2 Warga Singapura Diduga Kena Hantavirus dari Kapal Pesiar MV Hondius

2 Warga Singapura Diduga Kena Hantavirus dari Kapal Pesiar MV Hondius

Terkini | inews | Kamis, 7 Mei 2026 - 19:45
share

SINGAPURA, iNews.id - Dua warga Singapura yang sempat berada di kapal pesiar MV Hondius kini diisolasi di National Centre for Infectious Diseases (NCID) setelah diduga terpapar Andes Hantavirus, virus yang tengah menjadi perhatian dunia akibat klaster kasus di kapal pesiar.

Communicable Diseases Agency (CDA) Singapura menyatakan, pihaknya menerima laporan terkait kedua warga tersebut pada 4 dan 5 Mei 2026. Saat ini, keduanya masih menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi kemungkinan infeksi hantavirus.

Menurut laporan The Straits Times, hasil tes keduanya belum keluar. Salah satu pasien diketahui mengalami pilek ringan namun dalam kondisi stabil, sementara satu lainnya tidak menunjukkan gejala apa pun.

Pasien pertama merupakan pria warga negara Singapura berusia 67 tahun yang tiba di negaranya pada 2 Mei 2026. Sementara pasien kedua adalah penduduk tetap Singapura berusia 65 tahun yang baru tiba pada 6 Mei 2026.

Keduanya diketahui berada di atas kapal MV Hondius sejak kapal itu berangkat dari Pelabuhan Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026.

Mereka kemudian turun dari kapal dan menaiki penerbangan yang sama dengan salah satu pasien Hantavirus terkonfirmasi. Penerbangan tersebut dilakukan dari Pulau St Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, pada 25 April 2026.

Pasien yang terkonfirmasi positif itu tidak melanjutkan perjalanan ke Singapura dan dilaporkan meninggal dunia di Afrika Selatan.

CDA menjelaskan, apabila hasil tes kedua warga Singapura tersebut negatif, mereka tetap harus menjalani karantina selama 30 hari sejak paparan terakhir. Hal itu dilakukan karena sebagian besar kasus hantavirus umumnya menunjukkan gejala dalam rentang waktu tersebut.

Setelah masa karantina selesai, keduanya akan menjalani tes ulang sebelum diperbolehkan keluar dari isolasi. Selanjutnya, selama sisa masa pemantauan hingga total 45 hari, kondisi kesehatan mereka akan dipantau secara daring, termasuk melalui pelaporan harian lewat aplikasi kesehatan.

"Periode inkubasi maksimal paparan hantavirus adalah 45 hari," tulis CDA dalam keterangannya.

Jika hasil tes menunjukkan positif, pasien akan tetap dirawat di rumah sakit untuk pemantauan dan penanganan medis lebih lanjut karena infeksi Hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi serius.

CDA juga menegaskan akan melakukan pelacakan kontak guna mengidentifikasi orang-orang yang sempat melakukan kontak erat dengan kedua pasien selama masa penularan.

Hingga kini, tercatat delapan kasus Hantavirus, termasuk tiga kematian, yang dikaitkan dengan klaster kapal pesiar MV Hondius. Tiga kasus telah dipastikan positif Hantavirus, sementara lima lainnya masih dalam penyelidikan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko penyebaran global dari wabah ini masih rendah.

Hantavirus diketahui dapat menular ke manusia melalui paparan debu yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Risiko penularan meningkat saat seseorang membersihkan area yang terdapat tikus atau sarang hewan pengerat.

Meski umumnya tidak menular antarmanusia, jenis Andes virus yang ditemukan di beberapa wilayah Amerika Selatan diketahui memiliki potensi penularan dari manusia ke manusia.

Gejala infeksi Andes virus meliputi demam, nyeri tubuh, kelelahan, gangguan pencernaan, hingga kesulitan bernapas. Dalam kondisi berat, penyakit dapat berkembang cepat menjadi syok hingga kematian.

Saat ini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk hantavirus. Penanganan dilakukan melalui perawatan suportif di rumah sakit sesuai kondisi pasien.

Profesor Ooi Eng Eong dari Duke-NUS Medical School menjelaskan, Hantavirus merupakan kelompok virus yang secara alami ditemukan pada hewan pengerat, termasuk tikus cokelat dan tikus hitam yang umum ditemukan di lingkungan perkotaan.

Menurut dia, virus tersebut dapat menular melalui makanan yang terkontaminasi, gigitan, maupun cakaran tikus. "Meski demikian, penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi," ujar Prof Ooi.

WHO mengimbau seluruh penumpang MV Hondius untuk memantau kondisi kesehatan masing-masing dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala mencurigakan.

Sebagai langkah pencegahan, CDA mengingatkan masyarakat yang bepergian ke wilayah dengan kasus hantavirus untuk menghindari kontak dengan tikus maupun area yang terkontaminasi kotoran hewan pengerat, menjaga kebersihan tempat tinggal, serta tidak membersihkan debu menggunakan sapu kering agar partikel berbahaya tidak beterbangan di udara.

Topik Menarik