6 Alasan Rusia Kirim Jenazah Pangeran dan Orang Suci ke Medan Perang

6 Alasan Rusia Kirim Jenazah Pangeran dan Orang Suci ke Medan Perang

Global | sindonews | Minggu, 27 September 2026 - 01:10
share

Saat pasukan Rusia di garis depan Ukraina timur bersiap menghadapi musim dingin lainnya, mereka menerima bentuk dukungan yang tidak biasa: jenazah seorang pangeran pejuang yang bertempur demi Moskow lebih dari enam abad yang lalu.

6 Alasan Rusia Kirim Jenazah Pangeran dan Orang Suci ke Medan Perang

1. Jenazah Pangeran Dmitry Donskoy Dikirim ke Medan Perang

Melansir CNN, sebagian dari jenazah Dmitry Donskoy—seorang pangeran yang dihormati di Rusia karena kemenangannya dalam Pertempuran Kulikovo pada tahun 1380—dikirim ke garis depan pada awal September dan kini dibawa berkeliling ke berbagai pangkalan militer di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Departemen militer Patriarkat Moskow, badan pimpinan rohani Gereja Ortodoks Rusia, menyatakan bahwa "panglima suci" tersebut akan berdiri secara tak kasat mata "berdampingan" dengan para tentara Rusia. Gereja menambahkan bahwa relikui tersebut—sebuah fragmen dari tangan kanannya—merupakan tangan yang sama yang ia gunakan untuk mengayunkan pedang di Kulikovo.

2. Menggunakan Simbol Keagamaan

Mengirimkan relikui keagamaan ke medan perang mungkin tampak ganjil, namun sejak Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina pada tahun 2022, Moskow telah berupaya memanfaatkan segala cara dalam perang yang telah berubah menjadi perang atrisi (pelemahan lawan secara bertahap) yang berlarut-larut dan berdarah. Upaya ini mencakup penggunaan simbolisme keagamaan untuk menggambarkan perjuangan mereka sebagai tindakan yang "benar" dan direstui oleh Tuhan. Akibatnya, hubungan antara Kremlin dan Gereja Ortodoks Rusia menjadi lebih erat dari sebelumnya.

"Gereja praktis telah menyatu dengan negara hingga pada titik di mana keduanya sulit dibedakan," ujar Sergei Chapnin, seorang pakar studi agama dan direktur komunikasi di Pusat Studi Kristen Ortodoks Universitas Fordham, dilansir CNN.

"Menurut pandangan saya, tingkat kedekatan maksimal telah tercapai."

3. Mempertahankan Tradisi Kristen Ortodoks

Mengirimkan relikui suci kepada pasukan merupakan praktik yang sudah lama ada dalam tradisi Kristen Ortodoks."Perpaduan antara unsur sakral dan material ini menarik perhatian," ujar Chapnin, yang pernah bekerja di penerbitan Patriarkat Moskow. "Tentu saja, propaganda memanfaatkan hal ini."

4. Simbol Nasionalisme

Menurut para ahli, jenazah Donskoy juga membawa pesan yang relevan dengan situasi saat ini.

"Dia sendiri bukanlah seorang agresor, melainkan pembela tanah air," kata pakar tersebut kepada CNN. Dari sudut pandang pemerintah, "sangat penting untuk menunjukkan bahwa Rusia bukanlah agresor, melainkan sedang mempertahankan wilayahnya."

Chapnin menyebutnya sebagai "mitos pemersatu yang menggerakkan massa."

"Mitos-mitos yang menghubungkan berbagai masa dan era ini dapat memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap kesadaran massa," ujarnya, seraya menambahkan bahwa relikui tersebut ditampilkan layaknya "artefak ajaib."

5. Mengerahkan Kekuatan Spiritual

Metropolitan Vladimir, pemimpin Ortodoks yang ditunjuk Rusia di Donetsk dan Mariupol, mengatakan bahwa relikui tersebut akan membantu para prajurit dan warga sipil untuk "mengerahkan kekuatan spiritual maupun fisik mereka" serta "meraih kemenangan atas musuh."

Donskoy bukanlah sosok santo pejuang pertama yang dijadikan simbol oleh Rusia selama perang di Ukraina. Relikui Pangeran Alexander Nevsky—penguasa abad pertengahan lainnya yang menjadi simbol kejayaan militer Rusia—juga sempat dibawa ke hadapan pasukan pada awal tahun ini.Waktu pengiriman jenazah Donskoy ke medan perang pun terbilang tepat. Jenazah sang pangeran ditemukan kembali saat pekerjaan restorasi di Katedral Malaikat Agung (Archangel Cathedral) di Kremlin pada bulan Agustus, beberapa minggu setelah muncul laporan yang belum terverifikasi bahwa relikui Nevsky telah hilang.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut penemuan kembali jenazah tersebut—yang lokasinya sebenarnya sudah diketahui sejak awal pemakamannya—sebagai "penemuan yang sungguh unik" dan "luar biasa." Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia yang pro-Kremlin, Patriark Kirill, menggambarkannya sebagai "tanda istimewa dari penyelenggaraan ilahi."

