Siapa Alice Weidel? Pemimpin AfD yang Lesbian yang Membawa Semangat Kembali Hitler di Jerman
Partai sayap kanan jauh Alternative for Germany (AfD) meraih kemenangan telak di negara bagian Saxony-Anhalt, Jerman bagian timur, jauh mengungguli para pesaing arus utama.
Namun, hasil sementara menunjukkan partai tersebut memperoleh 43,8 suara dibandingkan 17,2 yang diraih partai konservatif CDU; angka ini belum mencapai ambang batas mayoritas mutlak yang diperlukan untuk memerintah sendirian. Negosiasi yang rumit mengenai siapa yang akan memimpin pemerintahan negara bagian tersebut kini menanti.
Siapa Alice Weidel? Pemimpin AfD yang Lesbian yang Membawa Semangat Kembali Hitler di Jerman
1. Membawa Semangat Hitler
Alles für Deutschland ("segala sesuatu untuk Jerman") pernah menjadi seruan semangat di era Hitler. Belakangan, slogan ini diadopsi oleh Björn Höcke, seorang petinggi partai sayap kanan Jerman, Alternative für Deutschland (AfD), dalam rapat umum partai—tindakan yang membuatnya sempat dituntut secara hukum.Kemudian pada bulan Agustus tahun lalu, slogan tersebut muncul dalam acara-acara yang dihadiri oleh Alice Weidel, salah satu pemimpin partai, namun dalam bentuk yang sedikit dimodifikasi: Alice für Deutschland. Partai tersebut mencetak kartu berbentuk hati dari bahan karton berwarna biru yang memuat slogan itu dan membagikannya kepada para anggota, yang kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi dalam rapat umum sebagai tanda dukungan.
Politisi berusia 46 tahun ini dianggap sebagai sosok penggerak di balik keberhasilan AfD dalam pemilihan umum bulan lalu. Dalam hasil yang mengguncang peta politik, partai tersebut berhasil melipatgandakan perolehan suaranya menjadi 20,8. Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, sebuah partai sayap kanan kini menjadi kekuatan terbesar kedua di parlemen. Saat Bundestag yang baru terpilih bersidang untuk pertama kalinya pada hari Selasa, partai ini akan menempati tak kurang dari 152 dari total 630 kursi sebagai kekuatan oposisi utama di parlemen baru, tempat Weidel bertekad untuk berhadapan langsung dengan lawan-lawan politiknya di mimbar parlemen.
2. Partai Rakyatnya dan Dipuji Elon Musk
"AfD kini telah mengukuhkan posisinya sebagai partai rakyat," tegas Weidel pada malam pemilihan, seraya berjanji akan "memburu" partai-partai lain yang berada di pemerintahan dan bertekad untuk "meningkatkan kecepatan secara signifikan" (shift up two gears). Di bawah kepemimpinannya, AfD berhasil menarik donasi dari para jutawan Jerman. Menjelang pemungutan suara, ia mendapat pujian dari Elon Musk—yang berulang kali menyebut AfD di platform X miliknya sebagai satu-satunya partai yang mampu menyelamatkan Jerman—serta sempat mengadakan pertemuan empat mata dengan Musk di mana mereka tampak meremehkan era Nazi, bahkan sosoknya sempat muncul di layar dalam rapat umum terakhir AfD sebelum pemilihan.Dalam banyak hal, latar belakang dan kehidupan pribadinya menjadikan sosoknya figur yang tak lazim bagi partai radikal anti-imigrasi yang sedang diawasi oleh otoritas keamanan karena dugaan ekstremisme.
3. Pernah Tinggal di Singapura dan Hong Kong
Sebagai penutur bahasa Mandarin yang pernah tinggal di Singapura dan Hong Kong, ia kini menetap di Swiss bersama pasangannya—seorang wanita kelahiran Sri Lanka—dan anak-anak mereka. Saat berkampanye, ia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan mengenai jumlah penduduk di daerah pemilihan yang ia wakili.Hubungan pribadinya ini bertolak belakang dengan kebijakan AfD mengenai unit keluarga, yang didefinisikan partai tersebut secara ketat dalam kerangka heteroseksual. Partai itu secara eksplisit menolak definisi lain dan telah mengampanyekan penghapusan pernikahan sesama jenis.
"Dia tidak memiliki karakteristik sosiodemografis yang biasanya kita harapkan dari seorang pemilih AfD," ujar Andreas Busch, seorang ilmuwan politik dari Universitas Göttingen. Busch membandingkannya dengan ketua bersama partai lainnya, Tino Chrupalla, yang berprofesi sebagai tukang cat dan dekorator. Menurut Busch, sosok Chrupalla "lebih bersahaja, membumi, dan tidak memiliki pretensi intelektual."
