Media AS: Putin Mungkin Akan Gunakan Bom Nuklir di Ukraina sebagai Upaya Terakhir
Presiden Rusia Vladimir Putin bersiap untuk meningkatkan intensitas perang di Ukraina setelah menyimpulkan bahwa negosiasi untuk kesepakatan damai telah menemui jalan buntu. Bahkan, menurut laporan Bloomberg, dia mungkin akan menggunakan bom nuklir sebagai upaya terakhir.
Laporan media Amerika Serikat (AS) itu mengutip pihak-pihak yang dekat dengan Kremlin.
Baca Juga: Senjata Kiamat Putin Muncul dari Laut, 6 Torpedo Nuklir Poseidon Intai NATO
Sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa untuk saat ini, Moskow sedang mempertimbangkan peningkatan kampanye serangan rudal balistik konvensional yang kuat yang menargetkan pusat kota Kyiv dan infrastruktur di kota-kota Ukraina lainnya.
Sumber-sumber tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas isu sensitif, menggambarkan runtuhnya kerangka negosiasi yang ada, yang secara efektif membuat kedua belah pihak kembali ke titik awal setelah sekitar satu setengah tahun upaya yang dimediasi AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.Putin, lanjut sumber-sumber tersebut, diperkirakan tidak akan mengakhiri konflik akibat sanksi Barat atau serangan Ukraina terhadap kilang minyak, infrastruktur energi, dan jaringan logistik Rusia.Empat orang yang dekat dengan Kremlin menambahkan bahwa Rusia kini melihat sedikit alternatif selain eskalasi lebih lanjut demi mencapai tujuan militernya dan tidak menganggap fase permusuhan saat ini sebagai puncaknya.
Moskow semakin membingkai serangan jarak jauh Ukraina terhadap target energi dan logistiknya sebagai serangan yang secara efektif dilakukan oleh NATO, mengingat anggota aliansi tersebut memasok senjata dan intelijen kepada Kyiv.
Para pejabat Rusia masih memiliki harapan terbatas bahwa kunjungan utusan khusus AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, dapat membawa proposal baru, meskipun harapan akan terobosan diplomatik tetap rendah.
Eskalasi serangan yang terus meningkat membuat semakin banyak pejabat Rusia menyimpulkan bahwa Putin pada akhirnya bisa memilih untuk menggunakan senjata nuklir taktis sebagai upaya terakhir di Ukraina.
"Respons ekstrem dianggap mungkin terjadi karena satu-satunya hasil yang lebih buruk bagi Putin daripada melanjutkan perang adalah kalah dalam perang tersebut," tulis Bloomberg dalam laporannya, Rabu (27/8/2026).Volume pembicaraan dari pihak-pihak garis keras Rusia yang menganjurkan langkah semacam itu telah meningkat baru-baru ini, meskipun media Amerika tersebut menekankan bahwa saat ini tidak ada indikasi Rusia sedang bersiap untuk meluncurkan serangan senjata nuklir.
Senjata nuklir taktis, yang umumnya memiliki hulu ledak dengan daya ledak lebih rendah dan jangkauan lebih pendek dibandingkan senjata strategis, dirancang terutama untuk penggunaan di medan perang, bukan untuk penghancuran kota. Kemungkinan penggunaan senjata tersebut telah lama menjadi kekhawatiran para pejabat Barat, mengingat Putin berulang kali melontarkan retorika nuklir untuk mencegah pemberian dukungan yang lebih besar bagi Ukraina.
Mitra-mitra Rusia, termasuk China, sangat menentang langkah semacam itu. Sebagian besar pakar menilai risikonya rendah.
Alexander Gabuev, direktur Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin, menyebut kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis sangat kecil. Dia mencatat bahwa senjata semacam itu memiliki kegunaan terbatas di medan perang modern yang tersebar, sementara dampak politik akibat pelanggaran tabu nuklir akan sangat berat.
"Selama Moskow masih memiliki ruang untuk melakukan eskalasi menggunakan senjata konvensional—termasuk dengan mengintensifkan serangan rudal—mereka tidak memiliki banyak alasan kuat untuk melampaui ambang batas nuklir," ujar Gabuev.Fiona Hill, peneliti senior di Brookings Institution sekaligus mantan penasihat bagi tiga presiden AS, mengamati bahwa Putin terus menguji keteguhan sikap Barat. Dia juga mengingatkan kembali peringatan AS sebelumnya mengenai respons militer terhadap setiap serangan nuklir.
Laporan Bloomberg muncul bersamaan dengan kunjungan Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow untuk melakukan pembicaraan antar-badan intelijen—kunjungan yang, menurut konfirmasi Kremlin, tidak mencakup pertemuan dengan Putin.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya sedang berupaya keras untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dan bahwa kunjungan Ratcliffe tersebut mungkin akan membuahkan hasil.