Namun, bagi Pendeta Alexander Zanemonets—seorang pendeta Ortodoks sekaligus sejarawan kelahiran Moskow yang sempat tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun sebelum meninggalkan Rusia secara permanen pasca-invasi ke Ukraina—penemuan tersebut "sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kekristenan."

"Ini jelas merupakan eksploitasi terhadap Kekristenan dan eksploitasi gereja demi tujuan ‘patriotik’.” Di gereja dengan jumlah jemaat aktif yang relatif sedikit namun mendapat dukungan kuat dari negara, insentif cenderung selaras dengan kepentingan negara, ujarnya, seraya menyebut penggunaan jenazah tersebut sebagai sebuah “perhitungan yang sinis.”

Dari tahun 2022 hingga 2024, Zanemonets melayani para pengungsi perang Ukraina di Gereja Ortodoks Finlandia. Masa pelayanannya berakhir di tengah pertanyaan mengenai kemampuannya berbahasa Ukraina dan hubungannya dengan Rusia—tuduhan yang ia bantah dalam sebuah unggahan di Facebook.

6. Membangkitkan Moral Pasukan Rusia

Seorang tentara Rusia yang saat ini bertugas di wilayah Zaporizhzhia juga menggambarkan kesempatan untuk berbicara dengan pendeta, berdoa, atau menyentuh benda suci sebagai bentuk “dukungan moral yang sangat berarti.” Seiring perang yang terus berlarut hingga tahun kelima tanpa tanda-tanda akan berakhir, para tentara mengatakan bahwa tekanan yang mereka rasakan semakin meningkat. "Situasi secara keseluruhan tegang dan justru semakin memburuk seiring berjalannya waktu," ujar seorang komandan Rusia di Donbas kepada CNN.Para tentara tersebut berbicara mengenai keyakinan mereka di garis depan dengan syarat anonimitas, karena mereka tidak memiliki wewenang untuk berbicara kepada media.

Di luar garis depan, jangkauan keagamaan Gereja Ortodoks Rusia tampaknya jauh lebih terbatas dibandingkan pengaruh politiknya yang nyata. Sebuah survei telepon tahun 2026 yang dilakukan oleh lembaga jajak pendapat negara, VCIOM, menemukan bahwa sekitar dua pertiga warga Rusia mengidentifikasi diri sebagai penganut Kristen Ortodoks; angka ini turun dari sekitar 80 pada 15 tahun yang lalu.

Namun, sejumlah pendeta dan pakar agama mengatakan kepada CNN bahwa hanya sekitar 2 dari umat Ortodoks yang telah dibaptis di Rusia yang secara rutin menjalankan ibadah mereka—sebuah angka yang didukung oleh data Kementerian Dalam Negeri Rusia mengenai tingkat kehadiran dalam kebaktian Natal Ortodoks.

Meski demikian, sebuah prosesi keagamaan tahunan yang dipromosikan oleh kelompok-kelompok sayap kanan dan nasionalis di empat kota Rusia berhasil menarik massa dalam jumlah besar pada bulan September; menurut data resmi, terdapat lebih dari 100.000 peserta di Moskow saja. Di ibu kota tersebut, para jemaat mengarak potongan relikui Donskoy menyusuri jalanan dalam sebuah prosesi yang dipimpin oleh Kirill.

Menurut Zanemonets, yang kini bekerja di Gereja Ortodoks di Amerika (Orthodox Church in America), acara-acara semacam itu terutama bertujuan untuk menunjukkan kepada negara bagaimana gereja "mampu mengoordinasikan massa dalam jumlah besar." Meski demikian, pakar agama dan sejarawan Konstantin Mikhailov menyebut jumlah kehadiran tersebut "hanya setetes air di lautan" di negara berpenduduk lebih dari 145 juta jiwa. Ia berpendapat bahwa masyarakat Rusia—bertolak belakang dengan keinginan negara dan gereja—tetap sangat sekuler.

Demi memperluas pengaruhnya, gereja menerima dana dan dukungan politik dari Kremlin, sementara Kremlin memperoleh legitimasi karena gereja mendukung narasi negara; Mikhailov menyebutnya sebagai siklus yang "saling memperkuat".

Topik Menarik