Seorang pendukung AfD mengatakan kepada The Guardian bahwa mereka tidak peduli dengan gaya hidup Weidel, melainkan menilainya berdasarkan pesan-pesan yang ia sampaikan serta "kemampuannya dalam menanggapi kekhawatiran kami dan membuat kami merasa diperhitungkan."
4. Menikah dengan Perempuan
Saat ditanya mengenai pandangannya sendiri, Weidel pernah menyatakan bahwa ia tidak "melihat warna kulit" dan menegaskan, "Saya bukan queer; saya hanya menikah dengan seorang wanita yang sudah saya kenal selama 20 tahun."Dengan ciri khas pakaian turtleneck berwarna krem dan kalung mutiara, Weidel tak diragukan lagi telah membawa nuansa berbeda bagi partai yang saat didirikan pada tahun 2013—sebagai alternatif yang skeptis terhadap Uni Eropa (Euroskeptis) bagi partai konservatif CDU—dipimpin oleh para profesor dan ekonom pria yang sudah berumur. Menurut para analis, citra memegang peranan penting: meskipun partai tersebut semakin condong ke sayap kanan dalam isu imigrasi dan Islam, Weidel entah bagaimana berhasil memperbaiki citra partai tersebut di mata sebagian pemilih."Dia sering kali tersenyum sembari melontarkan retorika yang sangat agresif," ujar Busch, seraya menambahkan bahwa Weidel terkadang mempertahankan ambiguitas yang "berbahaya" demi memperluas daya tarik elektoral AfD.
Di satu sisi, ia dengan antusias mengadopsi istilah "remigrasi"—sebuah konsep sayap kanan jauh yang sangat kontroversial namun samar maknanya, yang umumnya dipahami sebagai deportasi massal terhadap orang-orang kelahiran luar negeri, bahkan mereka yang telah menjadi warga negara melalui naturalisasi.
"Namun, di saat yang sama saat menggunakan istilah tersebut, dia berkata 'tentu saja kita membutuhkan migrasi'," kata Busch. "Ambiguitas kreatif itulah yang memungkinkannya menarik minat berbagai kalangan pemilih. Hal itu... berbahaya, namun juga memiliki daya tarik elektoral."
Sikap yang jauh lebih tegas ditunjukkannya saat merangkul kembali tokoh-tokoh AfD yang sebelumnya sempat dikucilkan akibat paham ekstremisme mereka. Dia telah menyatakan keinginannya untuk menjadikan Höcke—yang pernah dua kali divonis bersalah karena secara sadar menggunakan istilah-istilah Nazi dalam acara politik—sebagai salah satu menterinya. Selain itu, bulan lalu ia menerima Maximilian Krah dan Matthias Helferich—yang sebelumnya disingkirkan akibat komentar mereka terkait Nazi—ke dalam fraksi parlemen AfD.
5. Menembus Tembok Penghalang
Deike Diening, seorang jurnalis Spiegel yang menghabiskan waktu berbulan-bulan mengikuti kegiatan Weidel menjelang pemilihan umum, mengatakan bahwa Weidel menjalankan peran ganda secara bersamaan: ia mempertahankan posisinya di jajaran elit partai dengan cara menoleransi, bahkan merangkul, sayap kanan paling radikal di partai tersebut, sembari tetap menjadi "wajah partai yang relatif ramah bagi masyarakat luas".Setelah berhasil meniru pencapaian elektoral tokoh perempuan sayap kanan jauh lainnya di Eropa—terutama Marine Le Pen di Prancis dan Giorgia Meloni di Italia—Weidel kini menghadapi tantangan untuk memimpin partai yang berada di pihak oposisi menuju tujuan akhirnya, yakni meraih kemenangan pada pemilihan umum berikutnya di tahun 2029.Busch mengatakan: "Prioritas utamanya adalah meraih kekuasaan, dan di situlah letak tantangan terbesarnya saat ini. Pertanyaannya adalah, apakah ia akan terus memfokuskan AfD pada sentimen kebencian dan mempertahankan peran oposisi fundamental, atau apakah pada akhirnya ia tertarik pada peluang meraih kekuasaan, yang mengharuskannya untuk melunakkan retorikanya?"
Dalam jangka pendek, kecil kemungkinan bagi Weidel untuk menembus "tembok penghalang" yang dibangun oleh partai-partai arus utama guna mencegah AfD masuk ke dalam pemerintahan. Namun, jika koalisi pemerintahan yang sulit diatur dan penuh pertikaian kembali gagal membawa Jerman ke arah yang tepat, partainya akan siap mengambil kesempatan pada pemilihan berikutnya.









