah telah membentuk organisasi tersebut dengan guru pendamping, sementara siswa yang sudah mengikuti pelatihan mulai membantu mengenalkan materi kepada teman-teman lainnya.

Program ini juga direncanakan berlanjut melalui sosialisasi kepada orang tua agar dukungan terhadap remaja dapat berjalan beriringan di rumah dan sekolah.

Pada akhirnya, membantu remaja menghadapi persoalan bukan hanya soal meminta mereka menjadi lebih kuat. Mereka juga perlu memiliki lingkungan yang membuatnya merasa aman untuk bercerita, belajar mengenali emosi, dan mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan ketika masalah terasa terlalu berat untuk dihadapi sendiri.

Topik Menarik