Rusia Tembakkan Rudal di Dekat Kepulauan Kuril usai Jepang Protes Kunjungan Putin
Angkatan Laut Moskow telah berhasil menguji tembak rudal di dekat Kepulauan Kuril pada Kamis. Kepulauan tersebut telah menjadi sengketa antara Rusia dan Jepang.
Tes rudal ini dilakukan seminggu setelah Jepang melayangkan protes keras atas kunjungan pertama Presiden Rusia Vladimir Putin ke kepulauan tersebut.
Baca Juga: Rusia Ancam Konsekuensi Mengerikan jika Jepang Bersikeras Klaim Kepulauan Kuril
Rusia menyatakan Kepulauan Kuril sebagai wilayahnya. Namun, beberapa wilayahnya juga diklaim oleh Tokyo.
Armada Pasifik Rusia, seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (21/8/2026), mengatakan uji tembak rudal yang berlangsung di dekat wilayah selatan Kepulauan Kuril ini melibatkan kapal penjelajah berpeluru kendali Varyag, kapal selam bertenaga nuklir Omsk, dan sistem rudal Bastion yang berbasis di darat.Mereka menembakkan beberapa jenis amunisi ke arah target yang mensimulasikan kapal musuh pada jarak sekitar 300 km (186 mil), dengan data penargetan yang disediakan oleh penerbangan Angkatan Laut.Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menanggapi manuver rudal tersebut dengan mengatakan kepada wartawan: "Tokyo tidak dapat menoleransi langkah-langkah [Rusia] untuk memperkuat kekuatan militer di empat Pulau Utara karena hal itu bertentangan dengan sikap negara kami [terkait wilayah tersebut]."
Kantor berita Kyodo sebelumnya melaporkan bahwa Jepang telah mengajukan protes kepada Rusia setelah Moskow memberi tahu mereka tentang rencana uji coba rudal tersebut pada minggu lalu.
Pada hari Selasa, Kementerian Luar Negeri Rusia memanggil duta besar Jepang untuk Moskow guna menyampaikan protes keras atas "pernyataan anti-Rusia" yang dilontarkan oleh para pemimpin Jepang.
Setelah Putin mengunjungi Iturup, pulau terbesar di Kepulauan Kuril, pada tanggal 13 Agustus, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut kunjungan tersebut "sama sekali tidak dapat diterima" dan mengatakan hal itu melukai perasaan rakyat Jepang.
Terinspirasi ISIS, Wanita Ini Hendak Mengebom Gedung Capitol New York saat Para Senator Rapat
Motegi juga mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa empat pulau paling selatan di kepulauan tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah Jepang, baik secara historis maupun menurut hukum internasional.Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan telah menyampaikan kepada utusan Jepang bahwa kedaulatan dan yurisdiksi Rusia atas Kepulauan Kuril selatan tidak dapat diganggu gugat.
"Wilayah-wilayah ini diserahkan kepada negara kami setelah Perang Dunia II, sebagaimana tertuang dalam perjanjian-perjanjian terkait dari pihak Sekutu dan Piagam PBB," kata kementerian tersebut.
"Segala upaya pihak Jepang untuk mempertanyakan kenyataan yang jelas ini—baik secara langsung maupun tidak langsung—sama sekali tidak dapat diterima dan tidak sah," imbuhnya.
"Moskow berhak mengambil langkah-langkah balasan yang tepat sebagai tanggapan atas sikap Jepang yang mematuhi sanksi Barat terhadap Rusia serta dukungannya terhadap Ukraina," papar kementerian tersebut.
Kepulauan Kuril, yang membentang dari Kamchatka hingga Hokkaido di Jepang, jatuh ke bawah kendali Uni Soviet setelah kekalahan Tokyo dalam Perang Dunia II dan kemudian dimasukkan ke dalam wilayah Uni Soviet. Namun, pihak berwenang Jepang terus mengeklaim pulau Iturup, Kunashir, Shikotan, dan Habomai—yang mereka sebut sebagai "Wilayah Utara".
Sengketa ini telah menjadi hambatan utama bagi Moskow dan Tokyo untuk menandatangani perjanjian damai resmi selama delapan dekade sejak konflik tersebut berakhir.








