Ini 5 Syarat AS untuk Iran, Salah Satunya Serahkan 400 Kg Uranium
Amerika Serikat (AS) telah menguraikan lima syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Sedangkan Teheran juga masih tetap dengan syarat-syarat utama yang sudah mereka ajukan sebelumnya kepada Washington.
Presiden AS Donald Trump mengancam Iran untuk segera membuat kesepakatan, dengan menyatakan "waktu terus berjalan".
"Mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka," tulisnya di akun Truth Social-nya, @realDonaldTrump. "WAKTU SANGAT PENTING!" lanjut dia.
Baca Juga: Situasi Genting, Iran Juga Siap Perang Lagi Melawan AS dan Israel
5 Syarat AS untuk Iran
Kantor berita Fars yang berbasis di Iran telah menguraikan lima syarat yang diajukan AS untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran. Berikut daftarnya:
1. Iran hanya boleh mengoperasikan satu fasilitas nuklir
2. AS menolak untuk membayar kompensasi atau ganti rugi apa pun kepada Iran
3. Iran harus menyerahkan 400 kilogram uranium yang diperkaya kepada AS
4. AS menolak melepaskan bahkan 25 dari aset Iran yang dibekukan
5. Mensyaratkan penghentian perang di semua lini bergantung pada hasil negosiasi
Sementara itu, syarat-syarat utama Iran belum berubah. Yakni, perang harus diakhiri di semua front— termasuk di Lebanon, mencabut sanksi, melepaskan aset Iran yang dibekukan, memberikan kompensasi atas kerusakan perang, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Laporan lain dari Ynet menyebutkan ancaman agresi dari Amerika dan Israel akan tetap ada bahkan jika Iran memenuhi syarat-syarat Amerika.Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei menuduh AS menggunakan diplomasi sebagai kedok untuk tujuan militer.
Esmail menuduh bahwa AS dan Israel secara keliru mengeklaim bahwa mereka bertindak untuk melindungi perdamaian dan stabilitas di pasar energi global, tetapi pada kenyataannya, mereka bertanggung jawab atas terciptanya ketidakstabilan dan konflik.
"Ini adalah taktik sinis mereka yang sudah biasa: menciptakan krisis dan perang, kemudian meningkatkannya lebih lanjut di bawah panji mulia 'memulihkan stabilitas' dan 'membela perdamaian'. Mereka menciptakan kehancuran dan menyebutnya perdamaian," tulisnya di X, Senin (18/5/2026).
"Kebohongan besar berikutnya yang diluncurkan untuk membenarkan 'perang pilihan' ilegal mereka adalah klaim bahwa mereka 'melestarikan perdamaian dan stabilitas di pasar energi global'," lanjut dia.
"Namun kenyataannya, justru tindakan provokasi perang yang gegabah dari rezim AS dan Israel-lah yang menghancurkan harapan yang ada."Trump baru-baru ini menolak proposal perdamaian 14 poin Iran. Sebagai tanggapan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan bahwa jika AS tidak menerima proposal Iran, para wajib pajak Amerika dapat menanggung konsekuensi yang berat.
Ketegangan meningkat setelah serangan militer gabungan AS-Israel menghantam Iran pada 28 Februari. Setelah serangan tersebut, Iran melakukan serangan balasan yang mengganggu jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Gencatan senjata kemudian disepakati pada 8 April, dengan mediasi dari Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan tidak menghasilkan kesepakatan perdamaian akhir. Gencatan senjata diperpanjang, tetapi tidak ada kesepakatan permanen yang tercapai.










