Sri Mulyani Ajari Menteri Riefky Main Bundengan di Wonosobo

Sri Mulyani Ajari Menteri Riefky Main Bundengan di Wonosobo

Nasional | sindonews | Senin, 2 November 2026 - 22:08
share

Ada momen menarik saat Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya berkunjung ke Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Minggu (1/11/2026). Menteri Riefky diajari cara memainkan alat musik khas Wonosobo: bundengan.

Jari Menteri Riefky Harsya bergerak pelan di antara dawai-dawai bundengan. Di hadapannya, Sri Mulyani, seniman sekaligus pendiri Sanggar Tari Ngesti Laras, memberi petunjuk cara memainkan alat musik tradisional khas Wonosobo itu. Dengan sabar, Mulyani mengajarkan cara memainkan alat musik berbahan bambu yang bentuknya menyerupai cangkang kura-kura itu.

"Susah juga, ya?" kata Riefky.

Jari-jari Riefky mulai mencoba lagi memetik dawai mengikuti petunjuk sang maestro. Sesekali Mulyani membetulkan gerakan tangan sang menteri. Kali ini, petikannya mulai menemukan irama. Dari sudut lain, Ananda Mikola, seorang murid Mulyani, mulai melantunkan suara. Ia bernyanyi mengikuti irama bundengan yang dimainkan sang menteri. Perpaduan petikan dan suara itu seketika mengundang tepuk tangan hadirin.

Adegan sederhana itu memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dan kreativitas bekerja. Di Giyanti, bundengan bukan merupakan alat musik penghubung antargenerasi, sekaligus ruang perjumpaan yang terbuka bagi siapa saja.Baca Juga: Peruri bersama Kementerian Ekonomi Kreatif Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif Nasional

Bundengan punya riwayat yang panjang. Dahulu, alat musik ini merupakan caping penutup kepala yang digunakan para penggembala itik. Dari benda sederhana yang melindungi kepala dari hujan dan panas itu, lahir bunyi-bunyian yang kemudian menjadi bagian dari kesenian khas Wonosobo. Mulyani berusaha memastikan bunyi-bunyian bundengan tak hilang ditelan waktu.

Sejak mendirikan Sanggar Tari Ngesti Laras pada 1992, Mulyani mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan seni tradisional kepada anak-anak. Perhatiannya tak berhenti pada tari Topeng Lengger. Sejak 2015, ia juga tekun memperkenalkan bundengan kepada generasi muda, setelah tertarik mendalami alat musik itu dan belajar langsung kepada maestro bundengan. Pekerjaan itu tidak selalu mudah. Pada awalnya, hanya sedikit anak yang tertarik mempelajarinya. Namun Mulyani terus mengajar, membawa bundengan ke sekolah, sanggar, dan berbagai panggung pertunjukan. Ia bahkan pernah berjalan mengelilingi Alun-alun Wonosobo sambil menggotong bundengan, berharap ada orang yang berhenti untuk mendengarkan.

Kini, usahanya mulai berbuah. Bundengan menjadi bagian dari pertunjukan Topeng Lengger yang dibawakan anak-anak didiknya. Bersama sanggar, ia juga membawa kesenian tersebut ke sejumlah panggung internasional, antara lain di Australia, Thailand, dan Jerman.

Di antara anak-anak yang belajar kepadanya, ada Ananda Mikola. Seni pertunjukan memberinya sesuatu yang dahulu sulit ia temukan: keberanian untuk berdiri di hadapan orang banyak. Sebagai penyandang disabilitas daksa, Ananda pernah merasa berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Mulyani membantunya menemukan jalan untuk mengekspresikan diri melalui seni.Potensi ekonomi kreatif memang tumbuh di Giyanti. Desa yang dikenal dengan tradisi Topeng Lengger, bundengan, dan berbagai kesenian rakyat itu memiliki modal budaya yang kuat. Tantangannya, bagaimana bisa berkembang menjadi produk pertunjukan yang memiliki nilai ekonomi.

Hal itulah yang menjadi salah satu perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif melalui program Aktivasi Desa Kreatif. Di Giyanti, Kementerian Ekraf menghadirkan Workshop Harmoni Seni Pertunjukan. Para pegiat seni diajak mendalami pengemasan pertunjukan, mulai dari koreografi, tata panggung, hingga kostum, tanpa meninggalkan nilai dan pakem tradisi.

Pelatihan tersebut juga menyentuh aspek yang kerap menjadi tantangan bagi komunitas seni di daerah: pemasaran. Para peserta didorong memperkuat kemampuan promosi melalui media digital, membangun identitas pertunjukan, serta membuka peluang kemitraan dan sponsorship.

Aktivasi Desa Kreatif juga diarahkan untuk memperkuat ruang kreatif sebagai tempat masyarakat belajar, berkarya, berinteraksi, sekaligus mempromosikan produk dan potensi lokal.

Selain seni pertunjukan, penguatan kapasitas masyarakat Giyanti juga menyentuh pemanfaatan teknologi. Melalui Workshop SIAP Talenta Jasa TIK bertema "AI sebagai Asisten Usaha: Kerja Lebih Ringkas, Keputusan Lebih Tepat". Sebanyak 50 peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung kegiatan usaha sehari-hari."Di Giyanti, kita melihat bagaimana sebuah warisan budaya bisa terus hidup karena ada orang-orang yang bersedia merawat dan mengajarkannya. Tugas kita memastikan mereka tidak berjalan sendirian. Kita ingin tradisi tetap terjaga, anak-anak muda punya kesempatan mengembangkan bakatnya, dan karya-karya dari desa memiliki jalan untuk dikenal serta memberikan penghidupan bagi masyarakatnya," ujar Menteri Riefky.

Riefky menegaskan, potensi ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar. Desa memiliki kekayaan budaya, kreativitas, sumber daya manusia, dan kearifan lokal yang dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dan dikembangkan secara berkelanjutan.

"Yang kita dorong bukan hanya supaya sebuah desa bisa menampilkan kesenian atau menghasilkan produk kreatif. Lebih dari itu, kita ingin masyarakatnya menjadi pelaku utama, anak-anak mudanya punya ruang untuk berkarya, tradisinya tetap hidup, dan yang paling penting: kreativitas itu bisa menghasilkan nilai tambah serta membuka lapangan usaha."

Riefky berharap Aktivasi Desa Kreatif memperkuat kemandirian komunitas dan membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan, dengan melibatkan masyarakat, sanggar, pemerintah desa, pemerintah daerah, hingga jejaring pelaku industri kreatif. "Jangan sampai suatu hari kita hanya bisa menceritakan bahwa dulu Wonosobo punya bundengan, dulu ada Topeng Lengger, dan dulu anak-anak belajar gamelan. Kita ingin kesenian itu tetap dimainkan hari ini, dipelajari anak-anak esok hari, dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Kita ingin membangun mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari desa, dari daerah," ujar Riefky.

Topik Menarik