Keseimbangan Kekuatan di Timur Tengah Bergeser setelah Ancaman Krisis Energi dari Iran dan Houthi
Analis Timur Tengah, Luciano Zaccara, mengatakan masih harus dilihat apakah pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mampu memukul mundur pejuang Houthi setelah mereka merebut wilayah-wilayah strategis di sepanjang pantai barat. Pernyataan itu muncul seiring perang yang masih berlanjut antara Houthi dan Arab Saudi.
Ia mengatakan peristiwa dalam sepekan terakhir mencerminkan perubahan dalam "keseimbangan kekuatan" di kawasan tersebut, di mana Houthi mengambil alih kendali Selat Bab al-Mandeb dan serangan Iran membayangi Selat Hormuz.
"Houthi mengatakan mereka tidak akan menutup selat [Bab al-Mandeb] itu, tetapi mereka bisa melakukannya jika mereka mau. Terlepas dari apakah mereka mematuhi perintah Iran atau tidak, Houthi sebenarnya menguntungkan Iran karena mereka menempatkan kedua titik jalur pelayaran vital tersebut dalam situasi yang sama—yaitu dalam bahaya," ujar Zaccara kepada Al Jazeera.
“Arab Saudi sangat terdampak oleh kemajuan wilayah yang dicapai Houthi di Yaman barat, dan kenaikan harga minyak mencerminkan hal tersebut,” tambahnya.
Dia menjelaskan, "Kita melihat rute alternatif [pengiriman energi] yang coba mereka gunakan untuk menghindari Selat Hormuz ternyata tidak 100 persen efektif sebagaimana yang mereka harapkan."Sementara itu, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan mengenai "potensi bahaya" di kota Khamis Mushait dan Abha. Badan tersebut mengumumkan bahaya telah berlalu beberapa menit kemudian.
Beberapa peringatan serupa juga dikeluarkan sepanjang malam di al-Ula, Jeddah, Jizan, Taif, dan Yanbu.
Baca juga: Siapa Houthi Yaman dan Mengapa Berperang Melawan Arab Saudi?










