Selain dapat Rp529 Juta, Warga Iran yang Membunuh Tentara AS Akan Dianggap sebagai Pahlawan

Selain dapat Rp529 Juta, Warga Iran yang Membunuh Tentara AS Akan Dianggap sebagai Pahlawan

Global | sindonews | Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:10
share

Juru bicara Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia mengatakan bahwa individu yang menangkap atau membunuh tentara AS jika terjadi invasi darat ke Iran akan menerima imbalan tunai sebesar 5 miliar toman—setara dengan sekitar USD30.000 atau setara Rp529 juta —di mana perempuan akan menerima imbalan dua kali lipatnya.

"Setiap anggota angkatan bersenjata atau warga negara kami tercinta yang secara sah memiliki senjata api berburu, dan yang membunuh atau menangkap pasukan AS yang menginvasi jika terjadi serangan darat ke wilayah kami, akan menerima imbalan sebesar 5 miliar toman (USD30.000)," kata Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia.

Ia menambahkan bahwa imbalan tersebut akan dilipatgandakan jika tindakan itu dilakukan oleh perempuan Iran.

Menurut juru bicara Angkatan Darat tersebut, senjata api yang digunakan dalam tindakan semacam itu juga akan dibeli oleh Angkatan Darat dengan harga dua kali lipat dari harga aslinya dan disimpan di museum militer sebagai penghormatan sejarah. Itu menunjukkan siapa yang membunuh tentara AS akan dianggap sebagai pahlawan Iran.

"Senjata itu akan dibeli dengan harga dua kali lipat dan disimpan di museum yang disiapkan oleh Angkatan Darat. Senjata itu akan tetap berada di sana sepanjang sejarah sebagai sumber kebanggaan, dengan mencantumkan nama pemiliknya, dan Angkatan Darat akan memberikan senjata serupa kepada pemiliknya," tambahnya.

AS dan rezim Israel melancarkan gelombang agresi lainnya terhadap Iran pada 28 Februari, sekitar delapan bulan setelah melakukan serangan tanpa provokasi terhadap negara tersebut.

Selama agresi tersebut, AS dan rezim Israel membunuh Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, beserta para komandan militer senior, sementara ribuan warga sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—juga tewas.

Iran segera membalas dengan meluncurkan rentetan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke wilayah-wilayah yang diduduki Israel, serta ke pangkalan dan kepentingan AS di seluruh kawasan.

Eskalasi tersebut pada akhirnya memaksa AS dan rezim Israel menyetujui gencatan senjata pada tanggal 8 April, setelah operasi balasan Iran menimbulkan kerugian besar bagi pihak agresor.Pada tanggal 17 Juni, presiden Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang dan memulai proses diplomatik selama 60 hari guna menyelesaikan perbedaan di antara kedua belah pihak.

MoU tersebut bertujuan untuk mengakhiri perang, namun Washington tak lama kemudian melanggar kesepakatan itu dengan tidak menghormati ketentuan Iran terkait Selat Hormuz.

Jalur perairan yang secara strategis sangat vital itu sebagian besar ditutup selama perang melawan Iran, sehingga sangat mengganggu lalu lintas maritim kawasan dan memberikan tekanan tambahan terhadap pengiriman energi.

Selat tersebut masih ditutup, dan Iran telah menegaskan bahwa mereka tidak akan mengizinkan pembukaannya kembali sampai Amerika Serikat memenuhi tuntutan yang telah diumumkan oleh Teheran.

Topik Menarik